Global-News.co.id
Gaya Hidup

Siap Tak Siap, Guru Harus Siap

Simulasi PTM terbatas di Kota Surabaya. Siap tidak siap, guru harus siap melaksanakan.

SURABAYA (global-news.co.id) – Merespon kebijakan pemerintah yang memulai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas pada tahun ajaran baru Juli 2021, Dewi Larasati mengaku siap menjalankan. “Siap tidak siap, ya harus siap. Apalagi sebagian besar dari kami sudah vaksin. Kami siapkan prokes (protokol kesehatan) sebaik-baiknya,” ujar guru SMPN 21 Surabaya ini dihubungi, Rabu (31/3/2021).

Diakui, soal peserta didik mengikuti PTM atau tidak, diserahkan sepenuhnya pada orangtua siswa. “Mereka mengizinkan anaknya ikut sekolah atau gak, ada pernyataan tertulis yang mereka isi dan bermaterai,” ujarnya.

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar secara terbatas itu pun dilaksanakan secara bertahap. Mata pelajaran yang diajarkan hanya beberapa dulu agar mereka tidak kaget, karena para siswa harus beradaptasi lagi setelah sekian lama belajar secara daring di rumah. “Karena murid pakai masker, maka pada saat-saat tertentu mereka akan diminta untuk menghirup udara bebas bergantian. Tapi tetap di dalam kelas, tidak boleh keluar kelas. Istirahat juga di dalam kelas, siswa harus membawa bekal sendiri karena kantin tutup. Usai belajar, mereka tidak boleh bergerombol di sekolah, harus langsung pulang dijemput orangtuanya masing-masing,” terang Dewi.

Seperti para orangtua siswa, lanjutnya, para guru juga khawatir pada Corona. “Kami juga manusia, juga takut Corona. Kalau ada murid, kami khawatir tidak bisa menjaga diri kami, murid kan masih posisi tahan  Corona. Mereka bisa jadi OTG (orang tanpa gejala), bisa nulari kami yang rentan,” kata Dewi yang sudah melaksanakan vaksinasi Covid-19 dua tahap.

Diakui sebagai guru dia juga kangen dengan guyonan murid-muridnya. Dewi menyebut muridnya sebagai pribadi-pribadi yang unik dan menarik. Bukan berarti saat melaksanakan pembelajaran jarak jauh garing, tak ada guyonan. “Online juga bisa guyon. Suatu kali saya curiga dengan salah satu siswa. Terlihat di layar komputer saya dia ‘usrek’. Begitu saya minta berdiri, lhadalah ternyata atasnya pakai seragam rapi berdasi, bawahannya celana kotak-kotak. Ketawa bareng kita, guru dan murid,” kisah Dewi.

Kendati tidak memakai celana seragam, Dewi tak merasa perlu memarahi siswanya. “Ikut vicon (video conference) aja sudah bagus. Mereka kan juga harus modal paketan bagi yang tidak ada jaringan wifinya. Seragam itu untuk menciptakan suasana belajar agak sakral dan menjadi  pembiasaan, biar nantinya nggak kaget saat masuk sekolah,” lanjutnya.

Berbeda dengan Dewi yang sekolahnya akan memulai PTM terbatas pada Juli mendatang, sekolah tempat Titik Surya Pamukti mengajar dan sekolah-sekolah lain di Kota Mojokerto telah melaksanakan PTM sejak awal Maret. “Kecuali sekolah yang dibawah naungan Kemenag dan satu sekolah swasta TNH yang baru akan mengadakan PTM pada Juli. Sekolah-sekolah yang sudah buka sejak Maret itu disyaratkan per kelasnya hanya diisi 50% atau 20 siswa saja. Selain itu bangku didesain sedemikian rupa sehingga siswa tidak bisa berdekat-dekatan duduknya. Ya semacam ‘dikurung’,” kata Titik, guru SD Islam Plus Al Azhar.

Diakui tak ada keraguan di kalangan orangtua siswa saat mulai dilaksanakan pembelajaran offline. “Istilahnya gas pol, mungkin mereka para orangtua juga jenuh ya karena harus ikut membantu anak-anaknya sekolah. Sedang kami para guru tak henti untuk mengingatkan mereka menjaga protokol kesehatan. Istilahnya sampai mulut ini meniren,” kata Titik.

Dalam PTM tersebut, kelas Titik dibagi dua gelombang pembelajaran.  Sebanyak 12 siswa masuk pukul 07.00 dan pulang pukul 09.30. Gelombang berikutnya masuk pukul 10.00 hingga 12.30.

Diakui durasi pembelajaran itu tidak efektif. “Karena semester 2 ini materinya hanya mengulang, kegiatan PTM ini setidaknya bisa menyenangkan siswa yang mungkin sudah bosan sekian lama belajar di rumah. Dan supaya menikmati kegiatan PTM, materi yang diberikan bukan materi umum, melainkan ada ngaji dan hafalan juz amma,” ungkapnya.

Karena itulah, lanjut Titik, agar kegiatan belajar bisa efektif, sekolahnya tetap menyelenggarakan kegiatan belajar secara daring sesuai ketentuan pemerintah. ret

baca juga :

Penulis Lupus, Hilman Hariwijaya Meninggal Dunia

Pelajar Surabaya Raih “Grand Winner Indonesian Kids of The Year 2022”

Redaksi Global News

Aktris Rima Melati Meninggal Dunia pada Usia 84 Tahun