Global-News.co.id
Gresik-Sidoarjo-Mojokerto Utama

Semangat Belajar Abaikan Serunya Tayangan TV

 

Sukses Desa Pendidikan Berkat Komitmen Keluarga

GN/Gatot Susanto Sejumlah palng berisi pengingat akan pentingnya pendidikan di sejumlah titik desa.
GN/Gatot Susanto
Sejumlah plang berisi pengingat akan pentingnya pendidikan di sejumlah titik desa.

Pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan atau dinas pendidikan. Namun juga menjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat. Salah satu wujud pendidikan tanggung jawab keluarga dan masyarakat antara lain program desa berwawasan pendidikan di Kabupaten Gresik.

LAPORAN GATOT SUSANTO

NUR FAKIH, Sekretaris  Dewan Pendidikan Kabupaten Gresik, Jawa Timur, bangga dengan keberhasilan Desa Lowayu, Kecamatan Dukun dan Desa Sidomulyo Kecamatan Sidayu, menjadi proyek percontohan desa berwawasan pendidikan di Kota Santri ini. Selanjutnya keberhasilan itu akan dikembangkan ke desa-desa lain. “Kami berencana mengembangkan ke 16 desa lain,” katanya kepada Global News, Rabu 8 Maret 2017.

Membangun desa berwawasan pendidikan bukan perkara mudah. Sebab program ini harus dilakukan secara serius, melibatkan komitmen semua pihak khususnya warga masyarakat dan keluarga yang harus dikerjakan secara berkelanjutan. Perangkat desa terutama kepala desa  harus menjadi motor utama untuk mensukseskan program desa pendidikan ini.

“Jadi desa berwawasan pendidikan ini harus dikerjakan oleh semua kekuatan di desa. Masing-masing keluarga, ormas, LSM, pemuda dan semua institusi desa harus terlibat total bukan parsial. Ini bukan sekadar proyek sekali jadi, tapi harus dijaga terus, dengan aturan harus ditegakkan pula secara bersama-sama,” kata mantan wartawan Harian Surabaya Post ini.

Inti dari program ini adalah menyadarkan keterlibatan warga dan keluarga dalam mengurus pendidikan. Selama ini masyarakat belum memahami sebagai kelompok pendidik yang turut mempengaruhi masa depan pendidikan anak-anak. Sebab apa yang dipraktikkan warga masyarakat berpengaruh besar pada pola pikir dan perilaku anak-anak, karena apa yang didengar dan dilihat akan diingat dalam memori anak dalam waktu yang relatif cepat. ”Selama ini, masyarakat belum menunjukkan perilaku yang mendidik, apalagi saat ini masyarakat sudah menjadi individualistis, tidak memikirkan orang lain,” katanya.

Kepedulian terhadap masa depan anak-anak itu tidak bisa dipikirkan oleh satu orang tetapi harus bersama-sama. Contoh saja, jika ada seorang anak tidak sekolah, harus dicari penyebabnya dan bersama-sama dicarikan solusinya. Begitu pula jika anak yang terlibat tindak kriminal harus dicari penyebabnya dan harus pula dicarikan solusinya bersama-sama. ”Hal ini juga berlaku pada orang dewasa yang ‘nakal’ harus dididik bersama-sama agar bisa menjadi orang tua yang bisa ditauladani anak,”ujarnya.

Begitu pula pada pendidikan keluarga. Bila masing-masing keluarga istiqomah dan memiliki keyakinan kuat bahwa pendidikan keluarga adalah pertama dan utama, kata dia, pasti desa pendidikan akan berhasil. Indikasi keberhasilan bukan saja ditentukan oleh banyaknya warga yang sukses meraih gelar pendidikan formal, tapi juga dilihat dari akhlak masyarakat, khususnya perilaku para pelajar dan pemudanya.

“Keluarga bagian dari masyarakat desa. Kalau keluarga mendukung penuh program desa berwawasan pendidikan, pasti tak ada masalah di masyarakat. Misalnya, ada anak yang keluyuran lalu diamankan oleh petugas patroli pendidikan, orang tuanya jangan sampai marah. Begitu pula bila ada anak saat jam belajar ditegur saat cangkruk di warkop. Teguran atau hukuman sudah disepakati bersama warga desa,” katanya.

Bukan hanya di luar rumah, kata Ketua Dewan Pendidikan Ali Affandi, bila ada anak ketahuan masih menonton televisi pada jam belajar yang disepakati, yaitu pukul 18.00 sampai 20.00 WIB, tim pengawas akan mencatat. Selanjutnya  disampaikan lewat koordinator guna merumuskan “hukuman” pada yang bersangkutan. “Teguran diberikan ke wali murid dan warga tersebut,” katanya.

Menurut Nur Fakih, teguran bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Teguran bersifat pembinaan, bukan sanksi atau hukuman, seperti yang diberikan pada pelaku kejahatan. “Mereka harus tahu saja bahwa anak dan pendidikan adalah aset yang sangat penting, bagi keluarga sendiri, masyarakat, dan bangsa-negara, ” ujarnya.

Ahmad Misbah, warga yang juga inisiator program ini, mengatakan, sebelumnya telah dilakukan uji coba dengan menyelenggarakan lomba antar RT. Yakni menerapkan jam belajar pada pukul 18.00 hingga 20.00 setiap hari. Belajar dilakukan di beberapa tempat dengan bimbingan para relawan pendidikan dari berbagai profesi.

“Para tenaga relawan berasal dari Desa Lowayu sendiri. Juga telah membuat beberapa media yang berfungsi menyemangati masyarakat dalam mendukung program ini,” katanya.

 

Abaikan Tayangan  TV

Hal serupa dilakukan warga Desa Sidomulyo Kecamatan Sidayu. Desa ini dipilih sebagai desa pendidikan karena angka buta hurufnya nyaris nol persen. Bahkan catatan di kantor desa, penduduk Desa Sidomulyo yang menyelesaikan pendidikan Sarjana Strata 1 sebanyak 151 orang.

Bahkan 11 di antaranya telah menyelesaikan pendidikan megister dari jumlah penduduk sebanyak 967 orang. Kini desa ini tengah menuju desa bebas buta haruf. Untuk itu ada petugas yang diberi nama satgas pendidikan berpatroli keliling desa setiap harinya.

Bukan hanya itu, pengurus desa juga telah menyiapkan aturan untuk ditaati warganya. Misalnya Peraturan Desa (Perdes) yang menguatkan peran serta masyarakat dengan  membuat jadwal jam wajib belajar. Dalam pelaksanaannya berupa tanda sirine yang berbunyi doa belajar. Sirine ini berbunyi setiap hari mulai pukul 18.00– 20.00 untuk anak sekolah.

Sirine sebagai tanda awal belajar pukul 18.00 WIB. Saat mendengar bunyi sirine ini, warga pun kompak mematikan televisi. Selanjutnya semua siswa belajar hingga pukul 20.00 WIB. Kegiatan bermain anak-anak atau untuk membantu orang tuanya dilakukan di luar jam tersebut.

“Meski ada acara TV yang bagus, misalnya sinetron India di ANTV seperti Archana Mencari Cinta, Gopi,  Anandhi, dan Geet, atau sinetron lokal yang bagus, tetap saja televisi harus dimatikan. Cerita sinetron India itu makin seru, ibu-ibu sangat suka, tapi sekarang mereka mau mengalah demi anak-anaknya dan sukses program desa pendidikan ini,” katanya.

Semua itu dasar untuk mengubah desa jadi berwawasan pendidikan. Kesadaran masyarakat menjadi penting agar menjadi budaya pendidikan. “Kultur pendidikan ini yang sangat mahal. Sebab bila tidak dilakukan proses penyadaran akan ada saja yang menentang,” katanya.

Selanjutnya tinggal menambah sarana pendidikan. Misalnya, menyediakan tempat bermain dengan tema pendidikan di taman desa, perpustakaan keluarga, perpustakaan desa, menambah koleksi buku, menyediakan guru mengaji–membaca Al Quran–di masjid/musala, hingga merumuskan materi belajar-mengajar sendiri yang disinergikan antara pendidikan sekolah formal, pendidikan diniyah, plus materi pelatihan untuk menambah skill pemuda desa yang disediakan oleh pemerintahan desa.  Sebab  bagaimana pun pelatihan keterampilan sangat penting bagi warga agar mandiri.

Menurut Nur Fakih, pihaknya juga akan membuat kawasan pendidikan. Kawasan ini akan berisi stan-stan lembaga pendidikan non-formal seperti tempat bimbingan belajar atau kursus dari berbagai disiplin ilmu. Dia mengaku meniru desa bahasa Inggris di Pare, Kediri, hanya saja konsepnya untuk semua materi pelajaran.

“Anak yang suka bahasa Inggris bisa belajar di stan A, yang suka matematika di stan B, Fisika di stan C, dan seterusnya. Kamis yakin akan semarak,” katanya.

Kawasan pendidikan ini penting sebab selama ini Gresik marak dengan warung kopi (warkop).  Bahkan ada warkop dengan menu kopi pangkong yang konotasinya negatif. Selama ini warkop juga banyak dikunjungi siswa. Bahkan ada yang masih berseragam sekolah. Mereka cangkruk sambil bermain internet mengingat warkop menyediakan wifi gratis. Kelak baik di desa pendidikan maupun kawasan pendidikan ini  tidak ada warkop yang semacam itu. “Warkop pun harus pula ikut berwawasan pendidikan,” katanya. *

baca juga :

Jokowi dan Sejumlah Pemimpin Dunia Beri Selamat atas Pelantikan Biden-Kamala

Redaksi Global News

Pembebasan Lahan Tol Sumo Diharapkan Rampung 3 Bulan Mendatang

Redaksi Global News

Hari Pertama Kerja, Eri Cahyadi Pantau Vaksinasi Lansia dan Screening Donor Plasma Konvalesen

Titis Global News