Global-News.co.id
Utama

Ada Pelajaran Seni Berbahasa Arab di Antara Joke Raja Salman

Kisah Para Penerjemah Pertemuan Presiden Jokowi-Raja Salman

GN/Istimewa Muchlis Muhammad Hanafi saat bertugas sebagai penterjemah Raja Salman dan Presiden Joko Widodo, beberapa waktu lalu.
GN/Istimewa
Muchlis Muhammad Hanafi (tengah) saat bertugas sebagai penterjemah Raja Salman dan Presiden Joko Widodo, beberapa waktu lalu.

Joko Widodo tak fasih berbahasa Arab. Begitu pula Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, tak bisa menggunakan Bahasa Indonesia. Maka peran penerjemah guna melancarkan komunikasi di antara keduanya sangat penting. Setidaknya ada tiga penerjemah yang semua mengaku bangga menjadi bagian dalam kunjungan bersejarah Raja Salman ke Indonesia. Tiga orang itu juga melihat langsung sisi humoris Sang Raja.

 

ADALAH Muchlis Muhammad Hanafi yang akhir-akhir ini juga jadi sorotan media. Ya wajah pria ini muncul di media selalu tepat berada di tengah agak ke belakang antara Raja Salman dan Presiden Jokowi. Saat berada di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Muchlis terlihat mengenakan setelan jas rapi lengkap dengan dasinya.

Saat Raja Salman turun dari eskalator pesawat, Muchlis langsung mendampingi Jokowi. Ketika Raja Salman diperkenalkan kepada delegasi Indonesia, Muchlis selalu berada di sebelah Jokowi.

Lalu di Istana Bogor, Muchlis juga tak bisa jauh-jauh dari Jokowi. Dia-lah penyambung informasi di antara kedua kepala negara tersebut. Tugas ini sepintas mudah, tapi kadang sulit. Tapi begitulah seninya profesi penerjemah. Misalnya saat Raja Salman mencoba bercanda mencairkan suasana dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor pada Rabu (1/3) lalu. Saat itu, sang raja menyebut istilah ‘saudara setan’ sambil menunjuk kerumunan fotografer.

“Itu saudara-saudara setan,” kata Raja kepada Jokowi seperti dituturkan Muchlis Hanafi ketika ditemui di Jakarta Timur, Senin (6/3) lalu. Candaan Raja Salman itu harus diinterpretasikan dulu oleh Muchlis sehingga dimengerti dan disambut tawa oleh Jokowi.

Candaan itu muncul karena Raja Salman sangat heran dengan kerumunan pewarta yang selalu berdesakan saat mengabadikan dirinya di setiap tempat. Muchlis sebelumnya harus memutar otak dulu untuk menerjemahkan pernyataan Raja Salman soal “saudara setan” itu untuk kemudian disampaikan ke Jokowi.

“Itu salah satu seni dalam menerjemahkan. Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, saya mengatakan (ke Jokowi), jika ada sebagian ulama dalam pandangan Islam mengatakan bahwa fotografi itu haram. Cepat saya sampaikan dan Pak Jokowi langsung tersenyum, dan tertawa,” kata Muchlis.

Jokowi dan beberapa pengawal yang dekat dengan mobil Raja Salman ikut tertawa mendengar candaan yang seketika mencairkan suasana formal di Istana Bogor tersebut. Sisi humoris Raja Salman ini tidak pernah terbayangkan oleh Muchlis. Sebelumnya, Muchlis mengira Raja Salman adalah sosok yang sangat serius.

“Sebelum bertemu Raja, saya pernah berpikir Raja adalah orang yang sangat serius, suasana akan menegangkan, angker. Tetapi setelah bertemu, anggapan itu hilang, Beliau sosok yang merakyat, humanis dan humoris,” ujar pria bergelar doktor di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, itu.

Dikutip dari Jakarta.go.id, Muchlis adalah ulama Betawi berusia muda yang dikenal sebagai pakar tafsir Al-Quran. Saat ini dia menjabat sebagai Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran (LPMQ) Balitbang-Diklat Kementerian Agama.

Selain itu, Muchlis juga mengajar di program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia juga menjabat sebagai seorang Manajer Program di Pusat Studi Al-Quran (PSQ) dan Konsultan Kerjasama Luar Negeri (Timur Tengah).

Muchlis merupakan lulusan dari Universitas Kairo di Mesir. Pada usia 35 tahun, putra pasangan H. Muhammad Hanafi dan Hj. Siti Cholis ini sudah berhasil meraih gelar doktor dari Universitas Al Azhar, Kairo.

Sejak kecil Muchlis memang dididik oleh ayah dan ibunya dengan pendidikan Islam. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, setelah pulang sekolah, siang hari dia mengaji di sebuah madrasah. Selepas Maghrib sampai waktu Isya, dia mengaji khusus Al-Quran.

Setelah lulus sekolah dasar, Muchlis melanjutkan pendidikan ke KMI (Kulliyatul Muallimin al-Islamiyyah) Pondok Modern Gontor. Setelah mendapat izin orang tua pada tahun 1983, dia mengikuti tes masuk ke Pondok Modern Gontor dan akhirnya lulus.

Selepas “nyantri” di KMI Pondok Modern Gontor selama enam tahun (Tsanawiyah dan Aliyah), Muchlis kemudian memperdalam ilmunya dengan “nyantri” di Pesantren Tinggi Ilmu Fiqih Bangil (1989-1990) dan PP. Tahfizh al-Quran Sunan Pandanaran, Yogyakarta (1990-1992).

Selama tiga belas tahun (1992-2006), Muchlis Hanafi baru secara serius mematangkan studinya dalam bidang Tafsir Al-Quran di Universitas Al-Azhar, Kairo, Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu Al-Quran.

 

Inspirasi Bahasa Arab

 

Selain Muchlis, ada M. Sahrul Murajjab yang juga mengungkap sisi humoris Sang Raja. Sebelum menyaksikan acara penandatangan sejumlah nota kesepahaman oleh para menteri terkait, Presiden Jokowi dan Raja Salman terlibat pembicaraan tete a tete (empat mata) di salah satu ruangan di Istana Bogor, Rabu (1/3/2017). Di ujung pembicaraan, Raja Salman kembali melontarkan joke yang membuat Presiden Jokowi dan beberapa menteri tertawa.

Tepatnya candaan itu, menurut M. Sahrul Murajjab yang menjadi penerjemah Presiden Jokowi, terucap ketika kepala protokol Istana membuka pintu sebagai isyarat pertemuan empat mata harus diakhiri untuk berlanjut ke agenda berikutnya.

“Saya tahu yang mulia Presiden tak bisa menolak permintaan kepala protokol,” kata Raja Salman seraya tersenyum seperti diceritakan Syahrul, Senin (6/3/2017) malam. “Dia itu seperti seorang istri yang permintaannya sulit ditolak para suami,” imbuh sang Raja sembari berdiri.

Mendengar joke tesebut, tak cuma Jokowi yang tertawa, Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi pun ikut tertawa. “Raja Salman memang sosok istimewa. Seiring keramahannya sesekali beliau suka melontarkan lelucon,” ujar Sahrul.

Bagi sarjana bidang Studi Keislaman dan Bahasa Arab dari Tripoli, Libya, itu menjadi penerjemah dalam pertemuan antara Jokowi dan Raja Salman bukanlah yang pertama kalinya. Pada pertengahan September 2015, dia satu-satunya interpreter yang dipercaya mendampingi Jokowi saat melakukan kunjungan ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

Sahrul mengawali karier di Kementerian Luar Negeri pada 2007. Sebelumnya dia menjadi staf lokal di KBRI di Tripoli-Libya sejak 2005. Alumnus Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur ini juga pernah magang di KBRI Riyadh selama tiga bulan, dan menjadi diplomat di Amman, Yordania. Berbekal pengalaman itu tak heran bila kemampuan bahasa Arab suami dari Santy Martalia Musa itu tergolong mumpuni.

Toh begitu, Sahrul dengan rendah hati menyatakan kesempatannya menjadi penerjemah Presiden sejatinya bukan capaian yang layak dipuji secara berlebihan. Ada banyak orang yang jauh lebih hebat baik di bidang penerjemahan maupun hal lainnya. “Semoga apa yang saya lakukan saat ini menginspirasi mereka yang tengah mempelajari bahasa Arab, bahwa itu amat bermanfaat bagi pengembangan karier kita,” ujarnya.

Dia tak menampik bila kemunculannya sebagai penerjemah untuk Presiden, membuat jumlah permintaan pertemanan di facebooknya melonjak hingga ratusan orang. Dia pun berupaya untuk tidak menolak siapa pun untuk menjadi temannya. “Ya meskipun saya tidak yakin bisa merawatnya karena tidak terlalu aktif di dunia FB,” tutur lelaki kelahiran Batang, 23 Juni 1979 ini.

 

Gontor Tiada Duanya

 

Lain lagi kisah Unsil Habib. Pria kelahiran Tangerang 57 tahun yang lalu ini, selama kunjungan Raja Salman ke Indonesia, berperan sebagai penerjemah dalam acara-acara penting, antara lain dialog antara tokoh-tokoh Islam Indonesia dengan Raja Salman, acara “Afternoon Tea” antara Raja Salman dan Presiden Joko Widodo, pertemuan Raja Salman dengan tokoh lintas agama Indonesia, dan lain-lain.

Unsil Habib memang layak menjadi penerjemah para kepala negara. Maklum, pengalaman dan waktu pembelajarannya panjang. Lulus dari Pondok Modern Gontor Ponorogo pada 1980 – angkatan ini disebut Sosyc (students of sixth year class)–, Unsil Habib melanjutkan studi di Universitas Islam Madinah. Ilmu bahasa Arab yang paling berpengaruh dalam hidupnya dia dapat dari Universitas Islam Madinah dan Pondok Modern Gontor. “Tapi Gontor tiada duanya,” kata bapak 4 anak dan kakek 1 cucu ini, Senin, 6 Maret 2017.

 

Riwayat pekerjaan Unsil Habib juga selalu tak jauh dari penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Usil Habib merintis pekerjaan sebagai karyawan Musi Holiday Travel Service pada 1986-1987, lalu menjadi karyawan Al-Rajhi Banking, Saudi Arabia pada 1987-1989, sebelum kemudian menjadi staf lokal Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh dari tahun 1990 sampai sekarang.

Selama bekerja di KBRI Riyadh, Unsil Habib pernah bekerja sebagai staf bidang tenaga kerja (1990-1993), sekretaris pribadi Duta Besar RI  (1993-1996), staf bidang penerangan, sosial, budaya (1996-1997), sekretaris Wakil Kepala Perwakilan RI (1997-2000), dan staf bidang politik (2000-sekarang).

Banyak pejabat RI yang pernah didampingi Unsil Habib dalam komunikasinya dengan pejabat-pejabat Kerajaan Arab Saudi. Mereka antara lain Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu, Menteri Tenaga Kerja RI Hanif Dhakiri dan lain-lain. * det/kum/tmp

 

 

 

 

 

 

 

baca juga :

Polresta Sidoarjo Asah Kepedulian Anggotanya Melalui Zakat

gas

Semen Indonesia Gelar Pesta Rakyat hingga 1 Januari 2018

Redaksi Global News

Berikan Bansos untuk MBR, Pemkot Surabaya Anggarkan Lebih dari Rp 3 Miliar

Redaksi Global News