Global-News.co.id
Cahaya Ramadhan Mancanegara Utama

Israel Mbalela Tolak Resolusi DK PBB, Isu Gaza Bikin Banyak Warga AS Masuk Islam

Dr Natarianto Indrawan

OKLAHOMA (global-news.co.id) – Muslim di Amerika Serikat (AS)–termasuk dari kalangan diaspora Indonesia– semakin gencar menekan Kongres atau DPR di bulan Ramadhan ini. Tujuannya agar DPR AS lebih serius membantu warga Palestina. Kaum muslim terus menerus mendesak perwakilan dari masing-masing negara bagian di Kongres agar segera menghentikan agresi militer Israel di Gaza.

Kini kabar gembira juga datang dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) di New York yang menyetujui Resolusi Gencatan Sejata di Gaza. Baik muslim di Amerika, Palestina, maupun di negara-negara lain menyambut gembira keputusan DK PBB tersebut. Kecuali Israel yang sudah menyatakan “mbalela” tidak menggubris Resolusi DK PBB tersebut.

Gencarnya perjuangan muslim AS mengangkat isu Gaza ini ternyata juga membuat Allah SWT membukakan pintu hidayah bagi warga lokal untuk masuk Islam. Bahkan banyak warga Yahudi juga menggelar aksi demonstrasi menentang penjajahan yang dilakukan Zionis Israel di Palestina.

“Kami terus melakukan berbagai upaya untuk menekan Kongres atau perwakilan di masing-masing wilayah kita, agar isu di Gaza menjadi perhatian serius. Tujuannya, agar agresi militer Israel di Gaza bisa segera dihentikan. Semua muslim di sini kompak. Hampir setiap hari kita kontak telepon, titip pesan pada anggota Kongres, di seluruh negara bagian, kita bergerak semua. Dan banyak sekali hasilnya. Dampaknya luar biasa terasa,” kata diaspora Indonesia di Oklahoma Amerika Serikat, Dr Natarianto Indrawan, kepada Global News, Rabu (27/3/2024).

Salah satu dampak itu, kata praktisi dan mantan peneliti hidrogen Departemen Energi Amerika Serikat ini, semula para senator di DPR Amerika itu menganggap remeh isu kekejaman Israel atas rakyat Gaza. Perang yang membuat puluhan ribu rakyat Gaza meninggal dunia, puluhan ribu lain mengungsi, tidak punya rumah dan kelaparan hingga terancam kamatian massal, dianggap bukan masalah serius.

“Mereka anggap isu Gaza tidak terlalu serius, tapi sekarang mereka semakin peduli dan mau mempelajari soal kondisi di Gaza. Mulai latar belakang penjajahan Israel di Palestina dan urgensinya kenapa harus segera dihentikan. Terutama karena Amerika termasuk donatur terbesar dalam pengiriman senjata ke Israel. Umat Islam di Amerika ingin menghentikan pasokan senjata ke Israel tersebut. Ini kita lakukan secara terus menerus sejak dua bulan sebelum Ramadhan. Semua kontak dengan anggota Kongres yang mewakili negara bagiannya. Kenapa ini kita lakukan? Sebab selama ini berita-berita yang mereka (anggota Kongres) terima berasal dari agen-agen pendukung Zionis. Berita yang tentu saja menguntungkan Israel dan menyudutkan Palestina. Itu yang melekat dalam pemikiran orang awam di Amerika Serikat. Misalnya, berita soal HAMAS yang melakukan agresi pertama kali, dan banyak sekali berita yang dibuat-buat untuk kepentingan Israel. Dan itu yang kita counter terus,” katanya.

Alhamdulillah. Usaha kaum muslimin di Amerika Serikat berhasil. Adanya counter-counter tersebut akhirnya membuat banyak orang Amerika, tidak hanya secara umum, tapi juga orang-orang yang masuk top senior official, mulai sadar.

“Allah SWT memberikan hidayah atau petunjuk juga pada top-top senior official ini. Bahkan sebagian besar di antara mereka pindah menjadi bagian dari kaum muslimin. Salah satunya mantan jurnalis terkenal Amerika Serikat, Shaun King, yang mengucapkan syahadat, menjadi mualaf beberapa hari yang lalu di Dallas,” katanya.

Dilansir Middle East Monitor, Rabu (13/3/2024), Shaun King dan istrinya Rai King mengucapkan syahadat di hadapan imam terkenal AS, Dr Omar Suleiman, di Valley Ranch Islamic Center di Dallas, Texas, AS. King yang merupakan mantan pendeta berusia 44 tahun itu dikenal karena advokasinya terhadap gerakan Black Lives Matter (BLM). King secara khusus blak-blakan mengenai penderitaan rakyat Palestina, terutama mereka yang berada di Gaza yang terus digempur pasukan Israel.

Ada hikmah dari cobaan berat yang dialami rakyat Gaza. Kondisi itu melahirkan berbagai kesempatan bagi kaum muslimin di seluruh dunia, khususnya di Amerika Serikat, untuk menyuarakan kebenaran yang dialami rakyat Palestina.

“Kita menyuarakan kebenaran di Gaza. Sebagian hasilnya dapat menjadi petunjuk bagi kawan-kawan lokal di sini. Ya, ini mungkin skenario yang dibuat dari Allah SWT yang kita ambil hikmahnya menjadi kesempatan untuk kita semua di sini. Dan kita terus membantu doa, donasi, dan segala upaya untuk disalurkan kepada saudara-saudara kita di Gaza,” katanya.

Kaum muslim, kata dia, yakin insya Allah suatu saat di Amerika akan semakin banyak lagi kaum Yahudi yang mendukung Palestina merdeka. “Banyak Yahudi yang mendukung Palestina. Mesti kita bedakan antara Yahudi dan Zionis. Di sini banyak sekali warga Yahudi yang ditangkap karena mereka melakukan protes atas apa yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina. Kemarin ada mantan tentara yang demo membakar dirinya di depan gedung Kedutaan Israel di Washington DC. Mantan anggota angkatan udara Amerika Serikat itu meninggal dunia. Dan banyak sekali warga negara Amerika Serikat yang semula memasang bendera Israel tapi sekarang menurunkan bendara Israel itu. Mudah-mudahan ini skenario atas izin Allah SWT bisa berjalan dengan baik, di mana sekarang di Amerika kita temukan banyak sekali perubahan, khususnya untuk melawan gerakan Zionis yang sampai sekarang masih mendominasi Kongres Amerika Serikat,” kata Dr Indrawan.

Seperti dikutip dari AFP, seorang anggota Angkatan Udara AS meninggal setelah melakukan aksi bakar diri di luar kedutaan besar Israel di Washington DC pada hari Minggu (25/2/2024) untuk memprotes perang di Gaza. Aksi mengejutkan itu merupakan eskalasi dari unjuk rasa yang dilakukan di seluruh AS beberapa waktu terakhir untuk menentang tindakan Israel di Gaza.

Pria yang tidak disebutkan namanya itu memfilmkan dirinya meneriakkan kata-kata “Bebaskan Palestina” sambil membakar dirinya sendiri, menurut rekaman video yang dibagikan di media sosial. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit dengan “luka kritis yang mengancam jiwa,” kata departemen pemadam kebakaran. Senin pagi, juru bicara Angkatan Udara AS mengatakan pria itu meninggal Minggu malam.

Dalam video itu, pria tersebut mengenakan seragam militer dan menyatakan dirinya tidak “mau terlibat dalam genosida” sebelum menyiram dirinya dengan cairan, membakar diri dan meneriakkan “Bebaskan Palestina!” hingga ambruk. Menurut laporan, video itu awalnya dibagikan dalam siaran langsung (livestream) di platform media sosial Twitch.

Israel Mbalela

Sementara itu Dewan Keamanan PBB pada Senin (25/3/2024) mengeluarkan resolusi yang menuntut gencatan senjata di Gaza selama Bulan Ramadhan, yang telah dimulai pada 11 Maret dan akan berakhir pada 9 April 2024. Sebanyak 14 negara memilih mendukung resolusi, yang diajukan oleh 10 anggota Dewan Keamanan terpilih, sementara Amerika Serikat memilih untuk abstain dalam pemungutan suara. Ini luar biasa, sebab biasanya Amerika Serikat selalu memveto resolusi DK PBB soal perang Palestina atau penjajahan Israel.

Seperti biasa, Israel langsung menolak resolusi DK PBB tersebut. Menteri Luar Negeri Israel Katz mengatakan Tel Aviv tidak akan melakukan gencatan senjata di Jalur Gaza meski Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan sebuah resolusi untuk hal itu. “Israel tidak akan melakukan gencatan senjata. Kami akan menghancurkan Hamas, dan akan terus bertempur sampai semua sandera kembali ke rumah,” kata Katz dalam sebuah pernyataan di akun media sosial X miliknya seperti dikutip Rabu (27/3/2024).

Utusan Israel untuk PBB Gilad Erdan menyatakan, resolusi PBB melemahkan upaya untuk mengamankan pembebasan sandera Israel dari Gaza. Resolusi tersebut juga menyerukan “gencatan senjata segera selama Bulan Ramadhan yang dihormati oleh semua pihak dan mengarah pada gencatan senjata yang berkelanjutan dan langgeng.”

Resolusi tersebut menuntut pembebasan semua sandera dengan segera dan tanpa syarat, serta memastikan akses kemanusiaan dapat memenuhi kebutuhan medis dan kebutuhan kemanusiaan lainnya. Israel melancarkan serangan militer mematikan di Jalur Gaza sejak serangan lintas batas yang dilakukan oleh kelompok Hamas, yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel. Serangan Hamas ini sebagai balasan atas penjajahan Israel di Palestina.

Lebih dari 32.333 warga Palestina telah tewas sejak saat itu dan lebih dari 74.694 orang luka-luka di tengah kehancuran massal dan kelangkaan kebutuhan bahan pokok.

Perang Israel vs Palestina, yang saat ini memasuki hari ke-171, telah memaksa 85 persen penduduk Gaza mengungsi di tengah kelangkaan akut bahan makanan, air bersih dan obat-obatan, sementara 60 persen infrastruktur daerah kantong Palestina itu telah rusak atau hancur, menurut PBB.

Israel dituding melakukan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ). Putusan sementara ICJ pada Januari memerintahkan Tel Aviv untuk menghentikan aksi genosida dan mengambil langkah guna memastikan bantuan kemanusiaan dapat disalurkan kepada warga sipil di Gaza. Israel juga telah membuat kelaparan massal di Gaza sebagai alat perang. (gas/det/rpk)

 

baca juga :

Mutasi dan Promosi Pati TNI: Sejarah Baru Danpaspampres Dijabat Perwira Tinggi AU

Bea Cukai Madura: Mengawal Perusahaan Rokok Menjadi Besar dan Aman dalam Berusaha

gas

Pasca Evaluasi, Pemkot Buka Posko Sterilisasi di Pintu Masuk Surabaya

Redaksi Global News