Global-News.co.id
Kesehatan Utama

Berat Badan Ideal Bantu Cegah Timbulnya Diabetes

Ketua Perkeni, Prof Ketut Suastika saat memberikan paparan tentang Diabetes Mellitus.

SURABAYA (global-news.co.id) – Berat badan ideal menjadi kunci pencegahan primer terjadinya Diabetes Mellitus (DM).  DM sendiri  merupakan salah satu penyakit kronis penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Prof Dr dr Ketut Suastika SpPD-KEMD, menyebut salah satu penyebab timbulnya penyakit diabetes adalah obesitas yang tidak segera ditangani.  Angka kejadian obesitas di Indonesia terbilang tinggi. Sebanyak 1 dari 3 orang (35,4%) orang dewasa atau 68 juta orang memiliki obesitas. Dan 1 dari 5 anak (20%) usia 5-12 tahun mempunyai kelebihan berat badan dan obesitas.

Untuk diketahui, dari waktu ke waktu jumlah angka kesakitan DM terus meningkat. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi DM sebesar 8,5%, meningkat dibanding  Riskesdas 2013 yang 6,9%.

Indonesia sendiri menempati peringkat ketiga Negara dengan angka prediabetes tertinggi setelah Tiongkok dan Amerika Serikat.

Dijelaskan, pasien prediabetes ditandai dengan gula darah yang naik.  Gula darah puasa (GDP) berkisar 100-125, sementara gula darah setelah makan (GDSM) yakni 140-<200.  “Kalau kondisi ini didiamkan, maka cepat atau lambat dia akan jatuh ke diabetes,” katanya dalam webinar menyambut Hari Diabetes Nasional 2021 yang ditayangkan  di kanal YouTube.

Pencegahan primernya, lanjut Ketut Suastika, harus dilakukan secepatnya sejak prediabetes.  Sebab diabetes berpotensi menimbulkan masalah kesehatan lainnya seperti komplikasi jantung.

Menurutnya, pencegahan ini jauh lebih efisien dan efektif untuk menangani pasien daripada saat mereka sudah jatuh sakit. Dan pencegahan primer yang bias dilakukan adalah dengan mencapai berat badan ideal. Salah satu studi menyebutkan, dengan penurunan BB sekitar 6,5% setelah 4 minggu diet rendah kalori, hasilnya tekanan darah, gula darah dan kolesterol turun.

“Diabetes masalah besar di Indonesia. Yang paling penting adalah mengelola pola hidup, jangan lupa rutin melakukan aktivitas fisik, jaga pola makan dan melakukan pemeriksaan dini,” ujarnya.

Ancaman diabetes tidak hanya dihadapi oleh kelompok usia dewasa, tapi penyakit ini juga mengancam anak-anak. Mewakili Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Muhammad Faizi, SpA(K) menyebutkan,  prevalensi  DM pada anak di Indonesia  juga terus meningkat. Kejadiannya  didominasi remaja berusia 10-12 tahun serta anak berusia 5-6 tahun. “Populasi anak-anak diabetes itu banyak di Indonesia Bagian Barat, sementara yang Timur sedikit,” katanya.

Agar kadar gula darah terkontrol,  Faizi menjabarkan manajemen pada anak dengan diabetes merujuk pada 5 pilar. Di antaranya suntikan insulin, monitoring kadar gula darah, pemberian nutrisi, aktivitas fisik, serta edukasi seumur hidup.

Namun demikian, yang menjadi tantangan besar dalam pengendalian diabetes di Indonesia adalah pasien sering terlambat mengetahui penyakit DM. Sehingga sering ditemukan pada tahap lanjut atau sudah disertai dengan komplikasi, seperti serangan jantung dan stroke, infeksi kaki yang berat yang dapat mengakibatkan kecacatan sampai kematian dini. “Masalah kita adalah awareness kita tentang Diabetes Militus tipe 1, sehingga banyak pasien-pasien yang datang terlambat,” ucapnya. ret

 

Tabel Perjalanan Diabetes Tipe 2

Gula  Darah  Puasa     Gula Darah Sesudah Makan

Gula Darah Normal                     <100                      <140                                      –Obesitas

Gula Darah Naik                          100-125                140-<200                              –Prediabetes

Gula Darah Tinggi                        >126                     >200                                      –Diabetes Tipe 2

 

Tantangan Diabetes di Indonesia:

-Prevalensi  Sindroma Metabolik, Prediabetes, dan DM pada orang dewasa tinggi dan cenderung meningkat.

-Jika tanpa intervensi yang baik, maka tingginya kejadian Prediabetes akan meningkatkan kejadian Diabetes dan Penyakit Kardiovaskuler.

-Lebih dari 2/3 pasien diabetes tidak menyadari dirinya mempunyai diabetes, berarti  sebagian besar mereka akan datang ke pelayanan kesehatan dengan komplikasi.

-Masih banyak pasien yang tidak patuh, sehingga lebih dari 2/3 pasien belum mencapai sasaran gula darah yang diinginkan.

-Komplikasi makrovaskuler dam mikrovaskuler terkait diabetes tinggi.

-Pengelolaan diabetes dan komplikasinya membutuhkan biaya yang tinggi, padahal di satu sisi anggaran pemerintah masih terbatas.

 

baca juga :

RSUD dr Soetomo Dapat Bantuan Matkes dan Prophylaxis dari KASAD TNI

Redaksi Global News

Disiapkan Bonus Rp 12 M, Timnas Diminta Main ‘Mati-matian’

Redaksi Global News

Penyidik Korupsi E-KTP Diteror Siraman Air Keras

Redaksi Global News