Global-News.co.id
Ekonomi Bisnis Indeks Utama

2022, Smart Meter Listrik Bakal Terpasang ke 1 Juta Pelanggan

Istimewa
Tahap pertama sebanyak satu juta pelanggan listrik akan terpasang smart meter pada 2022.

 

JAKARTA (global-news.co.id)  – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penggantian meter listrik konvensional alias smart meter secara bertahap.

Tahap pertama sebanyak satu juta pelanggan listrik akan terpasang smart meter pada 2022. Sebagai pengganti meter listrik konvensional, pemasangan ini merupakan bagian dari pembangunan jaringan tenaga listrik atau smart grid guna meningkatkan pengawasan, mutu, dan keandalan sistem kelistrikan.

Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Wanhar mengatakan, smart grid diyakni mampu membuat sistem tenaga listrik secara optimal dan efisien dengan memanfaatkan interaksi dua arah baik antara produsen listrik dengan konsumen. “Ruang lingkup Smart Grid luas sekali. Mulai dari pembangkit dan automasi sistem transmisi, integrasi pembangkit terbarukan dan automasi sistem distribusi, hingga pemanfaatan dan pembangkitan mandiri,” ujar Wanhar di Jakarta, Rabu (10/2/2021).

Keberadaan smart grid, sambung Wanhar, mampu membuat konsumen menjadi produsen (prosumer). Misalnya, pelanggan yang memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di rumah dapat mengirim tenaga listrik ke sistem PT PLN (Persero) dan tetap bisa memakai listrik dari PLN.

Implementasi smart grid sendiri sudah dirintis oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak tahun 2013 di Sumba Nusa Tenggara Timur dengan skala kecil (Smart Micro Grid). Pembangunan tersebut merupakan hasil integrasi antara Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), PLTS dan baterai, serta Jaringan Tegangan Menengah (JTM) 20 KV.  “Sistem tenaga listrik di Sumba beroperasi secara otomatis sesuai program algoritma untuk menyuplai beban. Beban dasarnya 1.200 KW dengan beban puncak 2.100 KW,” ungkap Wanhar.

Sementara untuk komunikasi sistem dilakukan melalui Power Line Communication (PLC). Adapun automasi kontrol dan monitoring melalui Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) master station. Untuk kestabilan Variable Renewable Energy (VRE) yang sifatnya intermittent pada jaringan tersebut disokong dengan dengan baterai (battery storage). “Di Sumba, beban puncak dan beban dasar jaraknya sangat jauh. Ini mencerminkan bahwa bebannya masih didominasi oleh rumah tangga. PLTS digunakan siang hari sekitar 5 jam. Ini digunakan untuk mengecas baterai 500 kWh. Ketika beban puncak pada malam hari, baterai digunakan untuk menyuplai jaringan di Sumba,” jelas Wanhar. jef, sin

baca juga :

Bantu Pemkot, Ikatan Alumni Psikologi Unair Turun Tangan Dampingi Warga di Tengah Pandemi

Redaksi Global News

Libur Natal dan Tahun Baru 2020, Pertamina MOR V Optimalkan Distribusi Energi

Redaksi Global News

Jokowi Serahkan 2.020 Sertifikat Tanah Tersebar di 5 Daerah

Redaksi Global News