Global-News.co.id
Indeks Kesehatan Utama

Masih Tingginya Stunting Pengaruhi IPM Jatim

Masih tingginya angka stunting di Jatim ikut memengaruhi peringat IPM Jatim.

SURABAYA (global-news.co.id) – Di antara 34 provinsi di Indonesia, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Jawa Timur pada 2020 masih berada di peringkat 15.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan Dr Andriyanto SH MKes, menjelaskan, masih rendahnya IPM Jatim ini lantaran Jatim masih menghadapi masalah stunting yang berimplikasi terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM).

Untuk diketahui, IPM dibentuk oleh 3 dimensi dasar yaitu kesehatan (dilihat usia harapan hidup masyarakat); pendidikan anak usia 7 tahun; dan ekonomi (standar hidup layak).

Stunting terjadi karena dampak kekurangan gizi kronis selama 1.000 hari pertama kehidupan. “Kerusakan yang terjadi mengakibatkan perkembangan anak yang irreversible (tidak bisa diubah). Anak tersebut tidak akan pernah mempelajari atau mendapatkan sebanyak yang dia bisa,” ujar Andriyanto dalam rilis menyambut Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap 25 Januari, Senin (25/1/2021).

Prevalensi stunting di Indonesia mencapai 27,7%, dan di Jatim sebesar 26,9%. Meski lebih rendah, angka ini masih belum memenuhi standar badan kesehatan dunia (WHO) yang mematok batas maksimal 20% atau seperlima dari jumlah total anak balita.

Lebih lanjut dikatakan, studi menunjukkan anak stunting sangat berhubungan dengan prestasi pendidikan yang buruk, lama pendidikan, dan pendapatan yang rendah sebagai orang dewasa. “Anak stunting menghadapi kemungkinan yang lebih besar untuk tumbuh menjadi dewasa yang kurang pendidikan, kurang sehat, dan lebih rentan terhadap penyakit tidak menular. Oleh karena itu, anak stunting merupakan prediktor buruknya kualitas SDM yang diterima secara luas, yang selanjutnya menurunkan kemampuan produktif masyarakat di masa akan datang,” terang mantan Direktur Akademi Gizi Surabaya ini.

Andriyanto menyebut, sudah saatnya persoalan stunting yang diikuti dengan masih tingginya angka kematian ibu dan bayi di Jatim ini harus diperbesar, agar seluruh sektor dan program melakukan pencegahan dan penanganan secara komprehensif dan konvergen. “Intervensi yang dilakukan haruslah yang cost effective, dilakukan oleh sektor non kesehatan yang memberikan kontribusi sampai 75% berupa intervensi sensitif dan sektor kesehatan yang memberikan kontribusi 25% berupa intervensi spesifik,” katanya.

Intervensi pencegahan dan penanganan stunting adalah fokus di 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak kehamilan sampai anak berusia 2 tahun. Pada periode ini 85% otak manusia terbentuk. “Namun menjadikan remaja dan calon pengantin sehat dan tidak anemia merupakan langkah yang strategis untuk menyiapkan kehamilan yang sehat,” ungkapnya.

Ia menyayangkan sekitar 12% remaja laki-laki dan 23% remaja perempuan mengalami anemia, yang sebagian besar diakibatkan kekurangan zat besi. Anemia pada remaja akan  berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja, dan produktivitas.

Dibanding remaja laki-laki, anemia di kalangan remaja perempuan lebih tinggi. Karena itu menjadikan remaja dan calon pengantin sehat dan tidak anemia merupakan langkah yang strategis untuk menyiapkan kehamilan yang sehat. “Mereka ini kan para calon ibu yang akan hamil dan melahirkan seorang bayi. Kalau mereka anemia, akan memperbesar risiko kematian ibu melahirkan, bayi lahir prematur dan berat bayi lahir rendah (BBLR) yang pada gilirannya juga berisiko kematian bayi,” terangnya.

Dengan tidak mengalami anemia, ibu hamil akan memberikan asupan oksigen yang cukup kepada janinnya. “Kehamilan yang sehat akan menurunkan kejadian angka kematian ibu dan bayi serta stunting,” tandas Andriyanto.

Peran dinas pendidikan dan tenaga kesehatan dalam memberikan pendidikan gizi pada remaja putri khususnya, diharapkan dapat menambah pengetahuan mereka tentang gizi dan anemia. Dan selanjutnya mereka dapat mengubah pola makan sehingga asupan gizi menjadi lebih baik. “Pemikiran yang terbuka dan karakteristik remaja yang masih dalam tahap belajar, secara tidak langsung akan memengaruhi kebiasaan mereka. Dengan pendidikan gizi, remaja akan lebih mengenal kebiasaan baik dalam hal pemenuhan kebutuhan asupan gizi, sehingga dapat mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Andri.

Mengutip data BPS Jatim yang dirilis 21 Januari lalu, berdasarkan Sensus Penduduk 2020, dari total penduduk Jatim, 71,65%-nya berusia produktif (15-64 tahun), dan 24,8%-nya adalah Generasi Z yaitu berusia 8–23 tahun atau sebanyak 10 juta jiwa. “Nah intervensi kepada Generasi Z ini, melalui edukasi gizi yang tepat, akan berdampak pada penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi serta Stunting di Jatim. Dan pada akhirnya akan meningkatkan IPM Jatim,” pungkas Andri.ret

baca juga :

Lamongan Batasi Jumlah Pengunjung Libur Nataru

Redaksi Global News

Cahaya untuk Masyarakat di 105 Tahun FK Unair

Redaksi Global News

2021, Bappenas Prediksi Ekonomi Tumbuh 5%

Redaksi Global News