Global-News.co.id
Indeks Metro Raya Utama

Benyamin Minta RS Tidak Hantam Kromo pada Pasien yang Minta Rapid Test

Anggota DPRD Jawa Timur dr Benjamin Kristianto

SURABAYA (global-news.co.id) — Anggota DPRD Jawa Timur dr Benjamin Kristianto meminta  rumah sakit tidak hantam kromo terhadap pasien yang meminta pelayanan kesehatan dengan diagnosa COVID-19, apalagi hasil rapid test negatif atau non reaktif. Akibatnya pasien yang akan memeriksakan kesehatan ke Rumah Sakit menjadi ketakutan jika mau rapid test.

Karena itu, Benjamin yang juga Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sidoarjo ini menyatakan jangan semua kasus penyakit didiagnosa sebagai penderita corona.  “Saya berharap jangan semua kasus penyakit didiagnosa sebagai penderita atau terpapar COVID-19. Karena kita tahu sebelum ada COVID-19, pasien penyakit dengan gambaran kelainan rontgen paru bisa terjadi, seperti TB paru, bronchitis kronis, broncheaktasi, bahkan pneumonia  itu sendiri. Jadi tidak selalu kelainan paru pasti COVID-19. Perlu ada pendukung lain seperti  rapid test, swab test atau darah lengkap untuk melihat limfosit / rasionya,” terang politikus asal Partai Gerindra, Rabu (10/6/2020).

Politisi Indrapura yang juga pemilik salah satu RS di Sidoarjo ini menegaskan, dengan kasus yang ramai diperbincangkan masyarakat, terkesan pihak rumah sakit mengambil untung. Sebab biaya penanganan COVID-19 dari pemerintah anggarannya besar. Padahal biaya tersebut bisa dilakukan efisiensi, sehingga  dana pemerintah bisa digunakan untuk pembelian APD bagi tenaga medis, bantuan sembako atau bantuan dana untuk menghidupkan kembali ekonomi masyarakat.

Namun di sisi lain, masyarakat juga menjadi resah dan  enggan mendapatkan pelayanan kesehatan, karena segala penyakit selalu didiagnosa terpapar positif corona. “Tidak seharusnya analisa medisnya gegabah. Toh nanti yang dirugikan pasien, jika ternyata analisis medisnya tidak sesuai,” terang dia.

Politisi Partai Gerindra Jatim ini, mendorong pelayanan kesehatan di Jatim benar-benar memberikan kenyamanan bagi pasien. Karena membeludaknya jumlah pasien yang didiagnosa COVID-19, membuat kebutuhan kapasitas ruangan pelayanan tidak terpenuhi.

Dia mengatakan, cara komunikasi rumah sakit jangan sampai  salah. Apalagi, kondisi pasien corona banyak yang tidak menunjukan gejala parah meski masuk dalam kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP). cty

baca juga :

Gus Ipul Dinobatkan jadi Komandan Santri Jatim

nasir nasir

Terkait Investasi Ilegal MeMiles, Tata Janeeta Penuhi Panggilan Polda Jatim

Redaksi Global News

Garamin, Aplikasi Peningkatan Kualitas Pertanian Garam di Indonesia