Si Jabrik Arsheena

Mat Tadji duduk termangu. Dia merasa bersedih. Tak biasanya raut muka itu tampak sedih. Di sudut klinik bersalin itu dirinya hanya menunduk. “Arapah mak sossa. Polanah tak nyapok ‘kaloarrah’ kompoyyah yeh. Salanah dibiken, arapah eyajak, paggun alakoh. (Mengapa kok susah. Apa karena tak menunggui cucunya lahir. Salahnya kamu, mengapa di ajak ke klinik untuk damping menantu melahirkan, tapi tetap saja bekerja, Madura, Red),” kata Suhena, istri Mat Tadji ketus.

Ya… Mat Tadji patut bersedih. Mengapa? Pasalnya, jauh-jauh hari dia berniat mendampingi menantunya untuk melahirkan cucu pertama Mat Tadji. Sebenarnya, pagi itu Mat Tadji sudah ada di klinik bersama Suhena dan Dindot (anak bungsu Mat Tadji). Entah mengapa selepas dhuhur Mat Tadji minta pulang. Lalu pulanglah mereka bertiga dengan alasan sang menantu belum melahirkan.

Lalu Mat Tadji mengingat-ngingat saat putera sulungnya mengabarkan kelahiran anak pertamanya. “Hallo papi..Alhamdulillah Ainun (menantu Mat Tadji) sudah melahirkan dengan selamat. Tak ada halangan. Melahirkan dengan lancar. Alhamdulillah perempuan,” suara Faisal (anak Pertama Mat Tadji) menyeruak kuping Mat Mat Tadji, karena HP-nya di-speaker.

“Selamat ya mas. Maaf, papi ini masih ngetik,” kata Mat Tadji.

Komputer di tinggalkan. Lalu Mat Tadji menelpon istrinya. “Mayuh ke klinik. Wak kompoyyah la lahir (Ayo ke klinik, cucunya sudah lahir, Madura Red),” kata Mat Tadji menelpon Suhena.

“Kok cepat ya lahirnya. Aku menyesal mengapa tadi kita pulang. Coba kamu nunggu sebentar kan kita bisa menunggu proses melahirkan cucu pertama kita. Ayo kamu cepat pulang. Kerja terus gak pulang-pulang,” kata Suhena setelah Mat Tadji tiba di rumahnya.

Bertiga (Mat Tadji, Suhena dan Dindot) berangkat dengan mobil Avanza. “Papi agak ditancap poo gasnya. Aku sudah tak sabar melihat ponakan pertamaku. Papi ini kalau berkendaraan lemot,” kata Dindot.

Sesampainya di klinik bersalin di kawasan Ngagel Selatan, Surabaya, Mat Tadji langsung menuju dimana ruangan tempat sang menantu. Sang bayi lagi berada di ruang penghangatan. Mat Tadji haru bercampur bangga melihat cucu pertamanya. Kulit putih, rambut lurus mengencang. “Hi… rambutnya jabrik,” kata Dindot tanpa malu-malu.

“Ehhh… jangan dipanggil Si Jabrik lho yo,” timpal Suhena.

Mat Tadji memandangnya bayi yang baru lahir tersebut. Dalam hatinya ada penyesalan. Niat hati yang ingin menungguinya detik-detik kelahirannya pupus sudah. Padahal, saat ketiga anaknya lahir, Mat Tadji berada di sisi sang istri. “Maafkan ya cucuku, mbahmu tak ada disisi ibumu saat kau lahir ke dunia. Sekali lagi maafkan cucu mungilku,” guman Mat Tadji.

“Siapa ini namanya,” Tanya Mat Tadji.

“Arsheena,” kata Ainun.

“Awas lo yo. Biasanya kalau sudah mempunyai cucu, nanti agak lupa pada anaknya. Itu sih kata orang-orang. Aku hanya ingin perhatian papi tidak terbelah pada Arshena,” pinta Dindot sambil ketawa.

“Tidak sayangku. Kau tetap puteri kebanggaanku,” Mat Tadji sambil memeluk Dindot, puteri kesayangannya.

“Ehhh, ngelamun ya. Itu kunci mobilnya terjatuh,” kata Suhena.

“Ayo papi pulang dulu. Nanti malem kembali lagi sambil ngajak kakak (Naila puteri kedua Mat Tadji),” kata Dindot di atas kursi rodanya. Sudah 4 tahun ini Dindot menggunakan kursi roda akibat terjatuh di escalator sebuah mall di Surabaya. (*)