“Apakah Monyet-Monyet yang Akan Jadi Santrinya?”

 

 

GN/Djoko Pitono Kiai Asep Saifuddin sedang menerima tamu Prof Dr. Muhammad Taufiq Ramadan al-Buti (tengah), Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus, di pondok Pacet, Mojokerto, akhir Maret lalu. Prof Taufiq, yang juga Ketua Persatuan Ulama Suriah, memberikan ceramah di depan para santri pondok.

GN/Djoko Pitono
Kiai Asep Saifuddin sedang menerima tamu Prof Dr. Muhammad Taufiq Ramadan al-Buti (tengah), Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus, di pondok Pacet, Mojokerto, akhir Maret lalu. Prof Taufiq, yang juga Ketua Persatuan Ulama Suriah, memberikan ceramah di depan para santri pondok.

SURABAYA (Global News)-Suatu hari sekitar 9 tahun lalu, kiai terkemuka KH Said Agil Siradj (sebelum menjadi Ketua Umum PBNU) diundang untuk memberikan tausyiah di Pondok Amanatul Ummah, Kembangbelor, Pacet, Mojokerto, yang baru mengawali kegiatannya. Saat itu belum banyak santrinya, hanya beberapa puluh anak. Tempat belajarnya pun masih sangat sederhana. Santri perempuan belajar dan tinggal di sebuah bangunan kecil sederhana, sedang santri laki-laki belajar di bawah tenda darurat dan rumah penduduk setempat.

Sang kiai sempat  terheran-heran. Inikah pondok yang mentereng namanya, Madrasah Bertaraf Internasional alias MBI? Tetapi sebagai tamu yang diundang, sang kiai pun tetap membesarkan hati pengundangnya, Kiai Asep Saifuddin Chalim. Toh begitu, sang tamu yang sudah akrab dengan Kiai Asep tersebut sempat mencetuskan rasa herannya.

Dikatakannya, dirinya memiliki 8 pondok pesantren, semuanya dibangun dengan perhitungan yang matang. Termasuk kedekatannya dengan daerah yang cukup banyak penduduknya. Apa yang dia herankan, Ponpes Amanatul Ummah tempatnya sepi, jauh dari keramaian, dan di pinggir hutan pula.

“Bagaimana mengembangkan pondok ini? Siapa yang akan masuk menjadi santrinya? Apakah monyet-monyet yang saya temui di pinggir hutan saat perjalanan tadi?” tanya sang kiai dengan nada berkelakar.

Kiai Asep hanya tersenyum mendengar pernyataan sahabat yang jadi tamunya itu.

Tetapi memang ajaib. Siapa pun yang mengetahui awal mula pondok pesantren di desa terpencil itu akan heran. Sekarang, belum genap 10 tahun, pondok sederhana tersebut telah berubah menjadi pondok megah. Sejumlah bangunan bertingkat  mengelilingi sebuah masjid besar yang indah. Sejak berdiri, pembangunan memang tak pernah berhenti. Pada September 2015, di desa sebelahnya, Bendungan Jati, telah mulai beroperasi Institut KH Abdul Chalim, yang dirancang untuk menjadi universitas kelas dunia. Baru berdiri saja, institute itu telah memiliki sekitar 400 mahasiswa, di antaranya dari enam negara asing dan 23 propinsi di Indonesia.

Tak kurang 4.000 santri dari seluruh Indonesia menuntut ilmu di sekolah unggulan tingkat SMP dan SMA di Pacet, 2.000 santri lainnya belajar di Pondok Amanatul Ummah di Surabaya. Ini belum termasuk  sekitar 1.000 siswa yang belajar gratis di Madrasah Aliyah Hikmatul Amanah di Desa Bendungan Jati.

Sampai sekarang, tak kurang dari 30 hektar tanah telah disiapkan untuk pengembangan Amanatul Ummah sebagai pusat pendidikan.

Bagaimana Kiai Asep membangun pondok/sekolah unggulan kurang dari 10 tahun? Belum lagi ratusan beasiswa yang diberikan setiap tahunnya kepada anak-anak pintar tapi kurang mampu.

Kiai Asep mengatakan, keseriusan dan kejujuran dalam mendidik para santri adalah kunci keberhasilan. Ketidakjujuran seperti nyontek adalah tabu. Pondok pun menjamin 100% santri lulus dengan baik dan dapat melanjutkan ke perguruan tinggi yang diinginkan. Hampir 600 guru/ustadz di pondok selalu diingatkan untuk memiliki keyakinan bahwa sekolah tempat mereka mengajar adalah sekolah terbaik. Anak-anak didik mereka tak hanya pintar mengaji, tetapi juga memiliki keunggulan dalam pengetahuan umum.

“Pondok pesantren yang meremehkan pengetahuan umum akan ditinggalkan masyarakat. Santri juga harus berprestasi dalam pengetahuan umum, tidak hanya pintar mengaji,” kata Kiai Asep Saifuddin.

Sejak berdiri, semua lembaga pendidikan dalam lingkungan Pondok Pesantren Amanatul Ummah selalu mencapai tingkat kelulusan 100% dan mendapatkan hasil rata-rata UAN berklasifikasi A. Rinciannya antara lain:

  1. Semua lembaga pendidikan dalam lingkungan Pondok Pesantren Amanatul Ummah berakreditasi A;
  2. Para siswa/siswi berhasil memenangi berbagai kejuaraan/lomba akademis dan ketrampilan di tingkat regional dan nasional dari tahun ke tahun 3
  3. Sebagai sekolah tingkat menengah atas (SMA dan Aliyah) yang memiliki jumlah lulusan terbanyak diterima di perguruan tinggi negeri (ITB, ITS, UGM, Unair, UI, UNIBRAW, UM, UNESA, UIN dan sebagainya) dan perguruan tinggi luar negeri (Al-Azhar, Mesir, Maroko, Yaman dan Tunisia);
  4. Sebagai sekolah tingkat menengah atas (SMA dan Aliyah) yang memiliki jumlah siswa/siswi penerima beasiswa terbanyak dari Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Nasional untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri (ITS, UGM, Unair, UI, UNIBRAW, UNESA, UIN, UM dan sebagainya) dan perguruan tinggi luar negeri (Al-Azhar, Mesir, Maroko, Yaman dan Tunisia).

Selama berdirinya, tak terhitung tamu berdatangan dari sekolah-sekolah dan pesantren dari seluruh Indonesia. Mereka ingin mengetahui dan belajar langsung dari Amanatul Ummah.

Tidak sedikit tamu pejabat, kiai terkemuka, dan tokoh masyarakat. Bahkan termasuk menteri, Wapres H. Jusuf Kalla dan Presiden Joko Widodo. Tamu-tamu pondok juga datang dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Mesir dan Lebanon.

 

Gigih dan Ulet

Bagi banyak orang yang mengenalnya, Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA (60 tahun), adalah kiai yang gigih dan ulet. Setiap hari, sang kiai bolak-balik Surabaya-Pacet. Habis Subuh, jadwal rutinnya adalah mengajar ribuan santrinya di masjid pondok di Pacet. Setelah itu, Kiai Asep meluncur ke Surabaya untuk macam-macam urusan, mulai rapat staf administrasi, rapat guru, sampai menerima beragam tamu dan menghadiri berbagai undangan. Malam hari, Ketua Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) ini balik lagi ke Pacet.

Terlahir dari keluarga NU tulen di Cirebon, Kiai Asep memang ber-nasab kiai. Ayahnya, KH Abdul Chalim dari Majalengka, adalah ulama pejuang nasionalis yang banyak membantu para pendiri NU seperti KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Chasbullah.

Namun sejak kecil, si kecil Asep telah terbiasa mandiri. Setelah lulus SD, dia dipondokkan di Ponpes Al Khozini, Buduran, Sidoarjo. Paginya dia bersekolah di SMP Negeri 1 Sidoarjo.

Lulus SMP, Asep melanjutkan ke SMA namun hanya sampai kelas 2 karena ayahnya meninggal pada 1972. Tapi dia tetap belajar di pondok. Setelah lulus dari pondok, dengan surat keterangan dari kiainya, Asep melanjutkan studi di Jurusan Bahasa Arab, Fakultas Adab, IAIN Surabaya. Belum lulus sarjana muda, dia mendaftar kuliah Program D3 Bahasa Inggris di IKIP Surabaya dengan ijazah persamaan SMA. Selesai D3, Asep pun jadi guru negeri di SMA Negeri 2 Lamongan, yang dijalaninya 7 tahun dari rumah kontrakannya di Siwalankerto, Surabaya.  Di sela-sela waktu kerjanya, dia lanjutkan studinya di program sarjana pendidikan Bahasa Inggris di IKIP Malang. Di waktu lainnya kemudian, Kiai Asep juga menyelesaikan studi S2 di Unisma Malang dan S3 di Unmer Malang.

Jalan yang berliku-liku dijalaninya, termasuk menjadi kepala sekolah SMP swasta, membesarkannya tapi kemudian disingkirkan. Dia pernah menjadi anggota pengurus PC NU Surabaya, sebelum jadi ketuanya. Pernah pula jadi ketua MUI Surabaya, juga  menjadi anggota DPRD Surabaya dari PKB. Dia mundur dari jabatan ini setelah 4 bulan  karena suara hatinya lebih cocok pada dunia pendidikan. Statusnya kemudian malah naik menjadi dosen UINSA (dulu IAIN Sunan Ampel) Surabaya setelah melimpah ke perguruan tinggi tersebut.

Nasib baik mulai menyapanya setelah mendirikan biro perjalanan haji dan umroh (KBIH) Yayasan Amanat Bangsa. Dia mencari sendiri calon-calon jemaah haji untuk dibimbing. “Saya pernah membimbing haji satu kloter. Saya cari sendiri ketika itu, paro kedua 1990-an,” kata Kiai Asep. “Dengan uang hasil kerja itu, saya mulai bisa membangun Pondok Amanatul Ummah,” tambahnya.

Kiai Asep selalu optimistis dalam membesarkan Amanatul Ummah. Didampingi istrinya yang telah memberinya 9 anak, Alif Fadilah, sang kiai selalu optimistis. Impiannya antara lain adalah menjadikan Kembang Belor dengan Pondok Amanatul Ummah menjadi kawasan pendidikan yang makin diperhitungkan di Tanah Air.

Termasuk adanya universitas unggul dengan beragam fakultas seperti kedokteran, teknik, dan sains di Bendungan Jati. “Institut telah berdiri. Kita kini rencanakan universitas dengan membangun rumah sakit dulu, baru kita buka fakultas kedokteran,” katanya. (Djoko Pitono)

 

).