Global-News.co.id
Ekonomi Bisnis Utama

Layanan Premium Pengiriman Barang Bergaransi Kepastian

Pengecekan kargo oleh petugas PT SPIL di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sebelum dikirim ke berbagai pulau di kawasan Indonesia Timur.

ADANYA revolusi industri 4.0 atau era digitalisasi, industri maritim termasuk sektor pelayaran mau tidak mau harus siap menghadapinya dengan cara memanfaatkan teknologi informasi. Berbagai terobosan pelayanan berbasis digitalisasi digulirkan. Golnya proses bisnis menjadi lebih efisien, cepat, efektif dan pada akhirnya mampu menekan biaya logistik.

Oleh : Titis Tri W

DI era digital dan serba cepat, konsumen menuntut pelaku usaha untuk terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan. Terlebih saat pandemi Covid-19, adanya keterbatasan pergerakan membuat konsumen hampir di seluruh sektor bisnis memilih transaksi digital dibandingkan konvensional karena lebih efisien dan efektif. Kondisi ini juga terjadi di bisnis logistik.
Namun ini semua belum cukup. Saat sinyal pemulihan ekonomi menguat seiring terkendalinya penanganan kasus Covid-19 di Tanah Air yang berimbas pada melonjaknya trafik pengiriman barang antar daerah dan pulau, konsumen para pelaku bisnis juga membutuhkan kepastian dalam pengiriman barang.

Sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk mendukung terciptanya kepastian pengiriman barang di tengah pandemi Covid-19, PT SPIL (Salam Pacific Indonesia Lines)–perusahaan pelayaran nasional di Indonesia– mengenalkan layanan baru yaitu SPIL PRIME. Fitur baru pelayanan itu berbasis pengembangan teknologi informasi.

Perusahaan mengklaim layanan ini menjadi pertama dan satu-satunya di industri pelayanan domestik, yakni layanan premium pengiriman kargo yang memberikan kepastian dan rasa tenang dengan jaminan money back guarantee untuk pengiriman barang yang lebih efisien. “SPIL PRIME ini memberi solusi pengiriman kargo yang memberikan kepastian dan rasa tenang,” kata Marketing Manager PT SPIL Joshua Jimmy Kai saat memberikan penjelasan secara virtual kepada wartawan di Surabaya belum lama ini.

Joshua Jimmy Kai menjelaskan, konsumen para pelaku bisnis mendapatkan sederet kelebihan saat memilih layanan premium.  Namun ada lima garansi unggulan yang membedakan dengan layanan pengiriman barang reguler.  Yakni kepastian mendapatkan kontainer sesuai dengan komoditas yang dimuat (Ready to Use Container).
Tersedia untuk kontainer 20DC dan 40HC. Konsumen juga mendapat kepastian kedatangan truk sesuai waktu yang diminta atau minimal 12 jam sejak booking (Trucking Pick Up Priority). Namun ini hanya berlaku untuk Pol Surabaya dan Jakarta dengan booking yang dilakukan pada Senin-Sabtu pukul 07.00-18.00 WIB.
“Jangkauan layanan maksimal 40 km dari Depo SPIL PRIME.
Untuk wilayah Jakarta jangkauannya meliputi Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi dan untuk Surabaya meliputi Gresik, Surabaya dan Sidoarjo,” katanya.

Adanya kepastian mendapatkan space kapal untuk kargo (Space Guarantee), artinya adanya ketersediaan space selama 365 hari termasuk selama peak season. Konsumen juga mendapat prioritas layanan di depo (Priority Service At Depot) serta  mendapatkan money back guarantee dan penalti berupa potongan biaya jika SPIL tidak dapat memenuhi komitmen dari apa yang dijanjikan alias gagal garansi (Worry Free).

Tanpa merinci angka, Joshua Kai mengakui untuk mendapatkan layanan premium ini konsumen membayar lebih mahal dibandingkan layanan reguler. Namun jika terjadi gagal garansi, muatan dengan nilai yang diakui sampai dengan Rp 100 juta secara otomatis akan mendapat perlindungan dari asuransi MAG. “Jika terjadi gagal garansi, kastemer juga hanya membayar basic harga per kontainer sesuai tipe kontainer,” katanya.

Sejak diperkenalkan kepada konsumen Agustus 2021, layanan SPIL PRIME mendapatkan respon yang positif dari pelaku bisnis. Sejak Agustus sampai sekarang, ada sekitar 2.000 kontainer dikirim SPIL dengan layanan SPIL PRIME ke rute-rute domestik. Jumlah itu berdasar pada hitungan booking yang masuk ke aplikasi. “Namun kami juga pernah gagal garansi, sejak dikenalkan sampai sekarang ada dua kasus. Namun semua itu dapat kita selesaikan sesuai dengan kontrak yang ada,” katanya.

Joshua Jimmy Kai menyebut sejak kasus Covid-19 melandai,  sinyal pemulihan ekonomi terus menguat. Indikasi itu tampak dari arus pengiriman barang dari Surabaya ke berbagai daerah di Indonesia mulai meningkat. Sebelumnya saat terjadi pandemi awal 2020, arus pengiriman kargo SPIL mengalami penurunan 10-15%. Saat ini kondisi pengiriman berangsur-angsur pulih meski belum kembali normal seperti saat belum ada pandemi.

Perubahan perilaku konsumen saat pandemi Covid-19 yang menghindari terjadinya kontak fisik dan beralih untuk melakukan berbagai aktivitasnya secara virtual atau online juga terus diantisipasi SPIL dengan melakukan inovasi digitalisasi pengiriman barang.

“Kami akan terus melakukan sejumlah terobosan agar kepentingan pelanggan dan pelaku bisnis dapat terpenuhi.  Harapan kami, terobosan yang kami lakukan dapat mendukung terciptanya kepastian bisnis dan efisiensi di sektor logistik Indonesia, khususnya melalui angkutan laut,” katanya.

Dijelaskan Joshua Jimmy Kai, hadirnya aplikasi mySPIL ini –aplikasi pengiriman online- sejak 2017 juga merupakan wujud komitmen perusahaan dalam mendekatkan diri kepada pelanggan dan memberikan kemudahan untuk melakukan transaksi pengiriman secara menyeluruh. Aplikasi mySPIL dibuat dalam platform berbasis web dan mobile dan dapat dioperasikan baik melalui website mySPIL.com ataupun melalui smartphone berbasis Android dan juga iOS. Aplikasi tersebut dikembangkan sendiri oleh para tenaga ahli dan berpengalaman dari SPIL sehingga memungkinkan pengguna terhubung dengan SPIL secara aman.

Melalui layanan itu, pelanggan dapat melihat jadwal kapal, meminta estimasi biaya, membuka release order untuk memesan peti kemas, melacak posisi kapal termasuk status dokumen, sampai melakukan pembayaran secara online. “Pelanggan juga akan mendapatkan informasi penawaran harga, promosi, ataupun informasi cepat lain terkait jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal serta memberikan saran dan masukan untuk SPIL dari komputer atau smartphone,” tuturnya.

Dengan menggunakan mySPIL,  pelanggan tidak perlu lagi datang ke kantor SPIL sehingga dapat menghemat waktu dan biaya untuk setiap transaksinya seperti biaya transportasi, parkir, uang makan karyawan termasuk proses yang lebih cepat karena semua dapat dikendalikan langsung melalui smartphone atau komputer.

PT SPIL beroperasi sejak 1970. Saat ini merupakan salah satu perusahaan pelayaran nasional  di Indonesia dan dikenal sebagai pelopor pengiriman untuk wilayah Indonesia Timur khususnya ke wilayah Papua, Kalimantan dan Sulawesi.  Operasional SPIL menghubungkan pulau-pulau di Indonesia melalui lebih dari 37 kantor cabang di seluruh kepulauan Indonesia. Komoditas bahan pokok dan bahan baku industri memegang peran utama dalam bisnis kargo domestik SPIL.

Sinyal Pemulihan Ekonomi

Tanda mulai menggeliatnya ekonomi Jatim seiring melandainya kasus Covid-19 juga terbaca pada data BPS (Badan Pusat Statistik) Jatim. Ekonomi Jatim triwulan III 2021 dibandingkan triwulan II 2021 meningkat sebesar 2,26 persen (q-to-q).  Ekonomi Jatim sampai dengan triwulan III 2021 meningkat 3,20% (c-to-c).
Perekonomian Jatim triwulan III 2021 diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 624,87 triliun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan mencapai Rp 423,04 triliun.

Kepala BPS Jatim, Dadang Hardiwan mengatakan pertumbuhan terjadi pada hampir semua lapangan usaha, namun diakuinya masih ada lapangan usaha dominan yang terkontraksi.  Lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah perdagangan besar-eceran, reparasi mobil dan motor sebesar 8,24% dan informasi dan komunikasi sebesar 7,42%. Sementara itu, industri pengolahan yang memiliki peran paling dominan juga mengalami pertumbuhan sebesar 2,93%.

Di tengah sinyal pemulihan ekonomi yang terus menguat, volume pengiriman barang antar daerah dan antar pulau di sejumlah pelabuhan utama juga terus meningkat. Sampai semester I 2021, pelabuhan-pelabuhan utama yang berada di dua BUMN Pelabuhan, yaitu PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I dan Pelindo III mencatat  arus peti kemas domestik sebanyak 1,97 juta Teus, meningkat double digit dibanding pada 2020.
Indikasi kebangkitan ekonomi pasca melandainya kasus Covid-19 juga dikuatkan data Pemprov Jatim. Semester I  2021 perdagangan antar pulau antar provinsi Jawa Timur tercatat sebesar Rp 106,86 triliun. Sedangkan periode sama pada 2020 sebesar Rp 91,16 triliun, sehingga perdagangan antar provinsi antar pulau tahun ini mengalami surplus.

“Posisi Jatim dalam perdagangan antar pulau antar provinsi sangat vital. Selama ini kebutuhan 16 provinsi di Indonesia Timur dipasok dari Jatim,” kata Kepala Disperindag Jatim Drajat Irawan.

Dijelaskan Drajat, karena strategisnya peran Jatim,  Pemprov Jatim melalu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur terus  mendorong perdagangan antar pulau. Sejalan dengan kepentingan tersebut, sejak  2010 hingga sekarang Pemprov Jatim membuka Kantor Perwakilan Dagang (KPD) di 26 Provinsi mitra, sebagai atase perdagangan yang menghubungkan pelaku usaha kedua provinsi untuk memenuhi kebutuhan masing-masing provinsi. Selain itu KPD berperan untuk memasarkan, mengoneksikan serta menjadi market inteligence dan agregator bisnis bagi produk unggulan Jatim ke provinsi mitra.

Dijelaskan, meningkatnya perdagangan antar pulau antar provinsi dari Jatim juga berimbas pada lonjakan pengiriman barang melalui angkutan laut. “Di tengah lonjakan volume pengiriman barang melalui angkutan laut, perusahaan pelayaran semakin dituntut untuk mengembangkan strategi dan layanan yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen dan pelaku bisnis. Angkutan laut masih akan menjadi sarana pengiriman barang yang paling kompetitif karena kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan,” kata Drajat Irawan.

Tekan High Cost

Terpisah Ketua Umum INSA, Carmelita Hartoto mengatakan pemanfaatan teknologi digital pada industri pelayaran perlu dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan mendorong peningkatan potensi maritim secara terpadu, seperti transportasi laut, pelabuhan, industri galangan kapal.

Namun,  diakuinya digitalisasi pelayaran di Indonesia masih minim. Belum banyak pemain. Mau tak mau memasuki era digitalisasi dan kebutuhan pelaku bisnis di era pandemi Covid-19 dengan segala keterbasan pergerakan, pelaku usaha pelayaran harus mengembangkan sistem layanan online sehingga proses bisnis menjadi lebih efisien dan cepat dan pada akhirnya mampu menekan biaya logistik.

“Industri maritim harus siap menghadapi era digitalisasi dan tuntutan zaman dengan cara memanfaatkan teknologi informasi serta mengubah pola pikir. Selain untuk menghadapi persaingan global, penerapan digitalisasi di industri maritim diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi di sektor maritim,” ujar Carmelita.

Carmelita wanti-wanti penerapan teknologi di sektor maritim khususnya di atas kapal harus menjadi perhatian.  Salah satu alasan adalah jaringan internet yang mahal dan bandwidth yang terbatas dikarenakan kapal berada ratusan atau ribuan mil dari daratan terdekat dimana konektivitas jaringan internet harus disediakan melalui satelit.

Perlu adanya penyediaan jaringan satelit yang kompetitif dan andal, mengingat kapal berada di tengah laut yang membutuhkan jaringan satelit yang efisien. “Sehingga meski di tengah laut tetap bisa memberikan update secara real time informasi yang dibutuhkan pelaku usaha yang menggunakan jasa pengiriman kargo,” katanya.

Sementara itu dalam acara Virtual Expo Maritime Indonesia 2021 pada Oktober 2021 lalu, Menteri Koordinator Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto menyebut digitalisasi menjadi solusi pemerintah untuk menurunkan biaya logistik pelabuhan. Dia menjelaskan, saat ini dunia sedang mengalami gangguan rantai suplai logistik atau supply chain logistics terutama terkait dengan pasokan kontainer yang terbatas, sementara permintaan logistik antar negara meningkat.

“Pelabuhan-pelabuhan internasional juga masih menjadi sumber kemacetan dan ini ditambah dengan kenaikan harga-harga komoditas yang tinggi akibat demand yang naik secara cepat,” kata Airlangga Hartarto.

Menurutnya, untuk menghadapi tantangan tersebut, sektor pelayaran dan kepelabuhan harus bisa beradaptasi dengan tingginya permintaan (demand). Sekaligus harus mencari jalan keluar agar biaya logistik yang merupakan jantung dari perdagangan bisa terjaga.

“Biaya logistik ini akan turun jika pasokan dan permintaan logistik yang efisien bisa dicapai tidak hanya di dalam negeri tetapi di luar negeri. Dan digitalisasi teknologi informasi adalah kuncinya,” katanya. (*)

baca juga :

Kerjasama Pendidikan PEM Akamigas dengan Pemkab Blora, 39 orang Berebut Besiswa

Titis Global News

6 Laskar FPI Tewas Ditembak, Gatot Nurmantyo Sebut Perbuatan Brutal dan Kejam

Redaksi Global News

Biaya Mengurus Izin Kapal Makin Murah, Nelayan di Jatim Antusias