Global-News.co.id
Sport Utama

Maso Bersaudara, Korban Perang Suriah Akhirnya Bertemu di Olimpiade Tokyo 2020

The Sun
Korban perang suriah, Maso bersaudara berpelukan di Olimpiade Tokyo 2020.

TOKYO (global-news.co.id) – Perang saudara di Suriah telah menceraiberaikan banyak keluarga. Banyak anggota keluarga yang memilih migrasi ke luar negeri, namun sebagian anggota keluarga lain masih menetap di Suriah. Namun  Olimpiade Tokyo 2020 bisa mempersatukan keluarga yang telah bercerai berai itu. Salah satunya yang dialami atlet Suriah bersaudara, Mohamad dan Alaa Maso.

Mereka membuat sejarah bersaing untuk dua tim berbeda di Olimpiade Tokyo 2020. Mohamad yang berusia 28 tahun berlomba di triathlon di bawah bendera Suriah. Tapi adiknya Alaa (21) ikut renang dan mewakili Tim Pengungsi IOC. Dan foto pasangan dua kakak beradik yang berpelukan pada upacara pembukaan telah menjadi viral.

Maso bersaudara dibesarkan di Suriah bersama-sama dan keduanya dilatih sejak usia dini oleh ayah mereka. Tetapi dengan perang yang menghancurkan negara itu, Mohamad dan Alaa meninggalkan Aleppo pada 2015 untuk melakukan perjalanan ke Eropa dan tidak melihat orangtua mereka sejak itu.

Mereka melakukan perjalanan melalui Turki, Yunani, Makedonia Utara, Serbia dan Austria sebelum menetap pertama di Belanda kemudian pindah ke Jerman pada tahun berikutnya. Namun meski Mohamad memilih negara kelahiran mereka, Alaa memilih Tim Pengungsi IOC.

Manajer komunikasi federasi olahraga Suriah Safwan al-Hindi mengatakan foto itu diambil dalam skala yang tidak dapat dibayangkan. ’’Mohamad dan Alaa tinggal bersama di Jerman. Mereka tiba bersama di Tokyo. Banyak keluarga mereka masih tinggal di Suriah,’’ kata Safwan al-Hindi.

’’Pelukan itu adalah gerakan spontan antara dua bersaudara. Tetapi beberapa media dan jejaring sosial membawa cerita ke arah lain,’’ katanya lagi.

Mohamad selesai mengikuti triathlon sebelumnya pada Senin, dengan Alex Yee mengklaim perak. Alaa membuka kampanye Olimpiadenya dengan berlomba di nomor gaya bebas 50m di pada Jumat.

Berbicara kepada Olympics.com tentang keterlibatannya di Olimpiade untuk tim pengungsi, adik Maso mengatakan kesempatan tersebut sangat berarti bahwa dunia telah berhenti melihat pengungsi sebagai masalah dan mengenali mereka sebagai manusia nyata yang telah mengatasi banyak hal.

“Saya sangat bersyukur bisa berenang karena saya benar-benar tidak tahu apa yang akan saya lakukan tanpa berenang. Situasi (di Suriah) selalu tenggelam dan tidak pernah bangkit. Saya perenang, dan tidak ada jaminan selamat, tidak ada alasan untuk melanjutkan olahraga kami. Tidak ada kejuaraan negara, tidak ada apa-apa,” kata Alaa. sin, tri

baca juga :

GLOBAL NEWS Edisi 265 (8-14 Oktober 2012)

Redaksi Global News

Komnas HAM Soroti Pembubaran Ormas: Tidak Boleh Tanpa Mekanisme Proses Peradilan

Redaksi Global News

Wagub Emil Tekankan Pentingnya Pemahaman Masyarakat terkait Perlindungan Konsumen

Redaksi Global News