Global-News.co.id
Ekonomi Bisnis Utama

LPPNU Minta Pemerintah Perbanyak Cluster Olah Porang di Jatim

Mentan Syahrul Yasin Limpo melepaskan ekspor Porang ke China, Selasa (19/11/2019) lalu. (Dok.Kementan)

SURABAYA (global-news.co.id) – Petani Jawa Timur (Jatim) semakin banyak yang beralih menanam Porang setelah tanaman umbi-umbian ini diyakini mempunyai manfaat sebagai bahan baku kosmetik, lem, dan jelly. Hasil pertanian Porang pun banyak diekspor ke luar negeri seperti ke China, Jepang, Taiwan, Thailand, Korea Selatan, dan Australia.

Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (PW-LPPNU) Jawa Timur, Ghufron Achmad Yani, saat dimintai tanggapan oleh Global News, Rabu 7 April 2021, membenarkan bahwa Porang saat ini sedang naik daun karena ada permintaan pasar dari luar negeri. Karena itu menjadi ambigu jika ekspor Porang ke luar negeri dilarang.

“Ekspor Porang selama ini dilakukan dalam bentuk chips bukan umbi Porang. Diversifikasi pangan terhadap Porang di masyarakat kita masih butuh sosialisasi dan sentuhan teknologi. Maka pemerintah harus hadir dalam pendampingan bagi petani Porang baik budidaya maupun pengolahan pasca panen sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat dengan cara membetuk cluster-cluster pengolahan Porang,” kata Ghufron Achmad Yani.

LPPNU Jatim mengingatkan pentingnya mengolah hasil pertanian di dalam negeri untuk kemudian diekspor ke luar negeri. Artinya, ekspor bukan bahan mentah, tapi sudah berbentuk produk olahan. “Masak kita yang punya (Porang), negara lain yang menikmati hasilnya. Prinsipnya, budidayakan di sini, olah di sini, baru pasarkan di sana (luar negeri),” katanya.

Indonesia, kata dia, adalah anugerah Allah SWT yang tak ternilai bagi bangsa ini. “Maka, harus bisa kita nikmati dan syukuri bersama,” katanya.

Sebelumnya Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Hadi Sulistyo, mengatakan, pihaknya mendukung penuh petani memperluas area tanam Porang. Tak terkecuali petani Porang di Ponorogo dan Madiun.

“Porang cukup potensial di Jatim, di beberapa kabupaten seperti Madiun, Malang, Jember, sementara ini yang lagi intens di Madiun,” kata Hadi saat ditemui di Desa Bedingin, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo, kemarin.

Yang menarik dia juga menyebut tidak ada ekspor Porang sebab akan diolah di Jatim. “Ya, itu Gubernur menerbitkan Pergub supaya tidak ada ekspor Porang,” katanya, seperti dikutip dari detik.com. Saat dikonfirmasi lagi soal larangan ekspor Porang ini, Hadi meminta agar Global News menanyakan ke Kepala Dinas Kehutanan Jatim Mas Purnomo Hadi. Tapi sampai berita ini diturunkan Mas Purnomo Hadi belum menjawab pesan singkat via WhatsApp yang dikirim oleh Global News.

Menurut Hadi Sulistyo, Gubernur Jatim ingin pengolahan Porang dilakukan di Jatim. Umbi Porang mengandung glukomanan yang baik untuk kesehatan serta memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Saat ini, banyak permintaan Porang dari Jepang, China, Vietnam, dan Australia. “Potensi porang di Ponorogo juga bagus. Usai launching di Madiun, baru ke Ponorogo,” kata Hadi.

Hadi menambahkan, saat ini dari Pemerintah Pusat, Madiun mendapat bantuan untuk pengembangan komoditas Porang. Termasuk bantuan untuk mempermudah Kredit Usaha Rakyat (KUR). “Dari pusat yang dapat bantuan di Madiun. Nanti diperkirakan minggu depan ada launching oleh Gubernur untuk KUR di Madiun,” katanya.

Disinggung soal mekanisme KUR, lanjut Hadi, pihaknya hanya bertugas sebagai fasilitator. Sementara yang menentukan berhasil atau tidaknya KUR dari bank yang bersangkutan. “Petani yang mengajukan ke bank, nanti bank yang mengucurkan dana KUR, kita hanya fasilitator saja,” katanya.

Saat ini Kabupaten Madiun menjadi sentra Porang di Indonesia. Bahkan sudah ada pabrik Porang di daerah ini. Saat ini, kebutuhan Porang meningkat namun pasokan masih kurang. Karena itu banyak petani memilih menanam Porang. PT Asia Prima Konjac yang ada di Jalan Raya Caruban-Ngawi, Desa Kuwu, Kecamatan Balerejo merupakan satu-satunya pabrik Porang di Madiun.

“Jadi kami memang pertama di Madiun untuk menampung produksi umbi Porang yang makin meningkat kebutuhannya,” ujar Direktur Utama PT Asia Prima Konjac, Revie Christianto Gozali.

PT Asia Prima Konjac di Madiun, kata Renvie, siap menampung hasil panen petani Porang dari seluruh Indonesia. Dalam setahun pabrik itu baru mendapat 20 ribu ton dan dinilai masih kurang. “Kita saat ini baru mendapatkan 20 ribu ton setahun dan tentu sangat kekurangan dan maksimal bisa 60 ribu ton tahun ini,” kata Revie.

Revie mengatakan, dengan jumlah 150 karyawan tenaga staf dan produksi, dalam sehari mampu memproduksi 80 ton umbi basah diolah menjadi chips. Chips Porang yakni irisan umbi yang dikeringkan dengan cara open tanpa sinar matahari. (gas/det)

baca juga :

Cegah Covid-19, Sekdaprov Jatim Ajak Seluruh Elemen Masyarakat Disiplin Prokes

Redaksi Global News

HPSN 2021, Pemkot Surabaya Terima Penghargaan Kinerja Pengurangan Sampah dari KLHK

Titis Global News

Berat Peluang Dapat Penghargaan KemenPAN- RB