Global-News.co.id
Na Rona

Tak Punya E-Toll, Kok Masuk Jalan Tol

GN/Istimewa

“Pak (Mat Tadji), besok Minggu ada latihan di Sembayat, Gresik,” kata Abah Awi mengingatkan Mat Tadji untuk meliput perkumpulan kesehatan yang mengadakan latihan bersama di Sembayat.

“Siap abah,” sahut Mat Tadji, sehari sebelum acara dimulai

Hari yang ditentukan telah tiba. “Palang areyah. Mon ka Semabayat kodhuh alebedieh duwek labang tol (Celaka. Kalau ke Sembayat harus meliputi 2 pintu tol, Madura, Red). Sementara sejak kebijakan non tunai untuk masuk tol dimulai sejak 31 Oktober, saya tak punya kartunya (E-Toll),” keluh Mat Tadji, sebelum berangkat ke Sembayat.

Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00. Sementara acara akan dimulai sekitar jam 07.00 pagi. Karena takut telat, Mat Tadji langsung saja memacu mobil. Dia berfikiran, gerbang tol yang ada di kawasan Waru bisa menerima pembayaran tunai. Apalagi temannya pernah mengatakan, dalam keadaan darurat petugas masih berkompromi untuk membayar tunai.

Mendekati pintu tol yang tidak terlalu padat, karena masih pagi, Mat Tadji dikagetkan dengan pintu palang tol yang tak tertutup. “Maaf pak, kartu E-Toll saya habis. Mohon sekali diamaafkan. Saya mau bayar tunai ya pak,” pinta Mat Tadji.

“Silahkan. Rp 3.500 ya pak. Bayar uang cash saja. Tak ada kembalian,” kata sang petugas.

Lalu Mat Tadji mengeluarkan uang Rp 3.500, langsung diberikan kepada petugas. Mat Tadji sempat bertanya mana karcisnya, tetapi sang petugas mengatakan, pihaknya sudah tak menyediakan karcis non tunai. Aneh, tak menyediakan pembayaran non tunai, tetapi uang tunai dari Mat Tadji.

“Silahkan bapak berjalan,” kata petugas  tanpa basa-basi.

Mat Tadji pun langsung menancapkan gas mobil putihnya. Dalam benak Mat Tadji ada beribu tanda tanya. Tujuan pemerintah mengeluarkan E-Toll untuk mempercepat pelayanan dan memperkecil bahkan menghilangkan korupsi, tetapi mengapa dalam masalah ini masih ada korupsi?

Areyah sengkok se sala. Coba sengkok andhik kartu E-Toll tak kerah bedheh korupsi e labang tol. Tapeh arapah petugas aladinih oreng se masokkah tol  tak andhik kartu terros ekalak bajeren. (Ini saya yang salah. Andai saya mempunyai kartu E-Toll tak mungkin ada praktik korupsi di pintu tol. Tetapi mengapa petugas mau menerima orang yang tak punya kartu, tetapi ditarik tarifnya, Madura , Red)

Mat Tadji memang sedikit stres, karena sebentar lagi dia masuki pintu tol Tandes . “Bapak tidak boleh masuk. Bapak tak punya kartu E-Toll,” kata petugas tol pintu Tandes setelah Mat Tadji mendekat petugas.

“Bagaimana cara saya keluarnya pak. Di belakang ada tiga mobil dan sudah mepet semua. Tak bisa keluar. Ayo la pak saya bayar tunai, sekali ini saja,” pinta Mat Tadji.

“Tak bisa. Coba bapak pinjam kartu di mobil yang belakang. Nanti bayarnya kepada pemilik kartunya. Rp 13.000 ya… bayarnya,” kata petugas sedikit ketus. Sementara deretan mobil di belakang semakin bertambah. Satu dua membunyikan klakson-nya. Tiiittt. Tiiittt. Tiiitttt.

Rupanya Mat Tadji ada di ruang keberuntungan. Mobil yang dibelakangnya, dengan tulus memberikan pinjam kartu untuk digesekkan, sehingga pintu tol bisa terbuka. “Terima kasih ya pak,” kat Mat Tadji mengembalikan kartu sambil memberikan uang kepada orang yang baik hati itu sesuai tarif yang berlaku, yakni Rp 13.000.

Perjalanan kali ini, Mat Tadji benar-benar tak nyaman. Ini gara-gara dirinya tak punya E-Toll. Dihardik petugas. Diklasoni yang antre dibelakangnya, sehingga membuatnya dia tergopoh-gopoh. Setelah keluar dari pintul tol Sembayat,  Mat Tadji sedikit bernafas lega. “Urusan pulangnya bagaimana? Nanti saja. Yang penting sekarang bisa latihan atau terapi, untuk kesehatan,” pikirnya.

Di lapangan, Mat Tadji dengan serius berlatih. Keringat pun bercucuran. Seolah dirinya lupa kejadian masuk tol yang cukup menyusahkan. Dan benar, dia bermasalah lagi masuk tol saat pulang. Seperti sebelumnya, dia meminta bantuan mobil di belakangnya (atau meminjam—membayar— kartu pengendara di belakangnya).

Sesampainya di rumah, Mat Tadji bercerita puteri bungsunya, Dindot. “Tadi papi susah banget masuk tol, karena tak punya E-Toll,” katanya.

“Kalau sudah tahu begitu, sebaiknya papi membeli kartunya toh. Nanti kalau masuk tol bersama adek (Dindot), awas lo yooo kalau sampai tak punya E-Toll,” canda Dindot.(*)

baca juga :

Ditawari Obat Kuat

Redaksi Global News

‘Hartaku untuk Kesehatan’

Redaksi Global News

Hanya di Irak, Pembeli Pertama Bayar Seikhlasnya

gas