Global-News.co.id
Nasional Utama

Temui WNI di Tokyo, Menteri ESDM Jelaskan Energi Terbarukan

GN/Tribun
Menteri ESDM Ignasius Jonan sat berbicara di hadapan ratusan WNI di Tokyo.

TOKYO (global-news.co.id)-Kunjungan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan ke Sekolah Republik Indonesia Tokyo, Minggu (14/5/2017), dimanfaatkan betul untuk menjelaskan soal energi terbarukan.

“Kita berkomitmen tahun 2025 sedikitnya 25 persen energi dari energi terbarukan. Kini baru 8 sampai 9 persen dan apabila digabung dengan transportasi mungkin sudah 11 persen,” kata Jonan di hadapan sedikitnya 200 warga negara Indonesia (WNI).

“Presiden kita sangat berkomitmen terhadap perubahan iklim karena menandatangani COP Desember 2015 lalu mengenai Green Energy,” lanjut Jonan.

Energi hijau itu sebenarnya adalah energi terbarukan seperti energi dari laut, matahari, panas bumi, biomas dan sebagainya.

Dalam kesempatan tersebut, Jonan mengungkapkan perjuangan supaya bisa mencapai target tersebut. “Setidaknya 23 persen kita coba raih nanti dengan energi terbarukan ini,” ujarnya.

Meskipun demikian, kata Jonan, harga harus affordable, dapat teraih dengan baik oleh masyarakat. “Harga listrik harus juga bisa teraih dengan baik bagi masyarakat dong. Kalau tidak bisa teraih masyarakat, kemahalan kan jadi useless nanti,” kata dia.

Selain itu Menteri Jonan juga mengingatkan adanya proyek kelistrikan panas bumi SaRula di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Indonesia.

“Bayangkan satu kompleks panas bumi di Sarula Tengah Sumatera Utara dengan COD sebesar 110 Megawatt kali tiga menjadi 330 Megawatt untuk sistem jaringan listrik Sumatera Utara kan besar sekali bukan?” kata dia. Harga listrik tersebut menurut Jonan dijual dengan harga 6,7 cent dollar AS.

“Bayangkan kalau dijual misalnya 12 hingga 15 cent, maka harga listrik mau dijual berapa kepada masyarakat? Nanti diprotes pula seperti anggota masyarakat kita tadi dan saya tanya disubsidi nggak? Dijawab tidak disubsidi, ya sudah kan,” katanya.

Seorang masyarakat Indonesia di Jepang kemarin menanyakan, mengapa harga listrik yang dibayarnya di Bogor mendadak tinggi, apakah ada kenaikan harga listrik?

“Sebenarnya tidak ada kenaikan harga listrik. Yang benar adalah subsidi dicabut dari pemerintah,” kata Menteri Jonan menjawab WNI tersebut.(ins)

baca juga :

Bupati Badrut Tamam Ajak Jadikan Tahun Baru 2020 Momentum Syukur dan Muhasabah

gas

Gubernur Khofifah Resmi Buka MTQ XXIX Jatim di Pamekasan: Menebar Spirit Qurani ke Seluruh Penjuru Negeri

gas

Kisah Wartawan Radio Australia Asal Indonesia, Tetap Mempertahankan Ciri Khas Indonesia

Redaksi Global News