Kebakaran Lahan di California Luasnya Tiga Kali Lipat Wilayah Surabaya

Pemandangan kebakaran hutan dan lahan di California.

CALIFORNIA (global-news.co.id) Kebakaran hutan dan lahan di California telah satu pekan berlalu. Namun bukannya semakin berkurang, namun luasannya semakin bertambah dan menyulitkan ratusan pemadam kebakaran yang ditugaskan untuk menanganinya tidak hanya dari darat tapi juga wilayah udara.

Dengan luas 93 ribu hektare di Ventura dan Santa Barbara, Kebakaran Thomas kini menjadi kebakaran hutan terbesar di sejarah modern California. Kalau dibandingkan dengan luas wilayah Surabaya, luas wilayah yang terbakar mencapai hampir tiga kali lipatnya. Mengutip Wikipedia, luas wilayah Surabaya 35.050 hektare.

Bahkan luas wilayah yang terbakar lebih luas dari New York City (78.900 hektare). Badan Perlindungan Kebakaran CAL FIRE menyebutkan, hingga berita ini ditulis, Selasa (12/12/2017), baru 15 persen dari daerah yang terbakar yang berhasil dikendalikan.

Kondisi api membaik jika dibandingkan akhir pekan lalu, tapi angin masih terus berembus dengan kecepatan 30-60 kilometer per jam, kata meteoroligs Taylor Ward.

Siaga merah untuk sebagian besar Los Angeles dan Ventura diperpanjang hingga Senin malam, kata Badan Cuaca Nasional. Artinya, peningkatan kondisi api diperkirakan akan terjadi akibat angin kencang dan kelembaban rendah.

Sekitar 94.607 orang terpaksa dievakuasi di Ventura dan Santa Barbara, Minggu, sementara jumlah korban tewas tetap berada di angka satu.

Sebanyak 1.000 bangunan rusak karena kebakaran itu. Sementara api berlalu ke daerah baru dari hari ke hari, warga yang sempat dievakuasi hanya bisa melihat puing rumahnya saat sudah diperbolehkan pulang.

Sementara itu, Gubernur California Jerry Brown menyalahkan Presiden Donald Trump atas kebakaran hutan terburuk di Amerika Serikat. Menurutnya, kebakaran hebat yang melanda wilayah negara bagian yang dipimpinnya karena Trump menunjukkan sikap seakan tidak takut dengan Tuhan.

“Saya tidak berpikir bahwa Presiden Trump takut pada Tuhan, takut akan murka Allah, yang membuat seseorang bisa menjadi lebih rendah hati,” kata Brown.

Dalam pernyataan yang diberikan pada Minggu, 11 Desember 2017 itu, Brown menuding murka Tuhan terjadi setelah Trump menarik diri dari upaya kampanye perubahan iklim.

Brown mengatakan langkah Trump menarik diri dari Paris Climate Agreement ‘berkontribusi’ terhadap bencana di Southern California, yang kini memasuki pekan kedua. Paris Climate Treaty dianggap banyak orang sebagai upaya untuk memperlambat pemanasan global.

Brown termasuk di antara segelintir politisi Negeri Uncle Sam yang berjanji untuk tetap melakukan perang melawan perubahan iklim bahkan setelah Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan iklim Paris, dengan mengatakan bahwa hal itu tidak baik untuk negara.

Pada Juni, Trump membuat kejutan saat membuat keputusan untuk meninggalkan perjanjian iklim Paris, yang diikuti 195 negara lain di dunia.

Sebagai catatan, Amerika Serikat tidak pernah mengadopsi kesepakatan iklim sebelumnya, termasuk Protokol Kyoto 1997, yang tampaknya mempengaruhi kredibilitas dan penguasaannya terhadap emisi karbon. Trump mengikuti keputusan ini.(ins)