Gairah Menjelang Tahun Baru Imlek di Kota Solo

Imlek Solo

GN/TOTOK SUWARTO BERGAIRAH : Pelepasan burung pipit di depan Kelenteng Tien Kok Sie Pasar Gede Solo, dalam upacara Pao Oen (bahasa Jawa ruwatan) menyambut Tahun Baru Imlek 2567. Tampak seorang umat Tridharma bersembahyang di Kelenteng Tien Kok Sie Pasar Gede.

SOLO-Menjelang Tahun Baru Imlek 2567 atau tahun 2016 Masehi ini, warga Kota Solo khususnya yang bermukim di Kampung Balong dan Kampung Kepanjen, Kelurahan Sudiroprajan, seperti tenggelam dalam kesibukan. Bukan hanya etnis Tionghoa yang secara turun-temurun sejak leluhur mereka membawa tradisi Imlek, tetapi etnis lain termasuk warga Jawa.

Ketua Panitia Bersama Imlek 2567 atau 2016 Masehi Sumartono Hadinoto menyatakan, Selasa (26/1/2016), di Kota Solo perayaan Tahun Baru Imlek, personelnya bukan hanya berasal dari pengurus organisasi Tionghoa, tetapi melibatkan berbagai komunitas dan golongan masyarakat.

“Perayaan Tahun Baru Imlek sendiri sudah diterima masyarakat Solo yang multi-kultural. Itu sebabnya, pada Tahun Baru Imlek 2567 ini kami mengambil tema Budaya Imlek Memperkokoh NKRI. Karena kami sadar, Tahun Baru Imlek yang sudah menjadi milik semua kalangan hendaknya dipandang sebagai kegiatan bangsa Indonesia dan menjadi salah satu budaya yang harus dilestarikan,” ujarnya.

Panitia bersama, menurut Sumartono, telah memiliki agenda baku, seperti pemasangan lampion 12 shio dan 12 horoskop Tionghoa di koridor Jl. Jend. Sudirman, memasang 4.000 lampion di seputar Kelenteng Tien Kok Sie dan Pasar Gede, mengadakan Solo Imlek Festival dan kirab budaya Gerebeg Sudiro yang melibatkan multi-etnis. Khusus tentang kirab budaya Gerebeg Sudiro yang merupakan prakarsa masyarakat dengan nuansa pembauran alamiah, dia menyatakan, rangkaian kegiatannya meliputi ritual “Umbul Mantram” di Bok Teko dan arak-arakan gunungan yang terbuat dari satu ton kue keranjang khas tahun baru Imlek.

Sementara di Kelenteng Tien Kok Sie Pasar Gede, Solo, sejak Sabtu dan Minggu (23-24/1/2016) sudah mengawali rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek 2567/2016. Umat Tridharma (Buddha, Tao dan Konghucu) pada Sabtu malam melaksanakan upacara tradisi sembahyangan Pao Oen, semacam upacara ruwatan dalam tradisi Jawa. Keesokan harinya, umat Tridharma melepas 888 burung pipit ke udara dan 888 ikan lele ke Sungai Bengawan Solo.

“Ritual burung dan ikan ini sebagai wujud penyatuan kami dengan alam sebagai simbol pembebasan manusia dari dosa. Sedangkan jumlah burung dan ikan yang kami lepas 888, karena angka 8 yang bentuknya berhubungan tidak putus-putus, dalam tradisi Tionghoa dipercaya akanmembawa berkah untuk kehidupan yang tiada putus,” kata Ketua Pengurus Kelenteng Tien Kok Sie Pasar Gede, Henry Susanto.
Dalam upacara sembahyangan Pao Oen di Kelenteng Tien Kok Sie pada Sabtu (23/1/2016), ratusan warga dengan khusyuk mengikuti pembacaan doa-doa. Menurut Henry Susanto, ritual Pao Oen adalah salah satu tradisi Tionghoa untuk membersihkan diri dari dosa selama satu tahun. Ritual ini juga sebagai ucapan terima kasih kepada Tuhan yang Maha Esa karena telah memberi rahmat selama tahun kambing kayu sekaligus menyambut tahun monyet dengan harapan mendapat keberhasilan, kesehatan dan kedamaian. (tok)

Tag: