Global-News.co.id
Pendidikan Utama

FH Unair Sabet Peringkat Dua di Indonesia dalam “Law and Legal Studies” QS WUR 2021

Dekan FH Unair Iman Prihandono SH,MH, LLM, PhD

SURABAYA (global-news.co.id) – Reputasi membanggakan sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia kembali diraih Unair. Kali ini melalui akreditasi internasional dari Quacquarelli Symonds World University Rankings (QS WUR) 2021 untuk subjek Law and Legal Studies yang menempatkan Fakultas Hukum (FH) Unair di posisi 251 – 300 atau peringkat dua di Indonesia.

Dekan FH Unair Iman Prihandono SH,MH, LLM, PhD menjelaskan bahwa QS WUR mengakreditasi suatu universitas melalui empat indikator penilaian, yakni employer reputation, academic reputation, research citations per paper, dan H-index. Academic reputation, tandasnya, melihat dari sisi academic peer list. Employer reputation menilai kuantitas dan kualitas lulusan yang dapat diterima di dunia pekerjaan. Research citations per paper menilai kuantitas tulisan-tulisan para akademisi di FH Unair yang dijadikan rujukan atau sitasi dalam tulisan-tulisan lain.

“Sementara H-index menilai bagaimana dampak tulisan-tulisan para akademisi FH Unair tersebut terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, atau lebih mudahnya adalah kualitas tulisan yang mensitasikan tulisan dari akademisi FH Unair,” jelasnya dalam siaran resmi, Senin (15/3/2021).

Sementara itu, sambung Iman, FH Unair mendapatkan nilai terbesar di employer reputation, yang berarti bahwa alumni mendapatkan penilaian yang sangat baik dalam dunia kerja. Terbesar kedua adalah academic reputation.

“Selama 5 tahun terakhir, kita mulai sering mengirimkan lecturer exchange, student exchange, joint publication dengan universitas-universitas lain di luar negeri,” ujar pakar Hukum Perdagangan Internasional itu

Iman mengatakan bahwa FH Unair akan terus mempertahankan dan meningkatkan kedua nilai indikator tersebut. Untuk academic peer list, tercatat bahwa FH Unair menarget sebanyak sekitar 90 dosen tamu dari luar negeri untuk mengajar di Kampus Merah selama 2021, begitu juga sebaliknya dosen FH Unair mengajar di luar negeri.

FH Unair juga akan lebih melakukan reach out terhadap para alumni dengan karir yang membanggakan demi menaikkan skor employer reputation. Iman mengatakan bahwa hubungan antara fakultas dengan alumni harus lebih distabilkan dengan program-program khusus, tak hanya insidentil saja.

“Untuk 5 tahun ke depan, kita berencana untuk menginisiasi program kelas alumni. Jadi setidaknya tiap mata kuliah, satu kelas harus diisi oleh seorang alumni. Mungkin ada sekitar 50an mata kuliah dalam satu semester. Jadi kurang lebih dalam satu tahun kita bisa menghadirkan sekitar 100 alumni. Hal ini agar alumni dapat merasa menjadi bagian krusial dari almamaternya, dan kami juga mendapatkan manfaat dengan alumni dapat memberikan ilmu terkait praktik di lapangan yang sekiranya tidak didapatkan oleh dosen,” tutur alumni University of Sydney itu.

Selanjutnya, FH Unair juga akan terus meningkatkan nilai sitasi dan h-index. Iman berucap bahwa dosen harus ditarget untuk meningkatkan publikasi tulisannya dalam waktu satu tahun, namun tentunya publikasinya harus berkualitas. Dengan itu, ia menambahkan bahwa kualitas penelitian juga tentu harus ditingkatkan. Penelitian hukum di FH Unair hendaknya tidak lagi hanya sekadar penelitian dasar dan deskriptif, namun juga harus lebih analitikal dan antisipatif terhadap perkembangan hukum ke depannya. “Kita mau fokus terhadap tiga koridor penelitian besar yang akan didorong,” tandasnya.

Pertama, berkaitan dengan teknologi ia menjelaskan bahwa hukum harus bisa mengantisipasi perkembangan teknologi dalam segala aspek kehidupan manusia, seperti transaksi ekonomi, penggunaan AI, dan cryptocurrency. Kedua adalah energi, karena dunia akan dihadapkan oleh tantangan perubahan energi, yakni transisi dari non renewable energy menuju renewable energy. Tentu hukum harus bisa mengantisipasi dalam mengakomodir transisi tersebut, baik dari segi hukum investasi dan international trade-nya.

“Ketiga adalah terkait sustainable development goals (SDG). Problema terkait SDG adalah kemiskinan, kesehatan, pangan dan Indonesia masih memiliki seluruh problema itu, untuk itu ambil hukum juga harus ambil peran disitu,” tutupnya. tri

baca juga :

Gelar Dekan Cup 2020, FK Unair Ajak Jaga Kesehatan Jantung lewat ‘Airun’

Redaksi Global News

UTBK-SBMPTN 2 Gelombang, Waktunya Dipangkas

Gubernur Khofifah Mendampingi Menkes Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 untuk Lansia di Surabaya

Titis Global News