Global-News.co.id
Indeks Kesehatan Utama

Ragu-ragu Vaksinasi Covid-19, Warga Pilih Lihat Efek Dulu

Di tengah keraguan sebagian orang, Indonesia akan memulai vaksinasi Covid-19 pada 13 Januari mendatang.

Program vaksinasi Covid-19 semakin dekat. Dijadwalkan 13 Januari akan menjadi tanggal dimulainya penyuntikan vaksin sebagai upaya mencegah meluasnya penularan penyakit Covid-19. Lantas bagaimana respon masyarakat terkait vaksinasi ini?

Oleh: Retno Asri

Meski prioritas pertama yang akan divaksin adalah sumber daya manusia (SDM) kesehatan, namun seluruh masyarakat yang berusia antara 18 hingga 59 tahun –kecuali dengan kondisi tertentu seperti hamil atau memiliki penyakit komorbid– harus siap menjalaninya. Karena vaksin ini diharapkan bisa membuat imun tubuh jadi lebih baik. “Karena dengan tubuh mengenali virus, dia bisa lebih tahan. Vaksin ini akan membuat imunitas masyarakat bagus,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, dr Herlin Ferliana MKes, saat menerima vaksin buatan Sinovac, Senin (4/1/2021).

Kendati diharapkan bisa mengurangi meluasnya wabah Covid-19, namun tak semua masyarakat siap dengan program vaksinasi yang diberikan secara gratis ini. Beberapa merasa khawatir, lantaran vaksin Covid-19 merupakan sesuatu yang baru. “Ini kan barang baru, saya belakangan saja. Sambil lihat efek sampingnya dulu,” ujar Pratiwi, Rabu (6/1/2021).

Diakui, bukan dia saja yang memilih melihat respon orang yang sudah divaksin, tapi juga teman-teman di kantornya. “Mereka masih muda-muda, awalnya banyak yang pengen vaksin. Tapi begitu pemerintah mendatangkan, mereka malah jadi ragu-ragu,” ujar perempuan paro baya ini.

Keraguan juga menghinggapi diri Laila. Dengan nada keras dia bahkan melarang keluarga besarnya untuk ikut vaksinasi. “Kalau boleh saya paling akhir saja. Nanti aja nunggu 5 tahun lagi, setelah melihat reaksi mereka yang sudah divaksin duluan,” ujarnya.

Begitu pun Lydia. Ibu satu anak yang bekerja di institusi kesehatan ini mengaku dirinya akan divaksin atau tidak, tergantung izin suami. “Dia membolehkan atau tidak, saya belum tahu. Tapi sesungguhnya saya belum siap. Kan ada tes-nya segala nanti,” kata Lydia.

Sementara dokter Prih dengan berat hati menolak vaksinasi Covid-19. Dokter yang sebelumnya bertugas di puskesmas di Tuban ini mengaku sebetulnya mau, tapi lantaran komorbid-nya banyak, keinginan itu harus dipendamnya. “Saya takut karena ada komorbid. Saya rutin HD (cuci darah). Kalau nggak HD mungkin masih bisa ya, pokoknya kan nggak jadi kelinci percobaan,” ujarnya.

Berbeda dengan Hendy, Endang, dan Tita, yang mengatakan siap saja kalau mendapat kesempatan divaksin. “Dengan vaksin apa pun saya siap. Saya yakin pemerintah pasti sudah memperhitungkan dan saya juga yakin pemerintah tak mungkin akan menyengsarakan warganya,” ujar Tita.

Sebagai istri polisi, Tita berharap bisa ikut pula divaksin saat suaminya nanti juga mendapatkan. “Nggak masalah Sinovac atau yang lainnya,” lanjutnya.

Dengan nada tinggi Endang justru bertanya, kenapa nggak siap. “Saya sekeluarga siap saja begitu ada sms untuk konfirmasi menjalani vaksinasi. Lillahi ta’ala saja. Pasrah yang terbaik,” ujar dia.

Endang menyebut, prioritas pertama memang SDM kesehatan. Salah seorang anaknya adalah dokter, karena itulah dia tahu betul bagaimana repotnya kalau vaksinasi itu tidak berjalan sesuai harapan. “Kasihan para nakes, masa mereka harus jadi korban lagi,” tambahnya.

Dalam pekan ini, pemerintah sudah mendistribusikan vaksin Covid-19 buatan Sinovac ke 34 provinsi dari semula hanya ke 6 provinsi besar yang jadi prioritas. Provinsi Jawa Timur yang sedianya mendapatkan 316 ribu unit, karena adanya kebijakan baru  itu jadi kebagian 77.760 unit. Jika satu orang harus divaksin dua kali, maka untuk tahap pertama diperuntukkan 38.880 orang.

Herlin menyebut, prioritas pertama yang akan divaksin adalah sumber daya manusia (SDM) kesehatan yaitu orang-orang yang bekerja di layanan kesehatan atau dinas kesehatan, meliputi dokter, perawat, bidan, termasuk pula driver. “Mereka yang akan divaksin adalah orang-orang yang paling berisiko dan yang sudah conform,” ujarnya.

Di Jatim sendiri terdapat 193 ribu SDM kesehatan. Mereka yang menjadi kelompok prioritas  penerima vaksin ini pada tahap pertama akan mendapat pemberitahuan lewat pesan singkat (SMS) dengan ID pengirim: PEDULICOVID.  Selanjutnya pada tahap kedua, penerima SMS harus melakukan registrasi ulang, untuk konfirmasi status kesehatan, memilih lokasi, serta jadwal layanan vaksinasi.

Juru bicara Pemerintah untuk Program Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi MEpid, menyebutkan, tahap registrasi ulang sangatlah penting untuk memverifikasi data penerima vaksinasi Covid-19. Dalam proses verifikasi, peserta diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk mengkonfirmasi domisili serta skrining sederhana terhadap penyakit penyerta yang diderita. Bagi peserta yang terkendala oleh jaringan dan tidak melakukan registrasi ulang, maka proses registrasi dan verifikasi dapat dilakukan oleh Satgas Penanganan Covid-19 di kecamatan.

Seiring didistribusikannya vaksin-vaksin itu, menyusul pelaksanaan vaksinasi, pakar epidemiolog Dr dr Windhu Purnomo MS mengingatkan harus ada edukasi yang baik di masyarakat. Jangan sampai muncul anggapan  toh vaksin sudah ada, sehingga mereka bisa melepas semua atribut. Vaksin dianggap sebagai dewa penolong. “Meski ada vaksin dan telah divaksin, semua tetap harus menjalankan protokol kesehatan 3M. Dan yang paling penting itu perubahan perilaku masyarakat. Menjalankan disiplin protokol kesehatan dan menjalankan gaya hidup sehat, seperti berolahraga, mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi,” ujarnya.*

baca juga :

Penggemar Onthel se-Madura Meriahkan Hari Jadi Pamekasan

gas

Angka Kesembuhan COVID-19 di Surabaya Tembus 3.219 Orang

Gelar Kriya Dekranasda Ditargetkan Jadi Ajang Promosi Daerah

Redaksi Global News