Global-News.co.id
Indeks Politik Utama

Harus Lentur dengan Tuntutan Perubahan, 2024 Hanura Butuh Rebranding

 

Istimewa
Sekjen DPP Partai Hanura Gede Pasek Suardika saat membuka Rapat Pimpinan Daerah I (DPD) Hanura Jawa Timur di Sidoarjo beberapa saat lalu.

 

Partai Hanura (Hati  Nurani Rakyat) telah malang melintang selama 14 tahun di panggung politik Tanah Air. Sempat masuk menjadi salah satu parpol dengan banyak pendukung di awal berdirinya, sayangnya dalam beberapa tahun terakhir pamornya meredup. Partai bertekad come back di panggung politik pada 2024 mendatang.

 

Sempat 10 tahun menikmati legitnya  duduk di parlemen baik di level pusat dan daerah, Partai Hanura sempat mengalami masa emas.  Sejumlah kader Partai Hanura melenggang ke Senayan selama dua periode berturut-turut, yakni periode 2009-2014 dan periode 2014-2019.

Sosok Wiranto tak dipungkiri sempat menjadi magnet partai ini. Nama Wiranto memang sulit dilepaskan dari Hanura yang didirikannya pada 2006. Hanura pula yang mengusung Wiranto sebagai Cawapres di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009, mendampingi Capres Jusuf Kalla.

Namun seiring waktu, semuanya berubah. Partai Hanura mengalami penurunan suara tajam pada Pileg 2019. Partai Hanura hanya memperoleh suara sebesar 1,68 persen.

Jumlah suara tersebut tidak hanya membuat Hanura gagal meraih kursi di parlemen. Tapi jelas menunjukkan penurunan drastis jika dibandingkan perolehan suara Hanura yang mencapai 5,26 persen pada Pileg 2014 lalu.

Di Senayan, kadernya terpental alias tak lolos masuk masuk. Di Jatim dan 38 DPC Kab/Kota juga banyak kehilangan kursi legislatif.

Pada Pileg 2014, Hanura masih punya dua kursi di DPRD Jatim, tapi pada Pileg 2019 jumlahnya menyusut tinggal satu kursi. Sementara di 38 kabupaten/kota periode 2014-2019, Hanura punya 67 perwakilan dan jumlahnya juga berkurang pada Pileg 2019 menjadi tinggal 20 kursi. Hanura kini hanya bertahan dengan 47 kursi di seluruh DPRD kabupaten/Kota di Jawa timur.

Di DPRD Kota Surabaya, Partai Hanura kehilangan tiga kursi yang diperoleh pada Pemilu 2014, karena pada Pileg 2019 tidak meraih kursi. Artinya Hanura adalah partai yang paling mengalami defisit penurunan suara pada Pemilu 2019 di Kota Surabaya. Suara Hanura pada Pemilu 2014  sebanyak 5,5 persen, turun drastis menjadi 1,3 persen pada Pemilu 2019.

Namun Ketua DPP Hanura Bidang Pembinaan dan Pemenangan Pemilu Wilayah Jatim Gardi Gazarin SH menegaskan pihaknya akan bekerja semaksimal mungkin untuk memenangkan Partai Hanura khususnya di wilayah Jatim. Hanura menargetkan meraih tujuh kursi untuk DPRD Jatim dalam Pemilu 2024.

“Itu target saya ke depan. Partai Hanura akan menjadi partai hati nurani rakyat dan kembali hadir di hati masyarakat Jawa Timur,” katanya, Rabu (30/12/2020).

Gardi menegaskan pihaknya akan bekerja semaksimal mungkin untuk memenangkan Partai Hanura khususnya di wilayah Jatim.  “Saya optimistis, Hanura pasti menang, maju dan jaya ke depan,” tegasnya.

Direktur Surabaya Consulting Group (SCG) Didik Prasetiyono mengatakan ada beberapa faktor yang dianalisis menjadi penyebab menyusutnya kursi Hanura di legislatif dalam Pileg 2019, yakni Hanura gagal mengangkat isu besar yang menjadi tema utama kampanye.

Konflik internal berkepanjangan membuat banyak kader partai yang memutuskan keluar dari Hanura. “Konflik itu mengakibatkan kenapa Hanura sampai ke bawah tidak solid karena partai yang belum kuat begitu dilanda konflik internal maka kecenderungan partai ini agak sulit membangun konsolidasi,” katanya.

Selain itu, Didik mengatakan Hanura belum memiliki basis pendukung yang kuat. Ditambah lagi, minimnya tokoh yang ditonjolkan Hanura pada pemilu 2019 ini dinilai juga cukup berpengaruh terhadap perolehan suara.

“Hanura belum punya pemilih yang cukup kuat di bawah, Hanura kuat di 2014 lebih karena sosok tokoh Wiranto waktu itu, jadi bukan secara infrastruktur parpol yang kuat,” katanya.

Sementara itu pengamat politik dan juga peneliti senior SSC (Surabaya Survey Center) Surokim Abdussalam menyebutkan Partai Hanura saat ini seperti sedang berlayar dalam red ocean politics. Berada dalam suatu kondisi persaingan yang super ketat dan memperebutkan ceruk voters yang sebenarnya sempit. Dalam persaingan itu jelas butuh power simbolik dan power faktual yang kuat.

“Adaptasi, kegesitan, agresivitas dan juga progresitivitas serta soliditas yang mapan menjadi modal yang wajib dimiliki partai untuk bisa meraih ceruk suara itu agar bisa bersaing dengah partai lain,” katanya.

Surokim yang juga Dekan Fisib (Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya) Universitas Trunojoyo Madura menilai Partai Hanura sedang berada dalam posisi perubahan yang relatif sulit saat ini karena berada di dalam situasi persimpangan dan minimalis. Satu sisi mengandalkan diri sebagai partai kader soliditas masih belum mapan, sementara mengandalkan ketokohan saat ini juga sedang krisis akibat konflik internal partai yang berkepanjangan.

Dalam situasi persaingan yang ketat, partai butuh tokoh sentral untuk penguatan power simbolik dan simbol penyatu. Sementara konflik internal berkepanjangan juga kian menguras energi partai dan juga para pendukungnya.

“Soliditas partai untuk penguatan internal juga masih problematik karena efek konflik internal. Ditambah dengan belum adanya rekonsiliasi dengan pendiri tokoh sentral jelas kian menambah beban soliditas partai. Sedangkan mengandalkan swing voters partai tengah, jelas bukan pekerjaan yang mudah. Butuh kerja keras dengan soliditas internal yang kuat juga,” kata Surokim.

Dalam konteks persaingan super ketat, kata Surokim, biasanya partai tengah berbasis nasionalis non ideologis memang agak berat meraih dukungan kuat di swing voters karena masih sangat bergantung pada ketokohan sebagai daya saing power simbolik. Butuh power plus plus gabungan. Jika kekuatan tokoh simbolik lemah, otomatis pemilih swing voters partai juga berkurang karena semua saat ini sedang mengusung perubahan.

Sementara situasi lingkungan para pesaing partai nasionalis tengah juga sangat kompetitif. Ibarat pertarungan seperti berebut ceruk yang sempit tapi kompetisinya sangat sengit dan harus kerja super keras. “Hanura jelas belum diuntungkan oleh situasi ini, apalagi  positioning sebagai partai pemerintah atau oposisi juga relatif belum mapan. Hal ini menjadikan pemilih swing voters belum melirik ke Hanura,” katanya.

Untuk menuju kekuatan sebagai partai kader semata, jelas butuh waktu. Sementara kekuatan simbolik Ketua Umum harus diakui tidak sekuat partai lain yang masih punya efek tokoh sentral. Hal ini juga membuat Hanura seperti ketinggalan kereta. Apalagi tokoh-tokoh yang bergabung di partai ini secara ketokohan juga belum punya coattail effect yang kuat terhadap citra partai. “Menurut saya hal itu yang menjadi tantangan Haruna kekinian harus super kerja keras,” kata Surokim.

Positioning Baru

Pengamat politik dan juga peneliti senior SSC (Surabaya Survey Center) Surokim Abdussalam

Apa yang harus dilakukan oleh Hanura untuk comeback di panggung politik ke depan? Menurut Surokim yang jelas harus ada perubahan yang relatif progresif.  Partai Hanura lebih baik mengunakan strategi blue ocean politics, keluar dari zona persaingan ketat dengan ceruk sempit itu menuju zona persaingan luas dengan ceruk pemilih swing voters yang masih terbuka luas.

Hanura harus bisa membuka peluang menjadikan sebagai partai modern dengan ceruk berbeda dengan partai tengah nasionalis. Harus berani  mengambil positioning baru sebagai partai tengah wajah baru yang lebih agresif, muda dan pro perubahan.

“Partai Hanura harus keluar dari sangkarnya dan bajunya selama ini menuju partai modern yang senantiasa bergerak lentur seiring dengan tuntutan perubahan voters yang dinamis. Hanura harus muncul menjadi partai solutif untuk pemilih milenials dengan mengusung isu-isu perubahan yang pro publik,” katanya.

Selain itu Hanura juga masih butuh tambahan energi melalui kekuatan tokoh sentral untuk penguatan power simbolik dan mengambil ceruk pemilih baru melalui program-program yang visioner, progresif dan terbarukan. “Hanura butuh rebranding sebagai partai yang  ciamik, modern, kekinian dan positioning sebagai partai pro perubahan yang progresif dan dinamis,” katanya. tis

baca juga :

Indonesia Masuk dalam Daftar Negara Berisiko Corona

Manfaatkan Aset via Gadai Peduli, Jadi Solusi Warga Terdampak COVID-19 untuk Bangkit

Redaksi Global News

Gubernur Khofifah Ingatkan Pentingnya Literasi Digital dan Media bagi Masyarakat

Redaksi Global News