Global-News.co.id
Ekonomi Bisnis Indeks Utama

Kembangkan Pertashop, Kiat Pertamina Permudah Akses Energi ke Pelosok (2-Bersambung)

 

Istimewa
Pertamina mengembangkan Pertashop (Pertamina Shop) untuk mendukung pemenuhan BBM di desa yang belum terjangkau akses SPBU.

Di tengah pandemi Covid-19, PT Pertamina (Persero) terus berinovasi dalam upaya meningkatkan layanan kepada masyarakat. Tak hanya jaminan keamanan ketersediaan BBM dan elpiji, inovasi yang digulirkan ditargetkan mampu mendorong berkembangnya pertumbuhan ekonomi, salah satunya melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.

 

Energi menjadi salah satu roda penting kehidupan sehari-hari. Sayangnya masih banyak warga terutama yang tinggal di pedesaan kesulitan mengakses energi karena ketiadaan atau lokasi tempat tinggalnya jauh dari penyalur resmi Pertamina seperti SPBU.

Guna mendukung pemenuhan BBM di desa, terutama di 53% kecamatan di Indonesia yang belum terjangkau akses SPBU, Pertamina mengembangkan Pertashop (Pertamina Shop).

Pertashop ini merupakan hasil kerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri melalui Surat Mendagri No. 117/3015/SJ tanggal 28 April 2020 perihal Pelaksanaan Program Pertashop di Desa.

Pertamina bersama Kemendagri berkomitmen untuk menyediakan Pertashop di 418 desa di tahap pertama dan total 2.300 desa di tahap kedua yang tersebar di seluruh Indonesia. Adapun produk BBM yang dipasarkan di Pertashop adalah BBM berkualitas terbaik seperti Pertamax dan Dexlite.

Hingga pertengahan September 2020 ini, Pertamina telah mengoperasikan Pertashop di 62 titik penyaluran yang tersebar di wilayah Jatimbalinus. Rinciannya 48 titik di Jawa Timur, 7 titik di Bali, dan 7 titik di Nusa Tenggara Barat yang disuplai oleh Integrated Terminal dan Fuel Terminal yang dimiliki oleh Pertamina di ketiga provinsi tersebut. “Sampai dengan September ini, Pertashop telah mencapai 76% dari target 82 titik penyaluran yang tertuang di Nota Kesepahaman Kementerian Dalam Negeri,” kata Unit Manager Communication, Relations & CSR MOR V Rustam Aji.

Rustam menambahkan, memasuki adaptasi kebiasaan baru pembangunan Pertashop akan terus berlanjut sampai seluruh kecamatan yang belum memiliki lembaga penyalur BBM dan elpiji kecamatan terwujud. Pertamina akan memprioritaskan lembaga desa dan usaha UMKM sebagai pengelola Pertashop, sejalan dengan Program Pertamina One Village One Outlet sehingga nantinya pemerintahan desa memiliki pusat ekonomi baru.

Selain BBM, Pertashop juga dapat menyediakan produk unggulan Pertamina yang lain seperti elpiji Bright Gas dan juga produk-produk Pelumas.

CEO PT Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading Pertamina Mas’ud Khamid menjelaskanPertashop kini menjadi peluang usaha bagi calon mitra Pertamina di pedesaan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi guna memaksimalkan potensi desa. Selain itu keberadaannya diharapkan meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat setempat.

“Karena itu Pertamina membuka peluang kerjasama dan kemitraan bisnis hingga ke kawasan pedesaan melalu kemitraan bisnis Pertashop. Program kemitraan ini terbuka untuk koperasi serta UKM yang sudah berbadan hukum CV atau PT di seluruh Indonesia,” katanya.

Sedangkan nilai investasi Pertashop mulai dari Rp 250 juta. Harga itu untuk peralatan, renovasi area dan pelatihan terhadap produk BBM yang dipasarkan. Namun tidak termasuk tanah atau pengadaan lahan. “Bagi masyarakat yang berminat untuk membuka bisnis Pertashop bisa mengikuti prosedur pendaftaran online,” katanya.

Sementara itu kehadiran Pertashop di pedesaan disambut antusias perangkat pedesaan dan warga. “Masyarakat sangat senang dengan dibukanya Pertashop, dengan adanya Pertashop masyarakat dapat membeli Pertamax dengan harga sama dengan yang ada di SPBU,” kata Kepala Desa Kalisongo Kecamatan Dau Kabupaten Malang Siswanto.

Hal ini diamini, salah satu warga setempat, Bambang (36). Menurutnya kehadiran Pertashop di desanya sangat membantu aktivitas warga setempat yang selama ini aksesnya jauh untuk menjangkau SPBU. “Harga di Pertashop sama dengan harga di SPBU. Kalau beli eceran kan jatuhnya mahal, “ katanya.

Siswanto berencana secara bertahap, Pertashop di Desa Kalisongo Kecamatan Dau disulap menjadi kawasan pertokoan di mana masyarakat dapat berjualan barang-barang kebutuhan pokok dan potensi desa lainnya.

Pertashop di Kecamatan Dau merupakan crash program dari Pertamina yang dibuka sejak 20 Mei 2020. Untuk pengoperasionalnya pihaknya menggandeng mitra dari PT. Mitra Bumdes Nusantara yang merupakan kerjasama 7 BUMN yaitu Perum BULOG, Danareksa, Pertamina Retail, PPI, RNI, PIHC, dan PTPN 3. Volume penjualan per hari sejak dibuka rata-rata 420 liter/hari.

Kepala Desa Kraton Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang Didi Purwantono menjelaskan Pertashop di desanya dibuka sejak 20 Mei 2020 dengan rata-rata penjualan 590 liter per hari.

“Pertashop di Desa Kraton menjadi motor penggerak Pendapatan Asli Desa (PAD) di masa yang akan datang dan mendorong perekonomian dan kesejahteraan desa,” ungkapnya.

Hadir di Pacitan

Di Pacitan juga telah berdiri Pertashop. Berlokasi di Desa Gemaharjo dan berada di pinggir Jalan Provinsi, Pertashop bantuan program Kemendagri dan Pertamina sudah beroperasi sejak dua bulan lalu lebih. Pendirian ini disambut antusias warga setempat, maklum keberadaan SPBU sangat jauh dari desa berpenduduk 6.295 jiwa yang berada di perbatasan Kab Pacitan dan Kab Ponorogo ini. SPBU terdekat berjarak sekitar 20 km lebih ke wilayah Ponorogo dan 35 km lebih di SPBU wilayah Pacitan. Kedua wilayah kondisi jalan naik turun karena berada di  area pegunungan.  “Di daerah kami belum ada SPBU.  SPBU terdekat berjarak sekitar 20 km lebih ke wilayah Ponorogo. Karena itu beroperasinya Pertashop meski baru 1 pompa disambut warga,” kata Kepala Desa Gemaharjo Pacitan, Harmanto.

Dijelaskan Harmanto, saat ini Pertashop masih dikelola Pertamina, setelah jalan tiga bulan baru dikelola aparat desa. “Kami saat ini menyiapkan calon pengelola. Kalau sudah dikelola desa, harapan kami ada pendapatan desa,” katanya.

Ke depan kata Harmanto, keberadaan Pertashop bisa ditingkatkan menjadi salah satu sentra kegiatan ekonomi warga setempat. Hal ini sejalan dengan RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Desa. Misalnya digabung dengan pelayanan toko kelontong sembako. Selain itu jika sekarang Pertashop masih beroperasi dengan 1 pompa, ke depan seiring mulai meningkatnya aktivitas perekonomian warga di masa pandemi Covid-19 bisa ditambah menjadi dua pompa yang berimbas pada bertambahnya kebutuhan tenaga kerja yang direkrut. “Saya juga ingin keberadaan Pertashop bisa mengatasi masalah pengangguran warga lokal, meski kecil tapi itu sangat berarti bagi desa,” katanya seraya menyebut Pertashop saat ini mempekerjakan 2 tenaga kerja.

Dengan dukungan pemerintah dan seluruh stakeholders, Pertamina berharap program Pertashop ini dapat melengkapi kesuksesan Program BBM Satu Harga yang saat ini telah dinikmati masyarakat di wilayah 3T.

Untuk diketahui Program BBM Satu Harga menjadi wujud komitmen pemerintah untuk memberikan keadilan ketersediaan, keadilan distribusi, dan keadilan harga di bidang energi bagi masyarakat di wilayah Terluar, Terdepan, Tertinggal (3T).

Melalui program ini masyarakat yang tinggal di wilayah 3T yang mulanya membeli BBM dengan harga di atas Rp 10.000/liter, kini bisa membeli dengan harga yang sama seperti kota-kota lain, yakni  Pertalite Rp 7.650/liter dan solar Rp 9.300 /liter.

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menegaskan komitmennya untuk menjalankan mandat dari pemerintah terkait Program BBM Satu Harga di tahun 2020. Pertamina optimistis dapat mencapai target pemerintah untuk merealisasikan BBM Satu Harga di 83 wilayah 3T hingga akhir tahun ini. Rincian sebarannya 13 penyalur di Sumatra, 13 di Kalimantan, 21 di NTB dan NTT, 7 di Sulawesi, dan 29 penyalur di Maluku dan Papua.

“Kami optimistis akan menuntaskan pembangunan BBM Satu Harga tahun 2020 sesuai yang telah ditargetkan, sehingga akhir tahun totalnya akan mencapai 243 titik. Sementara pada periode 2021 – 2024, sesuai roadmap Pertamina menargetkan pembangunan BBM Satu Harga sebanyak 247 titik, sehingga total akan mencapai 500 titik BBM Satu Harga,” ujar Fajriyah.

Seperti diungkap Fajriyah, Pertamina banyak menghadapi tantangan dan risiko di program ini, khususunya saat mendistribusikan pasokan BBM ke seluruh wilayah ekstrem di Indonesia. Untuk mencapainya, moda transportasi yang digunakan bervariasi, mulai moda darat, laut, udara agar pasokan energi bisa mencapai lokasi tujuan.

“Kami mengemban amanah, Pertamina tidak hanya mempertimbangkan keuntungan semata, tetapi kerja tulus ikhlas untuk memastikan terpenuhinya rasa keadilan masyarakat untuk dapat menikmati energi dengan kualitas dan harga yang sama hingga pelosok daerah,” katanya. tis

baca juga :

Konstruksi Terowongan Silaturahmi Istiqlal – Katedral Rampung

Redaksi Global News

Predator “Fetish Kain Jarik” Diperiksa, Begini Sikap Unair

Redaksi Global News

Bayar Jaminan 1 Juta Ringgit, Najib Razak Bebas