Semester I 2020, Ekspor Udang Jatim Meningkat Tembus 636, 84 Juta Dolar AS

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jatim Drajat Irawan (kanan) saat mendampingi Gubernur Khofifah Indar Parawansa di acara panen udang vaname di lahan ketahanan pangan Puspenerbal Juanda beberapa waktu lalu.

SURABAYA (global-news.co.id)  – Peluang ekspor udang Jawa Timur di paro pertama tahun ini justru terbuka lebar. Tentu ini kabar menggembirakan di tengah penurunan kinerja ekonomi saat wabah Covid-19 menghantam seluruh sektor di berbagai belahan dunia.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, ekspor ikan dan udang semester I tahun 2020 di Jatim mengalami peningkatan. Selama kurun 6 bulan, Januari-Juni 2020 total kenaikannya adalah 3,33% atau senilai  636,84 juta dolar AS. Angka tersebut naik jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019. “Pada Juli 2020, ekspor ikan dan udang kembali naik sebesar 17,74%, “ kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur Drajat Irawan, Rabu (16/9/2020).

Drajat mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS), Tiongkok dan Jepang merupakan pasar dengan penyerapan paling tinggi terhadap komoditi ikan dan udang di Jawa Timur.

Dilansir dari data Pusdatin Kemenperin RI Januari sampai Juni 2020, terdapat 3 negara teratas yang menjadi tujuan ekspor udang Jawa Timur. Di antaranya adalah Amerika Serikat sebesar 151,86 juta dolar AS, Jepang sebesar 84,31 juta dolar AS dan Tiongkok sebesar 27,05 juta dolar AS.  “Amerika Serikat (AS), Jepang dan Tiongkok menjadi 3 negara teratas pasar terbesar ekspor komoditi udang Jatim. Nilai total ekspor udang Jatim ke 3 negara tersebut mendominasi sekitar 92,11% dari nilai ekspor udang Jatim secara keseluruhan,” ungkap Drajat Irawan.

Selanjutnya, nilai ekspor udang Jatim ke Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok masing-masing hanya senilai 4,06%, 9,01%, dan 0,20% dari total kebutuhan impor udang ketiga negara tersebut. Padahal kebutuhan impor Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok terhadap total impor dunia masing-masing menduduki peringkat satu, dua, dan tiga (www.trademap.org).

Melihat dari data tersebut, peluang Jatim untuk mengisi ekspor komoditi udang ke pasar Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok masih terbuka lebar.  “Komoditi potensial seperti udang yang permintaannya cukup tinggi di Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok perlu didorong agar mampu memenuhi standar produk layak ekspor. Disperindag Provinsi Jatim melalui FTA Center Surabaya siap memberikan pendampingan, konsultasi, maupun sosialisasi terkait regulasi ekspor,” tegas Drajat.

Selain itu beberapa kegiatan seperti business matching dengan negara lain gencar dilakukan oleh Disperindag Jatim untuk menemukan pasar-pasar baru.  Drajat mengimbau bagi para pelaku usaha yang ingin menikmati fasilitas tarif preferensi maka perlu diperhatikan bahwa produk yang akan dieskpor harus memenuhi ketentuan asal barang yang dibuktikan dengan kepemilikan dokumen Surat Keterangan Asal (SKA). Untuk ekspor ke negara Amerika Serikat (AS) dapat menggunakan SKA Form A, Form IJEPA digunakan untuk negara Jepang, dan form E untuk negara Tiongkok.

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyatakan bahwa kawasan pantai selatan Jawa berpeluang menjadi basis sentra budi daya udang vaname, melihat luasnya lahan dan potensi perairan yang dimiliki di daerah tersebut. “Potensi airnya bagus, kawasan masih banyak dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur,” kata Menteri Edhy beberapa saat lalu.

Namun ia juga mengemukakan bahwa pengembangan budi daya udang vaname oleh KKP tidak hanya fokus di Jawa, tapi juga berbagai daerah lain di Indonesia. Menteri Edhy menyatakan membangun budi daya udang nasional sesuai instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Indonesia punya lahan potensial, namun udang yang dihasilkan jumlahnya belum maksimal. Produksi udang nasional per tahun di kisaran 800 ribu ton sementara kebutuhan dunia mencapai 13 sampai 15 juta ton. Pemerintah melihat itu sebagai peluang, sehingga produksi udang nasional harus digenjot,” ucapnya

Dengan adanya target kenaikan jumlah produksi, lanjutnya, maka usaha budidaya udang tentu menjadi lapangan kerja baru bagi masyarakat sekaligus mendorong suksesnya program padat karya yang digaungkan pemerintah. Meski gencar membangun budidaya udang nasional, Menteri Edhy mengaku tidak akan mengorbankan lingkungan.

Ia menekankan bahwa tambak udang yang dibangun mengutamakan keberlanjutan, caranya dengan menerapkan sistem tambak intensif, yakni lahan yang dipakai lebih sedikit namun hasilnya lebih banyak.

Menurut dia, tambak intensif mampu menghasilkan 40 ton udang vaname per haktare sekali panen, sedangkan tambak konvensional jauh di bawah itu. Tambak intensif juga dilengkapi dengan instalasi pengelolaan air limbah.

Dalam rangka melesatkan kinerja produktivitas komoditas udang nasional, KKP juga mendistribusikan benih unggul ke berbagai pembudidaya di beragam daerah.

Menurut Dirjen Perikanan Budi daya KKP Slamet Soebjakto, penyaluran bantuan calon induk ikan unggul kepada masyarakat merupakan langkah pemerintah untuk memastikan benih yang dihasilkan di unit pembenihan milik rakyat memiliki standar mutu yang tinggi. tis