Kasus Corona di Wuhan Melonjak Lagi, Ada 1.290 Kematian Baru

Pemerintah Kota Wuhan melaporkan angka kematian baru akibat COVID-19 sebanyak 1.290 pasien, Jumat (17/4/2020).

BEIJING (global-news.co.id) — Angka kematian pasien virus corona baru atau COVID-19 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok melonjak drastis, Jumat (17/4/2020).
Jumlah kematian di kota itu naik hingga 50 persen secara tiba-tiba tak lama setelah kebijakan lockdown dicabut pada 8 April lalu.
Lonjakan itu terjadi setelah pemerintah Kota Wuhan melaporkan angka kematian baru sebanyak 1.290 pasien.
Penambahan tersebut mengubah total jumlah angka kematian menjadi 3.869 pasien di kota tempat virus corona pertama kali terdeteksi.
Lonjakan itu pun turut mengubah total angka kematian pasien corona di Tiongkok secara nasional naik 39 persen menjadi 4.632 pasien. Angka itu diambil berdasarkan data yang baru dirilis pemerintah per Jumat (17/4/2020) pagi.
Lonjakan kematian di Wuhan itu dikabarkan terjadi setelah banyak kasus kematian “dilaporkan secara keliru” atau sama sekali terlewat dalam penghitungan data.
Sebelumnya Tiongkok melaporkan pertambahan kasus dan kematian baru negara itu berjalan lambat dalam sebulan belakangan.
Bahkan pada Selasa (7/4/2020) Tiongkok melaporkan nol kematian baru akibat virus corona untuk kali pertama sejak negara itu melaporkan data pada Januari lalu.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Epidemi Wuhan beralasan kasus-kasus yang terlewatkan itu disebabkan karena staf medis di kota itu kewalahan di awal penyebaran corona sehingga memicu “keterlambatan pelaporan”.
Dilansir dari AFP, hal tersebut membuat keraguan publik meningkat terhadap transparansi pemerintah Tiongkok dalam menangani dan melaporkan perkembangan penyebaran wabah corona di Negeri Tirai Bambu.
Sejumlah negara barat seperti Amerika Serikat telah berulang kali melontarkan kecurigaan terkait ketidaktransparan pemerintahan Presiden Xi Jinping dalam melaporkan perkembangan virus corona.
AS dan beberapa negara lainnya seperti Prancis bahkan curiga Tiongkok tidak jujur dalam melaporkan sumber penyebaran virus itu pertama kali.
AS dikabarkan tengah menyelidiki kemungkinan virus corona muncul dan menyebar dari sebuah laboratorium di Wuhan.
Selama ini pemerintah Tiongkok memang tidak pernah secara terbuka mengatakan dari mana asal virus serupa SARS itu.
Namun, Tiongkok selalu mengatakan bahwa tempat penyebaran virus pertama kali terdapat dari sebuah pasar basah di Wuhan yang menjual binatang-binatang liar.
Virus corona yang diyakini menyebar pertama kali di Tiongkok sejak Desember 2019 telah menginfeksi lebih dari 2,1 juta orang di 210 negara dan wilayah di dunia.
Amerika Serikat menjadi negara dengan kasus dan kematian tertinggi karena corona di dunia yakni 678.144 pasien positif dan 34.641 meninggal
Sementara itu, Tiongkok kini berada di peringkat tujuh dengan kasus corona terbanyak mencapai 82.367 kasus.
21 Juta Pengguna Ponsel Lenyap
Sebelumnya Harian The Epoch Times melaporkan ada 21 juta pengguna ponsel di Tiongkok tiba-tiba lenyap atau tidak aktif dalam beberapa bulan terakhir. Hal itu memicu dugaan korban meninggal karena pandemi corona di Tiongkok jauh lebih tinggi dari angka yang dilaporkan pemerintah selama ini.
Kementerian Industri dan Teknologi Informasi Tiongkok pada 19 Maret lalu merilis data statistik terbaru pengguna ponsel di setiap provinsi di Negeri Tirai Bambu pada Februari 2020.
Dibandingkan data pada pengumuman statistik sebelumnya yang dirilis 18 Desember 2019 untuk periode November 2019, angka pengguna ponsel anjlok sangat besar.
Angka pengguna ponsel merosot dari 1.601 miliar menjadi 1,51 miliar, atau turun 21 juta.
“Rezim Tiongkok mewajibkan semua warga memakai ponsel mereka untuk mendapatkan kode kesehatan. Hanya mereka yang memiliki kode kesehatan hijau dibolehkan bepergian di dalam negeri saat ini. Mustahil bagi seseorang untuk menghapus akun ponselnya,” kata Tang Jingyuan, pengamat Tiongkok di Amerika Serikat kepada The Epoch Times seperti dilansir laman Al Arabiya akhir Maret lalu.
“Pertanyaan besarnya adalah apakah turun drastisnya angka pengguna ponsel menandakan akun-akun ponsel itu sudah ditutup karena pemiliknya meninggal?” kata laporan Epoch Times.
“Saat ini kita tidak tahu seperti apa rincian datanya. Jika hanya 10 persen saja akun ponsel yang ditutup karena si pengguna meninggal lantaran virus, maka angka kematian akan mencapai 2 juta,” ujar Tang kepada Epoch Times.
Direktur Administrasi Informasi dan Komunikasi Kementerian Industri dan Teknologi Informasi Han Xia berdalih penurunan angka akun ponsel itu disebabkan berbagai sektor bisnis yang ditutup pada Februari karena mengikuti aturan karantina dari pemerintah.
Namun Epoch Times menuturkan angka kematian di Tiongkok tidak sesuai dengan situasi sebaliknya yang ada di sana.
Selanjutnya Epoch Times mengatakan, minimnya data menjadi misteri angka kematian sebenarnya di Tiongkok. Terhapusnya 21 juta pengguna ponsel bisa menjadi dugaan angka kematian sebenarnya jauh lebih tinggi dari angka yang dilaporkan selama ini. tis, rtr, cnn, ins