Pemerintah Kaji Rantai Pasok Pangan di Jakarta jika Terjadi Lockdown

Mal di Jakarta tampak sepi sejak mencuatnya wabah virus corona baru (COVID-19).

JAKARTA (global-news.co.id) — Pemerintah masih mengkaji dampak ekonomi dari kebijakan penutupan akses wilayah (lockdown) DKI Jakarta, salah satu kota dengan jumlah kasus positif virus corona terbanyak di Indonesia saat ini. Salah satunya, soal kesiapan rantai pasok bahan pangan di ibukota selama lockdown berlangsung.

Sekretaris Menko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan pertimbangan ini muncul karena Jakarta merupakan provinsi yang pemenuhan kebutuhan bahan pangan bergantung pada rantai pasok dari daerah lain. Artinya, ketika akses dari dan menuju ibu kota ditutup, maka distribusi pangan pun riskan tersendat karena itu semuanya harus dipertimbangkan dengan cermat.

“Dari sisi ekonomi ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dengan struktur ekonomi saat ini, seperti ketergantungan keluar masuk barang, terutama DKI Jakarta ini pasokan bahan pangan dari luar DKI Jakarta, sehingga harus dipertimbangkan betul,” ungkap Susiwijono dalam rilisnya, Rabu  (18/3/2020).

Menurutnya, pertimbangan tersebut masih dikaji oleh kelompok gugus tugas di bawah pimpinan pemerintah pusat. Selain itu, pertimbangan kebijakan lockdown juga masih didiskusikan dengan pemerintah daerah terkait.

“Yang penting kami dari sisi ekonomi berharap semuanya dipertimbangkan karena struktur dan karakteristik masyarakat masih sangat bergantung pada distribusi bahan pangan,” katanya.

Sembari menunggu hasil kajian dampak lockdown, ia mengatakan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mendukung penuh kebijakan sistem kerja dari rumah (work from home). Sebab, kebijakan ini bisa mengurangi interaksi sosial (social distancing).  “Social distancing harus kami support. Bagaimana kami kurangi interaksi sosial untuk kurangi penularan COVID-19,” ucapnya.

Sebelumnya, usulan lockdown mengemuka karena beberapa negara di dunia telah mengambil langkah tersebut guna mencegah penyebaran virus corona yang terus meluas. Teranyar, negara tetangga, Malaysia mengumumkan kebijakan lockdown dari 18-31 Maret 2020.

Lockdown pertama kali diterapkan di Wuhan Tiongkok. Pasalnya, Wuhan merupakan episentrum penyebaran virus pertama kali. Langkah Presiden Tiongkok  Xi Jinping itu kemudian diikuti oleh negara-negara lain, seperti Italia, Iran, empat kota di Spanyol, Mongolia, Korea Utara, dan Manila di Filipina. Kendati begitu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan belum ingin mengambil kebijakan tersebut.  “Sampai saat ini tidak ada kita berpikiran ke arah kebijakan lockdown,” kata Jokowi.

Apapun keputusan Presiden Jokowi nantinya, penting diingat oleh semua pihak, pandemi corona ini, sudah sangat mengkhawatirkan. Jumlah penderitanya terus meningkat. Dalam konferensi pers, Selasa (17/3/2020), Juru Bicara pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto menyebutkan, penderita positif corona sudah 172 orang. Sebanyak lima (dan kini jadi  tujuh) orang di antaranya meninggal dunia.  jef, cnn