Gubernur Khofifah Minta Distributor Tak Timbun Bawang Putih

Di Jatim ada potensi lahan untuk ditanami bawang putih seluas 8.651 ha, lokasinya tersebar di antaranya di Banyuwangi.

SURABAYA (global-news.co.id) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yakin stok bawang putih aman untuk wilayah Jawa Timur. Ia meminta importir dan distributor segera melepas barangnya ke pasar agar harga bawang putih tetap stabil.

Mantan Menteri Sosial ini menyebut kenaikan harga komoditas bawang putih hanya karena dampak psikologis pemberitaan virus corona. “Saya telah mengonfirmasi langsung kepada kementerian terkait jika tidak ada pelarangan impor komoditas bawang putih. Yang dilarang impor itu adalah hewan hidup,” kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu (12/2/2020).

Khofifah meminta distributor tak menimbun bawang putih. “Pelarangan impor bawang putih yang sempat tersiar saya akhirnya mengonfirmasi kepada Pak Menko Perekonomian (Airlangga Hartarto), itu tidak benar. Karena itu saya minta distributor tetap melempar barangnya ke pasar, jangan ditimbun,” tegasnya.

Khofifah juga meminta Tim Satgas Pangan turun dan mengecek ketersediaan bawang putih di gudang penyimpanan. Informasi yang diterima Khofifah, harga bawag putih di pasar tradisional Jatim sempat melonjak pasca pemberitaan penyebaran virus corona.

Bawang putih yang biasanya dibanderol Rp 25.000 per kilogram naik menjadi Rp 50.000 per kilogram. Sementara, Provinsi Jatim membutuhkan 62.000 ton bawang putih dalam setahun. Untuk menutupi kebutuhan itu, Pemprov Jatim mengimpor bawah putih dari Tiongkok.

Produksi Diproyeksi 8.211 Ton

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur menginformasikan sasaran produksi tanaman bawang putih di Jawa Timur tahun ini ditargetkan bisa mencapai 8.211 ton sejalan dengan upaya perluasan lahan tanaman di sejumlah sentra bawang putih.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur Hadi Sulistyo mengatakan sasaran produksi tahun ini meningkat dibandingkan realisasi produksi 2019 yang hanya 6.935 ton. Meski sudah mampu meningkatkan produksi, tetapi memang Jatim masih defisit terhadap komoditas ini.

“Produksi tahun lalu hanya mampu 6.935 ton, sedangkan tingkat konsumsi masyarakat di Jatim untuk komoditas bawang putih mencapai 62.880 ton, artinya masih defisit 55.927 ton,” katanya, Rabu (12/2/2020).

Dia mengatakan selama ini kebutuhan bawang putih di Jatim disuplai dari produk impor terutama Tiongkok. Namun, katanya, pemerintah terus berusaha untuk meningkatkan produksi melalui perluasan lahan tanam agar mampu mencapai swasembada bawang putih.

“Di Jatim ini ada potensi lahan untuk ditanami bawang putih seluas 8.651 ha, lokasinya tersebar ada di Probolinggo, Pasuruan, Banyuwangi, Malang, Lumajang, Kota Batu, Mojokerto, dan Magetan,” jelasnya.

Asosiasi Ketua Harian Asosiasi Eksportir-Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo) Hendra Jowono mengharapkan harga bawang putih berangsur turun dan stabil.

“Mudah-mudahan dalam waktu satu bulan mendatang harga bawang putih di pasaran akan berangsur-angsur turun dan stabil kembali,” kata Hendra.

Menurut Hendra, 90 persen pasokan bawang putih di Indonesia masih diimpor dari negeri Tirai Bambu. Sehingga, mewabahnya virus corona membuat terjadi kendala di sentra-sentra produksi dan logistik.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian telah menerbitkan izin Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) untuk bawang putih sebesar 103.000 ton dari Tiongkok.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto mengatakan penerbitan izin impor ini dilakukan karena stok bawang putih di dalam negeri kian menipis, yakni 70.000 ton. Stok tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan sampai pertengahan Maret mendatang.  erf, ejo, kpc, bic