Israel Larang Pria di Bawah Usia 50 Tahun Salat Jumat di Al-Aqsa

GN/Istimewa
Hanya warga di atas 50 tahun saja yang diperbolehkan memasuki kawasan masjid Al Aqsa.

YERUSALEM (global-news.co.id)-Pasca pembongkaran detektor logam dan pencopotan kamera pemantau CCTV, kepolisian Israel masih menerapkan kebijakan pengamanan terhadap kawasan kompleks Masjid Al Aqsa. Israel melarang pria di bawah usia 50 tahun mengikuti salat Jumat di kompleks Masjid Al-Aqsa.

“Hanya pria di atas 50 tahun yang akan diizinkan masuk, juga perempuan segala umur,” demikian bunyi pernyataan kepolisian Kompleks Haram Al-Sharif, sebagaimana dikutip AFP, Jumat (28/7).

Kepolisian menyatakan, keputusan ini diambil setelah mereka mendeteksi indikasi demonstrasi dan kericuhan di sekitar kompleks suci tersebut.

“Akses ke sejumlah jalan di sekitar Kota Tua juga akan dibatasi dan semua langkah keamanan yang diperlukan akan diambil untuk mencegah dan merespons kemungkinan kekerasan,” tulis kepolisian.

Aparat memang terus meningkatkan keamanan di sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa, terutama setelah kericuhan pecah pada Kamis (27/7/2017).

Kericuhan itu terjadi ketika Muslim Palestina mulai memadati Al-Aqsa setelah Israel mencabut detektor logam di pintu masuk masjid, satu langkah yang memicu ketegangan selama sepekan belakangan.

Pemasangan detektor logam itu dilakukan setelah terjadi penembakan dua polisi Israel oleh tiga orang yang diduga merupakan warga Palestina.

Sebelumnya pihak kepolisian Israel, Kamis (27/7/2017), mengumumkan pencabutan seluruh tindakan pengamanan tambahan yang terpasang di kompleks Al Aqsa, usai insiden 14 Juli lalu.

“Polisi mengembalikan status keamanan kompleks Al Aqsa seperti sebelum kejadian serangan teroris di Haram al-Sharif, sebelum tanggal 14 Juli,” kata juru bicara kepolisian Israel, Luba Samri, kepada AFP dalam sebuah pernyataan.

Sementara pejabat pengelola Masjid Al Aqsa mengadakan pertemuan pada Kamis untuk membicarakan penghentian boikot yang terjadi setelah Israel memasang detektor logam di kompleks Al Aqsa.

Peningkatan keamanan itu memicu bentrokan antara polisi Israel dan umat Muslim selama dua pekan dan menelan enam nyawa. Israel kemudian memutuskan mencopot detektor logam, Selasa (25/7/2017), namun tetap mempertahankan “pengamanan modern tambahan” di kompleks Al Aqsa, yang membuat Palestina dan Yordania memberi ultimatum pengembalian status quo.

Tidak hanya itu, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mendesak agar Israel dan pihak-pihak terkait segera menemukan solusi.

Atas desakan dari komunitas internasional, Israel setuju mengenyahkan semua pengamanan tambahan, termasuk pagar, pembatas beton dan kamera pengawas di kompleks Masjid Al Aqsa.

Kembalinya status quo di Al Aqsa disambut gembira warga Muslim Palestina. Mereka turun ke jalan merayakan hal tersebut.(afp/cnn/ins)