Global-News.co.id
Metro Raya Utama

Penyair Jawa Timur Berkumpul di Balpem

Penyair D. Zawawi Imron dan penulis Riadi Ngasiran.

SURABAYA (Global-News.co.id) – Merayakan Hari Sastra Nasional yang jatuh pada setiap 3 Juli, Forum Pegiat Kesenian Surabaya (FPKS) menggelar kegiatan Dialog Sastra Lagi dengan agenda utama Pembacaan Puisi dan Diskusi. Para penyair selain membaca karya-karya terbarunya, juga akan mendiskusikan tentang krisis kritik sastra.

Acara bakal berlangsung di Galeri Dewan Kesenian Surabaya Balai Pemuda (Balpem) pada Minggu, 12 Juli 2026, dalam dua agenda. Pertama, pukul 16.00 hingga jelas Magrib, Diskusi Krisis Kritik Sastra di Tengah Ledakan Karya, dengan menampilkan narasumber Tengsoe Tjahjono dan M. Shoim Anwar. Diskusi ini dipandu oleh Ribut Wijoto, sastrawan junto jurnalis sekaligus Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo. Agenda kedua, pukul 18.30 – 22.00, Pembacaan Puisi oleh para penyair dari beberapa daerah di Jawa Timur.

“Sastra Indonesia terus bergerak. Novel, cerpen, puisi, dan berbagai bentuk sastra digital lahir hampir setiap hari. Festival sastra tumbuh, komunitas bermunculan dan penerbitan semakin mudah dilakukan. Namun di tengah geliat tersebut, ada satu hal yang terasa semakin langka: kritik sastra. Pertanyaannya, mengapa produksi karya sastra terus meningkat, sementara penulisan kritik sastra justru menurun?,” kata Jil Kalaran, Koordinator FPKS, Kamis (9/7/2026).

Para penyair/sastrawan yang diundang kali ini adalah mereka yang telah memperoleh penghargaan dari pemerintah atas dedikasi dan konsistensinya sebagai pelaku/pegiat sastra kategori perorangan, mulai dari 50 tahun, 40 tahun hingga 25 tahun. Penghargaan itu berupa Bantuan Pemerintah Fasilitasi dan Apresiasi Sastra oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen.

Berdasarkan catatan, sejak tahun 2023 hingga 2026, penyair/sastrawan yang memperoleh Banpem Fasilitasi dan Apresiasi Sastra untuk Jawa Timur mengalamani peningkatan jumlahnya. Untuk tahun 2023, misalnya, dari 20 penerima Banpem tercatat nama Sri Setyowati atau lebih dikenal dengan nama Trinil Sri Brojo.

Tahun 2024, penerima Banpem bagi pelaku/pegiat sastra dari Jawa Timur yang berkiprah selama 50 tahun atau lebih masing-masing, D. Zawawi Imron, Ismoe Rianto, J.F.X. Hoeri, Suharmono Kasiyun, dan Hendro Siswanggono.

Sedangkan bagi pelaku/pegiat sastra yang Berkiprah Selama 50 Tahun atau Lebih masing-masing, M. Amir Tohar/Aming Aminoedhin, Tengsoe Tjahjono, M.Shoim Anwar, Sunarko Budiman, Syaiful Anwar/Syaf Anton, Zoya Herawati.

Pada tahun 2025, belum ditemukan data mengenai siapa saja pelaku/pegiat sastra dari wilayah Jawa Timur.
Jumlah penerima Banpem bagi pelaku/pegiat sastra untuk wilayah Jawa Timur pada tahun 2026 meningkat jumlahnya. Mereka yang berkiprah Selama 40 Tahun atau Lebih masing-masing, Harwimuko, Zahra, Lilik Rosida Irmawati, Kusprihyanto (Kusprihyanto Namma), Hendry {H.U. Mardi Luhung), Akhmad Taufan Aminudin (Akaha Taufan Aminudin), Rusdi Zaki, Widodo Basuki, dan Suwarno (Nono Warnono).

Sedangkan pelaku/Pegiat Sastra yang berkiprah Selama 25 Tahun atau Lebih, masing-masing Endang Winarti (Wina Bojonegoro), Timur Budi Raja, Samsudin Adlawi, Muhammad Iqbal (Muhammad Iqbal Baraas), Sinta Yudisia Wisudanti, Satya Tantama (Tan Tjin Siong), dan Slamet Sri Mulyani (St. Emyani).

Tentu saja peningkatan jumlah penerima ini tak terlepas dari kerja keras Balai Bahasa Jawa Timur yang memberi dukungan penuh terhadap program pemerintah pusat ini, mulai dari menyebarkan informasi hingga sosialisasi kepada para penyair/sastrawan dan komunitas sastra.

Menurut Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, program bantuan pemerintah ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam memperkuat ekosistem pelestarian bahasa dan sastra daerah.

”Melalui skema fasilitasi komunitas dan apresiasi perseorangan, kami ingin memberikan dukungan sumber daya kepada komunitas penggerak yang tidak lelah menghidupkan ruang-ruang tutur, sekaligus memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para maestro dan aktivis yang telah mendedikasikan hidupnya sebagai penjaga gawang bahasa dan sastra daerah,” ujar Hafidz dalam kegiatan penyerahan bantuan di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Kemendikdasmen, Senin (25/5) di Depok, seperti yang dilansir oleh situs Kemendikdasmen.

Pada kegiatan Dialog Sastra Lagi (diambil dari judul buku antologi puisi) kali ini, FPKS merasa penting untuk merayakan konsistensi dan dedikasi para pelaku/pegiat sastra di Jawa Timur. Namun oleh karena keterbatasan, FPKS hanya mengundang beberapa nama saja untuk tampil dalam kegiatan ini.

Para penyair Jawa Timur yang bakal tampil adalah, Trinil Sri Brojo (Surabaya), Aming Aminoedhin (Mojokerto), Tengsoe Tjahjono (Malang), M.Shoim Anwar (Surabaya), Syaf Anton WR (Madura), Zoya Herawati (Surabaya), Suharmono Kasiyun (Sidoarjo), Hendro Siswanggono (Sidoarjo), Herry Lamongan (Lamongan), Widodo Basuki (Surabaya), Wina Bojonegoro (Pasuruan), Tan Tjin Siong (Malang), Bonari Nabonenar dan St. Emyani (Trenggalek). (fan)

baca juga :

Erupsi Semeru, Warga Terdampak Terima Donasi Rp 642,3 Juta dari Hiswana Migas

Redaksi Global News

Dosis Kedua, Gubernur Jatim Tinjau Langsung Vaksinasi Wartawan

gas

Jamaah Antisipasi Suhu Panas saat Puncak Haji

gas