
SIDOARJO (global-news.co.id) – Dari tahun ke tahun perkembangan agama Islam di benua Australia terus bergerak. Artinya, baik kuantitas maupun kualitas menunjukkan perkembangan positif. Karena itu dukungan umat Islam internasional, khusus yang terkait pemahaman ilmu agama sangatlah diperlukan.
“Berdasarkan sensus tahun 2021, penduduk Australia sekitar 27 juta. Dari jumlah itu, sekitar 3,2 persen merupakan pemeluk agama Islam. Masih minoritas. Meski demikian, saya optimis Islam akan terus berkembang di Australia. Seperti halnya di Amerika hingga Eropa dimana pemeluk Islam mengalami peningkatan yang signifikan,” kata Ali Abdullah, yang pernah menjadi salah satu imam Masjid Al-Hijrah, Tempe, Sydney, ketika memberikan Ceramah Subuh di Masjid Raudhatul Jannah, Perum Wisma Permai, Pepelegi, Waru, Sidoarjo, Minggu (6/4/2025).
Pembimbing komunitas muallaf, Al Insan, Brisbane, Australia itu mengatakan, secara resmi tidak ada data berapa peningkatan jumlah pemeluk Islam di Australia, tetapi secara umum pemeluk Islam setiap tahunnya terus bertambah.
“Saya sendiri, rata-rata setiap tahun berhasil meng-Islam-kan minimal 5 orang di Australia. Dari tahun ke tahun saya yakin pemeluk Islam akan terus bertambah. Mengapa? Karena Islam agama yang realistis,” kata Ustad yang mengaku nenek moyangnya dari Inggris dan Irlandia itu.

Di Australia, katanya, belakangan ini sekolah-sekolah Islam terus bertambah. Ini positif. Terutama bila dikaitkan dengan syiar Islam. Terkait dengan ini, pentingnya dai-dai untuk menyebarkan Islam. Di sini pulalah, dukungan dunia Islam diperlukan. Terutama ustad-ustad untuk menyebarkan Islam.
Ali Abdullah yang sebelum masuk Islam bernama Theis Greentree itu mengatakan, sebagai minoritas, Islam di Australia pasti menghadapi tantangan. Seperti urusan sehari-hari, kalau bepergian pasti kita berfikir nanti makan dimana. Sholat dimana. Meski demikian, secara teknis dalam hal penyebaran agama tak ada hambatan. Australia, negara demokratis. Soal agama warga negara dibebaskan untuk memeluk agama sesuai nalurinya.
Dia juga menceritakan, beberapa tahun terakhir ini, tidak sedikit anggota masyarakat yang meninggalkan agamanya.
“Berdasarkan Sensus 2021, masyarakat yang mengaku sebagai penganut agama yang percaya konsep Trinitas mencapai 42 persen, sedangkan yang mengaku tidak bergama sama sekali mencapai 39% dari seluruh penduduk Australia. Ini merupakan perubahan besar dibanding dengan hasil Census 50 tahun sebelumnya. Pada Census 1971 hampir 90% penduduk Australia mengaku sebagai penganut agama yang percaya konsep Trinitas, sedangkan kurang dari 10% mengaku tidak beragama.”
Mengapa banyak yang meninggalkan agamanya? Tentang ini, ustad Ali Abdullah mengatakan, salah satu alasannya, yakni ada sesuatu yang hilang pada diri mereka. Apa itu? Soal ke-Tuhan-an. Bertolak Pada kenyataan ini, kami-kami berkewajiban untuk menyebarkan agama. Terutama bagaimana terkait soal ke-Tuhan-an di agama Islam.
Lebih lanjut dia mengatakan, mayoritas muslim di Australia “lahir” di luar negeri. Artinya, jumlah pemeluk Islam dibawa orang luar negeri yang selanjutnya bermukim di Australia. Seperti dari India, Pakistan hingga Banglades. Kalau kita lihat sejarah, Islam masuk Australia sebernya sudah ber abad-abad sebelumnya.
“Sejarah yang ada menyebutkan bahwasanya pribumi Australia (aborigin) sering bertemu dengan muslim dari Makassar. Ada catatan hal itu. Dimana orang Eropa yang pernah mampir di bagian Utara Australia menyebutkan adanya keterkaitan masyarakat muslim Makassar dengan masyarakat Aborigin,” katanya.
Santri di Gontor
Pada bagian lain, Ali Abdullah mengatakan, dirinya memeluk Islam pada usia 16 tahun. Saat itu dia menonton film “Malcolm X”. Dia terkejut dan ingin tahu tentang Islam. Ternyata agama Islam mengakui Nabi Isa dan para Nabi lainnya. Waktu itu, sepengetahuan dirinya Islam itu jauh berbeda dengan Kristen. Ternyata antara Kristen dan Islam ada banyak kemiripan,” katanya.
Hanya saja, katanya lagi, perbedaan yang mendasar kedua agama itu soal ke-Tuhan-an. Ada konflik ke-Tuhan-an kedua agama tersebut. Di sini terdapat atau lahir pergulatan bathin di jiwa Ali Abdullah.
Dalam ketimpangan itu, untungnya dia berkawan dengan 2 muslim. “Saya terus mengorek soal Islam. Khususnya soal ke-Tuhan-an. Dalam proses pembelajaran itu, akhirnya saya menemukan kebenaran soal Tuhan. Saya yakin Islam agama yang benar. Saya yakin Islam agama yang realistis. Akhirnya memutuskan memeluk agama Islam. Saya Islam setelah mengucapkan kalimat Syahadat pada tahun 1993,” kata Ali Abdullah.
Guna terus memperdalam Islam, atas bantuan saudara-saudara muslim di Australia, khususnya muslim Indonesia, akhir 1995 dia mondok di Pondok Pesantren Gontor, Jatim. Di sini, dia terus memperdalam Islam. Dia berharap dari ilmu mondok tersebut diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan Islam di Australia.

Dikatakan, di Australia tak ada menteri agama, karena negara sekuler. Sebutan nama Tuhan semakin jarang. “Karena itu, keberadaan saya di Gontor memang diharapkan benar oleh muslim Australia kala itu. Dengan harapan saya selanjutnya menjadi orang yang bisa menukarkan ilmu keagamaan. Juga supaya saya menjadi imam masjid. Waktu itu, imam masjid itu banyak ‘diimpor’,” katanya.
Selama satu tahun 1996 mondok di Pondok Pesantren Gontor, dia fokus belajar mengaji. Mulai dari Alif. Balik ke Australia, dia jadi guru ngaji selama beberapa tahun.
Pada tahun 2008 balik lagi ke Gontor sampai tahun 2011 untuk memperdalam ilmu keagamaan sebelum kembali ke Australia lagi, dimana Ali menjadi salah satu Imam Masjid sambil kuliah S1 Dirasat Islamiyah disana.
Pada tahun 2024 kembali ke Indonesia untuk melanjutkan S2.
“Sekarang saya lagi menyelesaikan S2 di UNISSULA Semarang mengambil jurusan Magister Pendidikan Agama Islam.”
Dia mempunyai harapan besar untuk perkembangan Islam di Australia. “Cita-cita saya dengan semuanya ini, bagaimana Islam di Australia berkembang dengan pesat,” pungkasnya. (Erfandi Putra)

