Global-News.co.id
Metro Raya Utama

Gelar ARTSUBS, Surabaya Jadi Medan Baru Seni Rupa Kontemporer Nasional

 

Budayawan sekaligus kurator ARTSUBS 2026, Nirwan Dewanto (dua dari kanan) dan Prof Dr Djuli Djatiprambudi (dua dari kiri) dalam diskusi di Unesa, Senin (14/9/2026).

SURABAYA (Global-News.co.id) – Pameran senirupa kontemporer ARTSUBS kembali digelar. Perhelatan kali ketiga ini diselenggarakan di Balai Pemuda 19 September hingga 8 November 2026.

Seiring penyelenggaraan ARTSUBS yang ke-3 ini, orang jadi bertanya apakah Surabaya sedang tumbuh menjadi salah satu medan baru seni rupa kontemporer nasional? Selama ini Surabaya kerap dianggap sebagai penonton dan peta seni rupa kontemporer Indonesia seolah hanya berputar di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung.

Dalam diskusi yang digelar sebelum ARTSUBS 2026 resmi dibuka, budayawan Nirwan Dewanto yang juga kurator ARTSUBS mengatakan, masyarakat Surabaya harus tahu kalau seni rupa kontemporer di Surabaya itu sudah tumbuh sejak lama.

“Dengan keberadaan ARTSUBS, Surabaya
justru sedang tumbuh menjadi salah satu medan baru seni rupa kontemporer nasional,” tandasnya dalam diskusi yang diselenggarakan di Unesa, Senin.

“Surabaya sejak dulu sudah ada Aksera dan Ikip (sekarang Unesa),
ada Amang Rahman, Rudi Isbandi,
Gatot Pujiarto, Dadang Rukmana,” lanjutnya sembari menyebut sentra baru seperti STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta).

Yang juga tak kalah penting, Nirwan menyebut Surabaya dari dulu sampai sekarang jadi gudangnya kolektor, di antaranya Sunaryo Umar Sidik, Sunaryo Sampoerna.

Guru Besar Seni Rupa Unesa, Prof Dr Djuli Djatiprambudi, menambahkan seni rupa modern di Surabaya sudah berkembang sejak 1923 saat republik ini belum berdiri. Hal tersebut ditandai dengan adanya perkumpulan seni Raden Saleh dengan perupa Soepardi, Pik Gan.

Kemudian pada 1930-1940 pelukis asal Belanda yang lama bermukim di Surabaya, Gerald P.Adolfs dengan gaya lukis yang memotret realitas kehidupan sosial di Surabaya telah menginspirasi beberapa pelukis di antaranya Koempoel.

Lalu ada Keluarga Prabangkara (1950) yang melahirkan perupa Wiwiek Hidajat, Soenarto Timur. Bahkan pada 1955 perupa Pik Gan mendirikan Piek Gan Art Galery.

“Ini merupakan awal terbentuknya galeri swasta milik pelukis yang kemudian menjadi infrastruktur seni rupa,” ujar Djuli.

Selain itu ada Sanggar Angin (1957) dengan perupa Tedja Suminar, Krishna Mustajab, Daryono. Ini merupakan gabungan pelukis dari Yogyakarta, Surabaya, dan Solo.

Mengapa ARTSUBS? Nirwan menyebut sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya memiliki masa lalu (di bidang seni rupa) yang luar biasa.

“Kita perlu memperkaya window display atau ruang pajang bagi senirupa Indonesia. Bukan hanya di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, atau Bali. Saya kira dalam waktu 10 tahun terakhir di Jatim hidup sentra-sentra seni rupa, bukan hanya di Surabaya, tapi juga Malang, Pasuruan, Batu, Banyuwangi yang bisa bersinergi,” ungkapnya.

Hadir di Surabaya sejak 2024, ARTSUBS dirancang bukan sekadar sebagai pameran, melainkan sebagai platform yang membuka ruang bagi beragam praktik dan pemikiran seni kontemporer, termasuk seni rupa, instalasi, performance, teknologi, serta praktik lintas disiplin.

Setiap edisinya membawa gagasan yang berbeda namun saling berkelanjutan: Ways of Dreaming (2024), Material Ways (2025), dan “Border (Batas), Treshold (Ambang), dan Beyond (Seberang)” (2026).

Dengan menghadirkan seniman dari berbagai wilayah Indonesia dan mempertemukan praktik seni dengan masyarakat luas, ARTSUBS berupaya memperkuat ekosistem seni kontemporer Indonesia sekaligus menempatkan Surabaya sebagai salah satu ruang penting bagi percakapan seni kontemporer—bukan hanya sebagai tempat berlangsungnya sebuah pameran, tetapi sebagai titik temu berbagai gagasan tentang masa kini dan kemungkinan masa depan.(ret)

 

baca juga :

Kompetisi Liga 1 2022/2023: UM Surabaya Tetap Bekerjasama dengan Persebaya

Gubernur Khofifah Tinjau Langsung Pelaksanaan USP BKS di SMAN 6 Surabaya

Denmark Open: Ahsan/Hendra Takluk dari Ganda Malaysia

Redaksi Global News