
SURABAYA (global-news.co.id) – Masa tunggu (waiting list) keberangkatan haji di Jawa Timur yang saat ini mencapai 35 tahun, mendorong sebagian masyarakat untuk memilih menunaikan ibadah haji khusus (haji plus). Meski dengan biaya yang cukup tinggi.
Pimpinan Travel Tourindo HR Mohammad Faried SH menjelaskan haji plus menjadi solusi bagi calon jemaah yang ingin segera berangkat haji. Sebab, waktu tunggu haji plus relatif lebih singkat dibandingkan dengan haji reguler. Fasilitas yang diperoleh pun relatif lebih banyak. Namun, untuk menikmatinya, memang calon jemaah harus merogoh kocek yang tak sedikit. Sementara biaya jemaah haji reguler sesuai ketetapan pemerintah berkisar antara Rp 44,3 juta hingga Rp 55,9 juta.
“Saat ini masa tunggu haji plus rata-rata di bawah 7 tahun, bandingkan dengan masa tunggu haji reguler di Indonesia. Ada daerah yang mencapai 40 tahun lebih. Meski biaya cukup mahal, tapi antusiasme masyarakat berangkat haji plus cukup tinggi,” kata Faried dikonfirmasi, Minggu (28/5/2023) saat mendampingi jemaah haji plus melakukan training camp di Trawas sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Karena itu sejak ada transisi pandemi Covid menjadi endemi, pendaftaran haji plus mulai menggeliat kembali. Termasuk di Tourindo, meski ada kenaikan biaya-biaya seiring berbagai lonjakan fasilitas layanan haji di Arab Saudi.
“Tahun ini kami memberangkatkan sekitar 60 haji plus, ada kenaikan jemaah. Saya misalkan tahun lalu kami memberangkatkan 1 bus, tahun ini kami memberangkatkan 1,5 bus. Transisi pandemi Covid menjadi endemi sangat berpengaruh terhadap antusiasme warga pergi ke Tanah Suci,” urainya.
Jemaah yang bergabung itu tak hanya dari Jawa Timur, juga ada dari kota-kota besar di Indonesia, di antaranya Palembang, Jakarta.
Faried menjelaskan untuk tahun ini biaya haji plus di Tourindo minimal 16.000 dolar AS dengan waktu tinggal 25 hari, mengalami kenaikan dibandingkan biaya pada 2022, minimal 13.500 dolar AS. Variasi biaya tergantung fasilitas penginapan (berapa jumlah orang dalam kamar) di Arab Saudi.

Meski biaya berbeda jauh dengan haji reguler, mantan Bupati Lamongan ini menyebut biaya haji plus memiliki banyak kelebihan. Misalnya lokasi penginapan haji plus jauh lebih dekat dibandingkan haji reguler, bahkan hanya di depan pintu masuk Masjidil Haram.
Fasilitas hotel lebih banyak, dan berbintang 5. Kebutuhan akomodasi dan konsumsi jemaah haji plus selama di Arab Saudi juga ditanggung pihak penyelenggara, sedangkan haji reguler ditanggung sendiri.
Sementara itu untuk menggembleng para jemaah sebelum berangkat ke Tanah Suci, Tourindo menggelar training camp pesantren haji plus di Trawas Mojokerto selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu ini. Selain memberikan pembekalan pengetahuan seputar ibadah haji, budaya dan bahasa komunikasi Arab Saudi, para jemaah dilatih fisik, mental dan spiritual dengan bimbingan para ustad dari Tourindo.
Sementara itu Ketua Tim Akomodasi, Transportasi dan Perlengkapan Jemaah Haji Reguler Kanwil Kemenag Jatim Farmadi Hasyim saat melepas jemaah berangkat ke training camp di Trawas mengingatkan agar para jemaah menjaga kesehatannya. Dari sejumlah jemaah kloter haji reguler yang telah tiba di Tanah Suci, beberapa di antaranya dilaporkan ada yang sakit. Umumnya sakit imbas terpapar suhu ekstrem di Tanah Suci.
“Rata-rata jemaah usia lanjut kecapekan, mengalami dehidrasi dan sakit bawaan kambuh begitu tiba di Tanah Suci mendapati cuaca sangat panas di sana, di atas 40 derajat Celcius. Saat ini semua yang sakit dalam pengawasan dan perawatan dari tim dokter yang mendampingi selama pelaksanaan ibadah haji. Karena itu saya minta jemaah haji plus yang belum berangkat untuk menjaga kesehatannya,” katanya.
Dia melihat training camp bagi para jemaah bermanfaat untuk melatih fisik dan memperkaya pengetahuan baik pengetahuan agama, sosial dan budaya selama di Tanah Suci.
Untuk diketahui pada musim haji 2023, Indonesia mendapatkan kuota jemaah 221.000 orang. Kuota tersebut didistribusikan ke dua layanan haji yang tersedia, yaitu haji reguler sebanyak 203.320 jemaah dan haji khusus 17.680 jemaah.
Kuota untuk haji reguler masih dipilah ke tiga bagian. Kuota dibagikan pada jemaah lunas tunda tahun 2020 sebanyak 84.608 orang, jemaah lunas tunda 2022 sebesar 9.864 orang, dan jemaah belum lunas sejumlah 108.847 jemaah.
Kendati belum dapat mengakomodasi kebutuhan kuota untuk sebagian besar calon jemaah haji Indonesia, jumlah kuota yang diberikan pemerintah Kerajaan Arab Saudi untuk tahun ini telah ditingkatkan dua kali lipat dari tahun 2022.
Sementara berdasarkan laman resmi Kemenag 2023, Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan menjadi daerah dengan masa tunggu haji paling lama di Indonesia, yakni 97 tahun. Sementara Kabupaten Maybarat Papua Barat Daya menjadi daerah dengan masa tunggu tersingkat, yakni 12 tahun. (tis)

