
SURABAYA (global-news.co.id) – Memeringati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, sebanyak 21 pelukis menggelar karya di Hotel Wyndham. Pameran lukisan bertajuk “Ruang Estetika, Merdeka dalam Rupa” ini berlangsung 7 Agustus hingga 30 September 2025.
Saat membuka pameran Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil E.Dardak mengingatkan seni adalah sesuatu yang intangible, yang tidak bisa diukur tapi dirasakan, sehingga tidak ada yang lebih baik antara satu dengan yang lain.
“Jangan sampai rasa seni itu hilang karena kita berpikir terlalu matematis dalam hidup. Selama ini kita berjuang bagaimana menciptakan ekonomi dengan teori ekonomi sehingga kita jadi terlalu mekanistis dalam melihat seni yang seharusnya punya cita rasa, punya taste,” ujarnya Kamis (7/8/2025).
Diungkapkan, dalam Nawabakti Satya jilid 2, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menjadikan Jatim Harmoni benar-benar fokus pada kebudayaan dan kesenian. Berbeda dengan Nawabakti Satya jilid pertama, di mana Jatim Harmoni masih menggabungkan lingkungan hidup dan cinta kepada kebudayaan.
Karena menyangkut rasa itulah Emil tetap merasakan adanya aura yang berbeda saat mendengar budayawan D. Zawawi Imron membacakan puisinya. Sekalipun dia sudah beberapa kali mendengarkan penyair berjuluk si “Celurit Emas” asal Batang Batang, Sumenep Madura itu membacakan puisi yang sama.

Setelah membubuhkan tanda tangan tanda dibukanya pameran, Emil juga menggoreskan kuasnya ke atas kanvas yang telah disediakan. Goresan itu kemudian dilanjutkan oleh pelukis Asri Noegroho hingga tercipta lukisan wajah maestro lukis Basuki Abdullah.
Manajer Hotel Wyndham, Rachmat Zulkarnain menyebut, Ruang Estetika yang digelar bersama Adhicipta Art Community bukan sekadar pameran lukisan. Dikatakan ini adalah wadah kebebasan berekspresi, ruang inspirasi, serta bentuk nyata apresiasi terhadap semangat perjuangan yang kini diteruskan melalui karya dan kreativitas para seniman lokal.
“Kami selalu berkomitmen untuk mendukung perkembangan seni dan budaya. karena kami yakin potensi seniman Indonesia begitu luar biasa. Dan mereka layak mendapatkan panggung untuk menunjukkan bakat. Serta menyampaikan pesan kebangsaan melalui karya,” ujarnya.
Adhicipta Art Community, sebagaimana dikatakan drh Sakti Laksono, merupakan rumah bagi siapa saja yang mencintai seni dan budaya. Meski anggotanya berasal dari beragam latar belakang pekerjaan maupun usia.
“Namun semuanya berkumpul dan dipersatukan oleh kecintaan pada kesenian,” ungkap Sakti, ketuanya.
Selain menyaksikan karya lukis, di Ruang Estetika itu pengunjung atau kolektor lukis yang berminat bisa langsung membeli, karena di masing-masing sudah tercantum harga.
Pelukis Andri Setiawan misalnya, menampilkan Putih yang Merah, sementara Endang Waliati menampilkan Harmoni Cinta, lukisan kupu-kupu dengan media kain perca.
Dua pelukis perempuan yang juga mantan anggota DPRD Kota Surabaya, Nunung Harso dan Dyah Katarina ikut menampilkan karyanya. Kali ini Nunung menampilkan Semangat Merah Membara dan Dyah menampilkan Senandung Pulau Kecil yang terinsipirasi dari keindahan destinasi wisata di Papua, Raja Ampat. (ret,tis)

