Bendung Penyebaran Covid-19, Prancis Umumkan Keadaan Darurat Lagi

Reuters
Dengan diberlakukan keadaan darurat maka jam malam akan kembali diterapkan di Paris dan kota-kota lain di negara tersebut.

PARIS (global-news.co.id) – Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan bahwa keadaan darurat diberlakukan di negara itu untuk membendung penyebaran Covid-19. Macron mengatakan, dengan diberlakukan keadaan darurat maka jam malam akan kembali diterapkan di Paris dan kota-kota lain di Prancis.

“Jam malam, berlaku mulai Sabtu mendatang dan akan diberlakukan mulai pukul 21.00 hingga 06.00 pagi di wilayah Ile-de-France, tempat Paris berada, dan delapan kota lainnya,” ucap Macron seperti dilansir Anadolu Agency, Kamis (15/10/2020).

Selain Paris dan wilayah sekitarnya, tindakan baru itu juga menargetkan kota Lille, Grenoble, Lyon, Aix-Marseille, Montpellier, Rouen, Saint-Etienne, dan Toulouse.

Macron juga menyerukan untuk membatasi pertemuan tidak lebih dari enam orang. “Kami mencoba, ketika kami mengundang teman, jangan lebih dari enam orang di meja,” ucapnya, berbicara tentang restoran.

Dia kemudian mengatakan, mereka yang menerima tunjangan kesejahteraan kerja dan bantuan perumahan akan menerima € 100- € 150 per anak selama enam minggu ke depan. “Untuk yang paling genting yang jatuh miskin, kita harus punya jawabannya,” ujarnya.

Langkah-langkah terbaru yang diberlakukan oleh presiden untuk membantu membendung penyebaran virus Corona, yang oleh pejabat kesehatan dianggap sebagai gelombang kedua.

Kementerian Kesehatan Prancis pada Rabu kemarin melaporkan 22.591 infeksi Covid-19, dengan total kasus saat ini 779.063. Korban tewas di negara itu mencapai 33.037 orang. Sebanyak 6.033 orang masih dirawat di rumah sakit, dengan 1.037 di antaranya dalam perawatan intensif.

Sebelumnya Utusan Khusus Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) David Nabarro menyerukan kepada dunia untuk segera mencabut penguncian wilayah atau lockdown. Dia mengatakan, perang melawan Covid-19 tidak akan dimenangkan dengan aturan yang lebih keras yang berupaya untuk mengontrol perilaku orang.

Nabarro telah memperingatkan pemerintah di seluruh dunia agar tidak memberlakukan aturan yang lebih ketat, dengan alasan orang harus mendukung pembatasan yang diperlukan untuk memperlambat penyebaran virus tersebut.

“Perang ini dan menurut saya masuk akal untuk menyebutnya sebagai perang, melawan virus ini, yang akan berlangsung di masa mendatang, tidak akan dimenangkan dengan membuat aturan yang lebih ketat dan lebih keras yang mencoba untuk mengontrol perilaku orang,” ucapnya.

“Satu-satunya cara agar kita dapat keluar dari situasi ini adalah jika kita semua dapat melakukan hal yang benar di tempat yang tepat pada waktu yang tepat karena kita memilih untuk melakukannya,” ucapnya.

Dia berharap tidak lagi melihat lebih banyak orang berakhir di rumah sakit dan mati bagi semua untuk mendapatkan intinya. “Bahwa kita semua, kita semua, harus teliti tentang jarak fisik, memakai masker, menjaga kebersihan, mengisolasi saat kita sakit dan melindungi mereka yang paling rentan,” ungkapnya.

Dia lalu mengatakan bahwa penguncian akan membuat orang lebih miskin. “Saya ingin mengatakannya lagi bahwa kami di WHO tidak menganjurkan penguncian sebagai cara utama untuk mengendalikan virus ini,” katanya.

Pria yang juga pernah menjabat sebagai Utusan Khusus Sekertaris Jenderal PBB itu mengatakan mungkin tingkat kemiskinan akan meningkat dua kali pada tahun depan dan menyebut efek dari penguncian benar-benar menghancurkan industri pariwisata di seluruh dunia.  zis, sin, ana