Gandeng Kemenkes dan BNPB, ITS Siagakan Inovasi Penanganan COVID-19

Dengan menggandeng Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ITS memaparkan berbagai langkah yang telah ditempuh dalam web seminar (webinar) bertema Peran Perguruan Tinggi dalam Menanggulangi COVID-19, Kamis (11/6/2020).

SURABAYA (global-news.co.id) — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai institusi pendidikan dan riset memiliki peran penting dalam membantu penanggulangan pandemi COVID-19 saat ini. Dengan menggandeng Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ITS memaparkan berbagai langkah yang telah ditempuh dalam web seminar (webinar) bertema Peran Perguruan Tinggi dalam Menanggulangi COVID-19, Kamis (11/6/2020).
COVID-19 yang masih berlangsung sampai sekarang terus memacu ITS sebagai kampus teknologi untuk menciptakan inovasi-inovasi baru dalam menanggulangi pandemi. Seminar yang digelar dalam jaringan (daring) tersebut menghadirkan langsung Menteri Kesehatan (Menkes) Letjen TNI (Pur) Dr dr Terawan Agus Putranto SpRad, Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng, dan Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Lilik Kurniawan ST MSi sebagai narasumber utama.
Menkes Terawan mengungkapkan bahwa dalam upaya menghadapi COVID-19 ini bukan masalah medis saja, tetapi juga masalah multi sektoral dan kerja nyata yang telah ditunjukkan oleh ITS sangat luar biasa. “Saya bangga karena bagaimanapun, saya menjadi bagian keluarga besar ITS ini. Saya sebagai menteri akan memanfaatkan dalam membantu secara promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif,” tuturnya.
Menanggapi adanya inovasi-inovasi yang dimiliki ITS, Terawan mengaku sangat bangga dengan apa yang ITS usahakan bagi penanganan COVID-19 ini. “Saya sangat bangga dan saya sangat bersyukur melihat etos semangat motivasi yang menunjukkan kegotong-royongan yang luar biasa,” ungkap alumnus Universitas Airlangga itu.
Terawan bahkan mendorong ITS untuk memodifikasi inovasinya dengan memanfaatkan gelombang suara untuk mengendalikan virus dan berpesan bahwa semua kerja keras ini harus dilandasi dengan kegotong-royongan. “Kita bisa menghadapi semua kesulitan ini dengan penuh optimisme, sehingga kita bisa menghadapi pandemi dengan baik,” tandas dokter spesialis radiologi tersebut.
Sementara, Rektor ITS yang biasa disapa Ashari menerangkan beberapa kontribusi yang sudah dilakukan ITS sejak dimulainya masa perkuliahan daring pada 16 Maret lalu. Dalam mengawasi dan memastikan kondisi mahasiswanya, ITS membuat pemetaan daring secara reguler melalui survei. “Kita punya jurusan apa di mana titiknya, fakultas apa di mana lokasinya, di Jakarta dan semuanya, kita semua punya,” ujar Ashari.
Selain itu, lanjutnya, ITS juga memiliki tiga pilar dalam penanganan COVID-19 yaitu berbasis teknologi, mengutamakan kesehatan publik, dan membantu ekonomi nasional. Ashari menjelaskan, ada tiga masa orientasi penanggulangan COVID-19 yang menjadi strategi ITS. Pertama adalah masa COVID-19, kedua adalah masa New Normal, dan ketiga adalah orientasi masa depan.
Dalam merealisasikan strategi di masa COVID-19, ITS memproduksi 28 produk untuk menanggulangi COVID-19. Salah satu di antaranya adalah robot bernama Robot Medical Assistant ITS-Unair (RAISA). Robot RAISA ada tiga jenis, yang pertama sebagai asisten tenaga medis, terdiri dari empat rak dengan beban maksimum 50 kilogram. Kedua, robot untuk bertugas di ruang Intensive Care Unit (ICU), dan ketiga yang bertugas di ruang High Care Unit (HCU) yang dilengkapi disinfektan untuk mensterilkan ruangan dan Alat Pelindung Diri (APD).
Berdasarkan keterangan Ashari, setidaknya sudah ada empat unit RAISA yang beroperasi di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). Selanjutnya, dengan menggandeng PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), ITS juga mendonasikan dua unit robot untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soetomo Surabaya dan satu robot untuk Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Inovasi lain dari ITS adalah adanya robot Violeta yang digunakan untuk mensterilkan ruangan dengan menggunakan teknologi sinar Ultraviolet (UV). “Bisa 99 persen bakteri terbunuh, tetapi tidak boleh ada manusia di dalam ruangan saat sterilisasi,” tutur alumnus doktoral Curtin University ini.

Tidak hanya RAISA dan Violeta, ITS juga telah memproduksi 145.000 lebih face shield dan sudah dibagikan ke 25 provinsi di seluruh Indonesia dan mendonasikan ke sejumlah puskesmas dan rumah sakit. Ada juga 20 buah bilik yang terdiri dari 10 bilik fumigasi cairan disinfektan dan 10 bilik injeksi gas ozon. ITS juga memproduksi dua unit bilik swab untuk mendeteksi COVID-19 dan meluncurkan Emergency Ventilator (EVITS) berbasis lima parameter kesehatan, yang diuji oleh Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK). Ashari melanjutkan, dalam memasuki masa New Normal, ada tiga hal yang ditekankan ITS. Pertama adalah deteksi gejala, di mana ITS harus memastikan semua civitas akademika dan masyarakat yang terlibat semuanya sehat dengan menggunakan thermal image sensor. Kedua, melakukan pencegahan penularan melalui APD, masker, face shield, termasuk sterilisasi alat dan ruangan. Terakhir, adanya penanganan penderita dengan menerapkan desain kontainer untuk ruang ICU dan isolasi, serta penggunaan RAISA.

Pada bidang maritim, ITS mengusulkan protokol keamanan kepada Kementerian Perhubungan terkait dengan new normal moda kapal. “Kontribusi ITS untuk masa yang akan datang adalah ITS turut serta dalam membangun kesehatan Indonesia, ITS juga siap berkontribusi dalam perencanaan dan pelaksanaan program Kementerian Kesehatan, ITS sebagai pusat pengembangan teknologi Intelligent Health Care,” jelas guru besar kelahiran Sidoarjo itu.

Sementara itu, perwakilan BNPB Lilik Kurniawan mengharapkan supaya ITS bisa menjadi kampus tangguh COVID-19. Karena, menurutnya, COVID-19 tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan, tetapi juga pada pengamanan sosial sampai masalah ekonomi. “Dampak dari COVID-19 sudah mulai merambah pada darurat sosial dan darurat ekonomi, sampai menimbulkan kemiskinan baru dan hibernasi ekonomi,” jelas Lilik.

Lilik berkata bahwa ITS harus menjadi bagian penting dalam kolaborasi bersama pemerintah, akademisi, media, masyarakat, dan pihak swasta dalam melawan COVID-19, yang selanjutnya disebut sebagai kolaborasi Pentahelix. “Ini adalah satu bentuk komponen bersama antara pemerintah, akademisi, swasta, masyarakat, dan media,” paparnya mewakili Kepala BNPB Doni Monardo yang berhalangan hadir.

Lilik mengatakan, BNPB juga mengharap dukungan dari setiap sendi-sendi masyarakat dan ITS agar bisa menjalankan semua protokol kesehatan. Sebagai kampus teknologi, Lilik juga mendorong ITS menjadi kampus tangguh bencana untuk dapat melindungi semua sivitas akademika dan melanjutkan kontribusi-kontribusi seperti pembuatan RAISA dan Violeta. “Kita harus satu komando di mana lokomotif kita adalah Pak Jokowi (Presiden RI, red) dan saya berharap kita saling bersinergi,” tandas Lilik.

Lilik mengingatkan, penanganan COVID-19 tidak hanya lingkup pribadi dan individu, tetapi juga secara komunitas. Kedisiplinan dalam menerapkan protokol-protokol kesehatan yang sudah ditentukan oleh Kementerian Kesehatan harus dikedepankan untuk bisa bersama-sama menangani pandemi COVID19 ini. tri