Nol Kematian Corona, Vietnam Berlakukan Lockdown

Vietnam merupakan negara terbaru yang memberlakukan karantina wilayah alias lockdown secara nasional. Masa karantina wilayah berlaku selama 15 hari dimulai, Rabu (1/4/2020).

HO CHI MINH  (global-news.co.id) – Meski belum ada kematian akibat virus corona, Vietnam merupakan negara terbaru yang memberlakukan karantina wilayah alias lockdown secara nasional.

Masa karantina wilayah berlaku selama 15 hari dimulai, Rabu (1/4/2020). Selain itu, sejumlah pejabat mengimbau masyarakat untuk tidak berkerumun dalam kelompok berjumlah tiga orang atau lebih.

Merujuk Universitas Johns Hopkins, kasus infeksi virus corona di Vietnam mencapai 212 kasus, tanpa kematian, dan 63 orang dinyatakan sembuh.

Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc meminta lima pemimpin kota terbesar Vietnam, yaitu Hanoi, HCMC, Hai Phong, Da Nang, dan Can Tho, untuk melakukan langkah intensif dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk melakukan tindakan yang tepat.

PM Phuc menyerukan agar para pemimpin kota menyiapkan sumber daya manusia dan pasokan untuk menangani virus corona. Mereka juga harus mencegah warga berpindah dari daerah wabah ke daerah lain.

Dampak lockdown juga membuat layanan transportasi di Vietnam dibatasi, termasuk kereta api, bus, dan pesawat.

Phuc sebelumnya mendesak warganya di seluruh wilayah untuk menghentikan acara sosial, sehingga membuat otoritas menghentikan upacara keagamaan dan serta menangguhkan semua kegiatan budaya, olahraga, dan tempat wisata. Pemerintah juga telah meminta penangguhan bisnis tak penting, kecuali toko penjual makanan, obat-obatan, dan bahan bakar.

Sebelumnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan respons cepat pemerintah Vietnam terhadap keadaan darurat kesehatan sangat penting dalam mengatasi krisis pada tahap awal virus corona.

Mimpi buruk COVID-19 di Vietnam dimulai ketika dua warga negara Tiongkok ditemukan menjadi kasus pertama di Kota Ho Chi Minh pada 23 Januari lalu.

Vietnam secara resmi menyatakan virus corona sebagai epidemi pada 1 Februari, ketika jumlah kasus di negara itu meningkat menjadi enam.

Pada 13 Februari, Kementerian Kesehatan Vietnam juga memerintahkan 10.600 penduduk Son Loi dikarantina selama 20 hari, setelah lebih banyak kasus dikonfirmasi.

Pada Rabu 26 Februari, pemerintah Vietnam telah menyatakan bahwa pasien ke-16 dan terakhir yang terinfeksi virus telah dikeluarkan dari rumah sakit.

Pasien terakhir itu adalah pria berusia 50 tahun itu, tertular infeksi dari puterinya yang berusia 23 tahun. Keduanya adalah penduduk asli distrik Son Loi di Provinsi Vinh Phuc, tempat 11 kasus COVID-19 ditemukan.

Anak perempuan itu adalah satu dari delapan pekerja sebuah perusahaan Jepang, yang kembali dari Kota Wuhan di Tiongkok, pusat virus corona pada 17 Januari. Secara keseluruhan, enam orang, di antara kelompok pekerja, dinyatakan positif virus corona. Beberapa kerabat dan teman mereka juga terinfeksi. Di antara mereka adalah bayi berusia tiga bulan.

Dr Kidong Park, perwakilan WHO di Vietnam, mengatakan keberhasilan Vietnam berkat proaktif dan konsistensi tanggap pemerintah. “Negara ini telah mengaktifkan sistem responsnya pada tahap awal wabah, dengan mengintensifkan pengawasan, meningkatkan pengujian laboratorium, memastikan pencegahan dan pengendalian infeksi dan manajemen kasus di fasilitas kesehatan, pesan komunikasi risiko yang jelas dan kolaborasi multi-sektoral,” kata Park kepada Al Jazeera.

Menteri Kesehatan Vietnam Nguyen Thi Kim Tien mengatakan Vietnam telah memenangkan putaran pertama melawan COVID-19. “Jika pertempuran COVID-19 adalah perang, maka kami telah memenangkan putaran pertama tetapi tidak seluruh perang karena situasinya bisa sangat tidak terduga,” kata Menteri Kesehatan Vietnam Nguyen Thi Kim Tien mengutip Al Jazeera. yan, okz, ins