Sudetan Begawan Solo Butuh Rp 2,5 Triliun

Gubernur Jatim Khofifah saat menginspeksi kondisi Begawan Solo.

SURABAYA (global-news.co.id) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur tengah merumuskan untuk menambah sudetan di Bengawan Solo. Namun ternyata rencana tersebut masih terkendala aanggaran. Pasalnya untuk membuat tiga sudetan di sepanjang Bengawan Solo membutuhkan dana besar dari Kementerian PUPR.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan kebutuhan sudetan untuk Sungai Bengawan Solo di titik Bojonegoro saja membutuhkan anggaran lebih dari Rp 2 trilliun. Anggarannya memang ada dari pemerintah pusat lantaran pengelolaan sungainya ada di pemerintah pusat.

“Agak mahal sih memang, sekarang itu, untuk menyiapkan pintu di sedayulawas Lamongan rupanya itu sudah tembus angka trilliun. Untuk menyiapkan pintu air di Bojonegoro itu juga sudah tembus trilliun, jadi pemetaan pemetaan ini terus kita koordinasikan sih, kita butuh tiga sudetan, saya diberi peta,” kata Khofifah, Rabu (25/12/2019).

Dikatakan Khofifah saat ini yang paling urgen saat ini untuk dibangun sudetan adalah di titik Lamongan dan Bojonegoro. Yang setiap kali sungai melupas kerap banyak kampung terendam banjir.

Karena itu pihaknya tengah mengupayakan bagaimana sudetan yang dibangun dengan membangun pintu air bisa diprioritaskan. “Saya relatif sudah terkomunikasikan. Yang di Sedayulawas satu trilliun lebih. Lalu yang di Bojonegoro membutuhkan anggaran sekitar Rp 2,25 triliun. Yang di Lamongan ya sekitar itu juga,” ucap mantan Menteri Sosial itu.

Selain sudetan yang juga sedang diupayakan adalag penanggulan kali Lamong. Sehingga Khofifah memahami bahwa saat ini pemerintah pusat sedang membagi-bagi anggaran penanganan luapan sungai di Jawa Timur.

“Kita dengan 10 balai di Kementeri PU PR sudah rapat dan sudah nengkoordinasikan karena titik titik tertentu apakah Bengawan Solo, apakah Brantas, yang punya kewenangan kan jasa tirta,” ucapnya.

Di sisi lain, untuk upaya tanggap bencana, di Bengawan Solo memang dikatakan Khofifah ada beberapa tanggul yang butuh antisipasi. Terutama di kawasan Bojonegoro bagian selatan yang memiliki potensi banjir tinggi.  trb