Suami Kena Stroke, Tak Malu Jadi Sopir Online untuk Ringankan Beban Keluarga

Elvira Damayanti M Noer rela banting tulang menjadi sopir online untuk meringankan beban keluarga saat suami kena stroke.

Banyak ibu yang menjadi pelopor emansipasi wanita dengan menjadi tulang punggung keluarga. Di tengah kesibukannya sebagai istri, menjaga dan mendidik anak-anaknya, karena tuntutan keadaan dan ekonomi mereka tak segan berjibaku menambah pendapatan keluarga. Tidak mengenal waktu dan usia.

Itu juga yang menjadi pilihan Elvira Damayanti M Noer. Ibu satu orang anak ini rela banting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.  Namun, perempuan kelahiran Surabaya, 5 November 1970 ini tidak pernah sedikitpun mengeluh. Wajahnya selalu dihiasi senyuman, meski diakuinya kadang lelah sering menderanya.

Perempuan yang akrab disapa Vira ini sebelumnya adalah seorang ibu rumah tangga biasa, hingga saat suaminya terkena stroke dua tahun lalu. Tanggung jawab mencari nafkah beralih pada Vira. Kini Vira tidak hanya ibu rumah tangga biasa, tetapi juga merangkap sebagai kepala rumah tangga. Vira menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, suami, anak, dan ibunya. “Saya anak sulung dari tiga bersaudara. Semenjak ayah saya meninggal, ibu saya ikut tinggal bersama saya dan menjadi tanggung jawab saya,” tuturnya saat menceritakan awal ketertarikannya bekerja sebagai sopir online dalam sebuah acara, Selasa (19/11/2019).

Suami yang sedang sakit, anak yang masih sekolah, dan ibu yang sudah renta membuat Vira harus terus berjuang demi mencukupi kebutuhan anggota keluarganya. “Sebelumnya saya hanya ibu rumah tangga biasa, tidak bekerja sama sekali. Tetapi sejak suami sakit saya terus berpikir, apa ya yang bisa menghasilkan uang dan bisa mencukupi kebutuhan keluarga? Tetapi dengan adanya tiga tanggungan, saya harus bisa mencari pekerjaan yang bisa menghidupi kami semua. Apalagi di usia saya saat ini tentu bukan hal mudah untuk mendapatkan pekerjaan,” jelasnya.

Sampai pada suatu ketika adik laki-laki Vira yang bekerja sebagai mitra pengemudi GrabCar mengajak Vira untuk mencoba menjadi mitra pengemudi GrabCar. Hal ini ternyata bukan tanpa alasan. Vira mengaku memang hobi menyetir mobil. Bahkan ia sudah bisa mengendarai mobil sejak SMA. “Saya kemudian berpikir, kenapa tidak dari nyetir ini untuk mencari nafkah. Apalagi sekeluarga bergantung pada saya. Selain itu, saya juga melihat adik saya menggantungkan hidupnya dari penghasilan nge-Grab. Saya memastikan, memang bisa menghasilkan dari sini saja? Dia bilang bisa. Akhirnya saya coba dan Alhamdulillah bisa bergabung menjadi mitra. Setelah bergabung ternyata kok menyenangkan. Penghasilannya juga Alhamdulillah, bisa untuk asap dapur juga,” bebernya.

Awal mulai bekerja menjadi mitra GrabCar memang tidak mudah. Vira mengaku butuh waktu untuk melakukan penyesuaian. Hal ini dikarenakan, selain bertugas mencari nafkah, Vira tetaplah seorang istri, ibu dan anak yang harus mengurus segala macam kebutuhan suami yang sedang sakit hingga keperluan anak dan ibunya. “Alhamdulillah sekarang sudah lumayan. Suami sudah bisa pakai tongkat sendiri dari awalnya hanya rebahan saja,” katanya.

Untuk bisa tetap melakoni perannya yang ganda, Vira membuat jadwal rutin untuk bekerja sebagai mitra GrabCar, karena Vira tidak mengenal hari libur. Vira turun ke jalan setiap hari satu minggu full. Apalagi menurutnya, saat weekend merupakan momen keberuntungan karena saat itu orderan GrabCar membanjir. “Jadi saya konsen ke weekend. Tapi kalau Senin sampai Kamis saya sambi dengan kegiatan lain. Kebetulan suami juga masih terus terapi dua kali seminggu di rumah sakit. Di sela-sela waktu itu saya bisa mengantar suami terapi dan kontrol,” ujarnya.

Setiap hari, biasanya setelah menunaikan ibadah salat Subuh, Vira mulai mengaktifkan aplikasi driver GrabCar-nya. Terutama setelah anaknya sudah berangkat sekolah. “Kira-kira pukul 6 pagi sampai pukul 6 sore. Iya, 12 jam. Tapi siangnya biasanya saya cari orderan yang arah pulang ke rumah, karena harus menyiapkan makan suami dan makan ibu saya. Nanti setelah semua selesai, saya menunggu ada order lagi baru berangkat,” katanya.

Menurut Vira, menjadi mitra GrabCar adalah pilihan terbaik. Pasalnya, ia bisa bekerja dengan nyaman. “Enaknya juga bisa sefleksibel ini ya, karena aplikasinya bisa di on maupun off sewaktu-waktu,” tuturnya. Meski sudah di-setting setiap pukul enam sore sudah pulang ke rumah, tidak jarang Vira harus menyelesaikan order terakhir yang terkadang trip panjang. “Bisa jadi molor, bisa sampai pukul 7-8 malam baru sampai rumah,” imbuhnya.

Namun demikian, Vira mengaku sangat menikmati pekerjaan ini. Dalam sehari, biasanya Vira bisa menyelesaikan 11 hingga 18 trip. Vira juga aktif mengikuti grup WhatsApp Ladies Grab, yakni komunitas mitra Grab perempuan yang membuatnya semakin termotivasi. “Bisa sharing. Mereka juga ngasih tahu jalan mana yang macet atau buntu. Pekerjaan menjadi lebih mudah dengan mengikuti grup seperti ini. Pernah kalau kekurangan armada, mereka akan memberitahu. Kadang mereka juga share, hari ini dapat sekian-sekian jadi ikut terpacu,” tuturnya.

Dalam menjalankan tugasnya, apalagi bekerja di bidang jasa, Vira mengaku senang bisa membantu orang. Vira selalu menomorsatukan keamanan bagi penumpangnya.  “Safety harus di nomor satu. Apalagi berkaitan dengan nyawa, harus selamat saat menjemput dan mengantar sampai tujuan,” ujarnya.

Saking menikmatinya, Vira mengaku belum berpikiran untuk bekerja di bidang lain maupun membuka usaha sendiri. “Untuk sementara begini saja, saya sudah merasa nyaman. Saya bicara ini agar wanita-wanita di luar yang mengalami masalah seperti saya, termotivasi untuk bekerja sesuai kemampuanya,” ujarnya seraya menyebut dari Grab penghasilannya rata-rata minimal Rp 350.000 dalam sehari.

Soal keamanan, Vira mengaku tidak khawatir. Selain pelatihan berkendara aman dan bela diri dasar, Grab juga punya teknologi keamanan yang luar biasa. Apalagi sekarang sudah ada ada fitur Pusat Keselamatan untuk mitra pengemudi dan pengguna. Di situ ada berbagai macam fitur seperti bagikan lokasi perjalanan, tombol darurat dan layanan bantuan. “Selain itu ada juga fitur Free Call, jadi nomor telepon pribadi penumpang dan pengemudi tidak akan bisa dilihat. Saya jadi tenang, penumpang juga harusnya merasa lebih nyaman,” katanya.

Khusus di Kota Surabaya, data menunjukkan Grab berkontribusi sebesar Rp 9 triliun pada tahun 2018. Kontribusi terbesar dihasilkan oleh mitra GrabFood sejumlah Rp 4,22 triliun, diikuti GrabBike sebesar Rp 3,51 triliun, GrabCar senilai Rp 1, 17 triliun, GrabKios individual dan toko sebesar Rp 50 miliar. Sementara, pendapatan mitra pengemudi GrabBike meningkat sebesar 144% dan mitra GrabCar sebesar 114%. Juga, penjualan mingguan mitra merchant GrabFood meningkat sebesar 34%. Selain meningkatkan pendapatan para mitra, Grab juga berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja. 38% mitra pengemudi GrabBike dan agen individual GrabKios, serta 33% mitra pengemudi GrabCar yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan. tri