CIMSA Unair Berbagi Cara Menangani Bayi Prematur

SURABAYA (global-news.co.id) – Tingginya angka kasus kelahiran prematur dan kompleksitas penanganan bayi prematur mengilhami sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Centre for Indonesian Medical Students Activities (CIMSA) Unair untuk mempertemukan para orangtua bayi prematur dan berbagi pengalaman. Lewat kegiatan parents with premature infants (PRIMI)  ini para orangtua bayi prematur diharapkan bisa belajar dan lebih percaya diri dalam merawat buah hatinya.

Kepala Divisi Neonatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD dr Soetomo, Dr dr Risa Etika SpA (K), mengungkap, anak prematur juga bisa tumbuh dan berkembang menjadi cerdas asal pertumbuhannya terus dikawal hingga usia 18 tahun. Dijelaskan, bayi-bayi prematur atau yang lahir saat kandungan belum mencapai usia 37 minggu, butuh penanganan yang berbeda dengan bayi-bayi yang lahir normal. Karenanya sekalipun telah “lulus” dari NICU (neonatus intensive care unit) tetap harus dilakukan intervensi terhadap gizi nutrisinya juga dalam hal pemberian stimulus. “Anak-anak prematur juga bisa menjadi SDM unggul, asal dilakukan pengawalan sejak dari NICU hingga usia 18 tahun,” ujarnya di sela pertemuan PRIMI yang difasilitasi CIMSA bekerjasama dengan tim dokter dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD dr Soetomo, Sabtu (28/9).

Pembimbing PRIMI, dr Mahendra Tri Arif Sampurna SpA, menambahkan, karena dilahirkan dalam usia yang belum cukup umur (kurang dari 37 minggu), bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi  di antaranya cedera otak yang komplikasinya jangka panjang. “Cedera ini memengaruhi matanya bahkan bisa buta, bisa memengaruhi telinga, alergi dan gangguan pernafasan. Karena itu harus dikawal jangan sampai sakit di kemudian hari,” ujarnya.

Risa menyebut, pada bayi prematur bisa mengalami cacat yang ringan hingga berat. Cacat ringan minor yang kerap terjadi, di antaranya mengalami gangguan belajar, kesulitan membaca. Kekurangan ini bisa diatasi dengan pemberian stimulasi yang terus menerus dan dengan bersekolah di sekolah inklusi. Menurut dia, para orangtua bayi prematur ini tak perlu berkecil hati. Dicontohkan ilmuwan Albert Einstein juga terlahir prematur, begitu pula penyanyi Stevie Wonder yang kelahiran prematurnya menyebabkan cacat pada matanya.

Mendasarkan data dr Risa, dari total angka kelahiran di RSUD dr Soetomo yang sebanyak 864 setiap tahunnya, sebanyak 58% di antaranya (487) lahir prematur. Kelahiran prematur terjadi antara lain karena tensi ibu naik sehingga janin harus dikeluarkan meski usia kehamilannya belum 37 minggu dalam upaya menyelamatkan nyawa ibu. Bisa pula lantaran bayi memiliki kelainan sehingga harus dilahirkan.

Dijelaskan, bayi prematur memiliki risiko lebih besar terhadap masalah kesehatan, oleh karena itu diperlukan pembekalan kepada orang tua mengenai risiko kesehatan, cara perawatan, nutrisi, dan tumbuh kembang bayi prematur agar orangtua menjadi lebih waspada dan siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Pembekalan juga dibutuhkan agar orangtua dapat mengetahui seberapa besar perkembangan anak mereka. Maka dari itu, keberadaan komunitas bayi prematur yang terorganisasi sangat diperlukan, agar ilmu dan pengalaman yang telah didapat masing-masing orang tua dapat dibagikan kepada satu sama lain.

Dr Bangkit bersama istri dan buah hatinya, berbagi pengalaman saat harus menghadapi roller coaster hidup terkait kondisi bayi kembarnya yang lahir prematur.

Pada intervensi pertama PRIMI, Ny Sakti yang juga perawat neonatus di RSUD dr Soetomo, mengungkap pengalaman membesarkan Lazuardi, buah hatinya yang lahir prematur dengan berat 1.100 gram. Lazuardi yang kini berusia 21 tahun, tercatat sebagai mahasiswa jurusan arsitektur di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

“Pesan saya untuk orangtua dengan bayi prematur yakni agar mentaati jadwal kontrol agar tidak kecolongan,” pesan Dwi Anita, ibu dari Qiandra Aulia Risqia Ahmadi, bayi prematur yang lahir di  minggu ke-32 kehamilan dengan berat 1.300 gram.

Pada kesempatan itu hadir pula si kembar 5,  Rizky Ramadhan Pratama, Anisa Naladeva Ramadhani, Anindya Naladeva Ramadhani, Anindita Naladeva Ramadhani, dan Naisyah Naladeva Ramadhani yang kini berusia 4 tahun. Bayi kembar pasangan Haris Saputra-Nia Rahmawati ini dilahirkan saat usia kehamilan baru  31 minggu.

Antusiasme para orangtua bayi prematur “alumni” NICU RSUD dr Soetomo pada kegiatan intervensi yang baru pertama kali diadakan tersebut begitu besar, terutama saat sesi sharing dan pemaparan materi. Setidaknya mereka bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam membesarkan dan merawat bayi prematur. “Kami berharap kerja sama ini dapat terjaga dengan baik dan selanjutnya  komunitas orangtua dengan bayi prematur di RSUD dr Soetomo bisa lebih terkoordinir,” ujar Kintan, ketua PRIMI.

Wakil dari Komunitas Bayi Prematur Indonesia, dr Astri Pramarini IBCLC mengakui selama ini informasi tentang prematuritas masih sangat kurang terutama yang berbahasa Indonesia. Karena itulah setelah “badai” yang dialami sehubungan bayi prematurnya berlalu, dia dan suaminya memutuskan untuk berbagi, antara lain tentang cara menyusui, tentang kangaroo mother care, dan lainnya. “Jendela informasinya memang terbatas dan tidak dipungkiri ada kesenjangan informasi dari yang diberikan oleh tenaga kesehatan pada orangtua,” ujarnya.

Untuk membantu para orangtua dengan bayi prematur, lanjut Mahendra, pihaknya juga tengah menyusun buku pedoman merawat bayi prematur.ret

Dr Risa Etika SpA (kanan), dr Mahendra SpA (lima dari kanan), dr Agus Harianto SpA (dua dari kiri) dan si kembar 5 Rizky, Anisa, Anindya, Anindita, dan Naisyah.