Ferdiansyah, Korban Salah Bacok Akhirnya Tinggalkan RSUD Dr Soetomo, Katua Yayasan Cheng Hoo Tanggung Seluruh Biayanya

Haji Nurawi saat menyerahkan biaya pengobatan kepada Ferdiansyah di RS Dr Soetomo Surabaya.


Akhirnya Ferdiansyah bersama keluarganya bisa bernapas lega. Biaya yang menjadi masalah utama dirinya untuk “keluar” dari RSUD Dr. Soetomo, akhir terselesaikan. Ya, seorang donatur, Haji Abadullah (H.A.) Nurawi, menanggung seluruh biaya pengobatan pemuda korban salah bacok yang mengakibatkan tangan kanannya harus diamputasi tersebut. Memang, dia sudah lepas dari rumah sakit, tetapi ada raut muka yang hambar melihat tatapan mata Ferdiansyah. Apa itu? Apa yang bisa diperbuat hanya dengan tangan kiri saja untuk menyongsong masa depannya?

OLEH HAJI ERFANDI PUTRA

FERDIANSYAH merupakan korban salah bacok. Ferdiansyah (19 Tahun) baru lulus dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Jumat (26/4/2019) lalu bersama teman sekelasnya dia menginap di rumah temannya di Waru, Pamekasan. Tiba-tiba dia terbangun pada tengah malam. Dia seperti biasa membantu ibunya yang menderita stroke untuk sholat tahajud. Pulanglah dia meminjam motor beserta jaket temannya yang bernama Erfan.

Dia benar-benar tak sabar untuk cepat-cepat sampai ke rumahnya. Dia ingin melakukan tugas rutinnya, yakni membantu ibunya untuk sholat tahajud.

“Pas berada di Jalan Kleker, Waru, di kegelapan malam, tiba-tiba saya ditebas dengan clurit oleh orang tak dikenal, sebelumnya orang tak dikenal tersebut memepet kendaraan saya,” katanya.

Firmansyah langsung berteriak. Warga sekitar pun berdatangan. Firmansyah dibawa ke Puskesmas Pakong. Karena lukanya parah, petugas menyarankan untuk langsung ke RSUD Pamekasan.

RSUD Pamekasan akhirnya merujuk ke RS Dr Soetomo di Surabaya. Rupanya tangan kanan yang terkena tebas clurit tersebut tak bisa ditolong lagi. Amputasi, kata dokter.

Ya, amputasi satu-satunya jalan untuk penyembuhan.

“Saya ikhlas semuanya ini. Saya tak punya musuh. Saya pulang ke rumah hanya untuk membantu ibu sholat malam,” katanya.

Ternyata duka itu tak berhenti di situ. Setelah amputasi berhasil, biaya rumah sakit menjadi beban selanjutnya. Karena keluarga tersebut benar-benar tak mampu. Apa yang harus dijual?

“Tak ada bapak. Kami juga pusing bagaimana caranya adek saya pulang ke rumah, karena menurut dokter pengobatan adek saya sudah selesai. Tinggal membayarnya. Nah membayarnya dari mana itu menjadi masalah juga,” kata Khairi, kakak kandung Ferdiansyah, yang dengan setia menemani sang adik selama di rumah sakit.

Jumat (3/5/2019) lalu sebenarnya pihak RSUD Soetomo sudah memperbolehkan sang pasien untuk pulang. Pengobatan sudah dirasa cukup. Kembali lagi, karena keluarga tidak mempunyai dana yang cukup akhirnya kepulangan anak yang sejak SMP menanggung biaya sekolahnya sendiri itu tertunda.

Malah Direktur Utama RSUD Dr. Joni Wahyuhadi, dr., Sp.BS (K) merasa prihatin dengan kenyataan ini. Meski Ferdiansyah memegang kartu BPJS, tetapi menurut keterangan petugas BPJS di RSUD Soetomo tak dapat dipergunakan, karena apa yang menimpa Ferdiansyah adalah kriminal. Itu tak bisa dicover BPJS.

Dr Joni pun menyarankan kepada keluarga pasien untuk minta surat pengantar dari Dinas Kesehatan Pamekasan tempat di mana Ferdiansyah berdomisili. Selanjutnya surat dari Pamekasan akan dibawa ke Dinas Kesehatan Pemprov Jatim guna mendapat keringanan dari RSUD Dr Soetomo. Sayangnya Dinas Kesehatan Pamekasan tak bisa mengeluarkan surat tersebut dengan alasan tak ada aturannya.

Pupuslah semua untuk mendapat keringanan pembayaran. Ferdiansyah pun semakin gelisah. Atas bantuan seseorang familinya yang berhasil menghubungi H.A. Nurawi, Dirut PT Didaya Inti Plasma, akhir sinar cerah itu datang juga.

H.A. Nurawi yang juga Ketua Umum Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI) menanggung seluruh pembiayan perawatan Ferdiansyah di RSUD Dr. Soetomo yang nilai sekitar Rp 26.500.000. Keluarga Ferdi yang asal Madura pun lega.

“Anak ini tidak salah. Anak ini berhati mulya, karena dia pulang ke rumah tengah malam hanya karena ingin membantu ibunya yang stroke untuk melaksanakan sholat tahajud. Orang seperti ini sudah sepatutnya kita bantu. Apalagi keluarganya tidak mampu,” kata H.A. Nurawi, sang mualaf yang etnis Tionghoa itu.

H.A. Nurawi mengatakan, karena ini merupakan salah bacok, dia berharap polisi mencari pelakunya. Pembacoknya harus bertanggung jawab.

“Kasihan dia sekarang. Bagaimana masa depannya setelah ini. Ini harus menjadi perhatiannya,” kata Nurawi seusai memberikan bantuan, Senin (6/5/2019).

Sementara itu, sanak saudara dan famili yang ada di Ruang Flamboyan RSUD Dr Sortomo banyak mengucapkan terima kasih kepada H.A. Nurawi.

“Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Haji Nurawi. Tanpa bapak kami tak bisa pulang ke Madura. Semoga bapak diberi pahala setimpal dari Allah dan dimudahkan rezekinya,” kata saudara wanita Ferdiansyah sambil sesenggukan menangis.

Setelah mendapat bantuan dari H.A. Nurawi, akhirnya keluarga Ferdiansyah mengurus administrasi untuk kepulangannya ke Kampung Sumber Taman, Desa Pakong, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan, Madura. Raut muka terlihat senang di muka Ferdiansyah beserta keluarganya. Setelah selesai mengurus administrasi, sebelum Maghrib, keluarga tersebut kembali ke Pamekasan, Madura.

Siapa Pelakunya

Sesampainya di Madura, sanak keluarga berkumpul di rumahnya. “Semua orang merasa kasihan kepada Ferdiansyah. Anaknya baik. Tak ada tingkah. Gigih dalam berjuang. Dia bercita-cita kuliah meski orangnya tak mampu. Semuanya sirna setelah Ferdiasnyah bertangan satu, tetapi Allah maha adil. Manusia tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya,” kata Moh. Tabir, salah seorang family saat bertamu di rumah Ferdiansyah, Senin (6/5/2019) malam.

Mengapa Ferdiansyah ditebas orang tak dikenal, hingga kini masih jadi pertanyaaan sejumlah masyarakat desa? Khairi, kakak Firmansyah menduga-duga. Kelihatannya kejadiaan yang menimpa adiknya karena salah sasaran saja.
“Konon yang diincar itu Erfan, teman Firmasyah yang mempunyai motor dan jaket yang dipakai adik saya. Mungkin saja, adik saya dikira Erfan,” kata Khairi.

Motifnya? Tentang ini Khairi mengatakan, diduga Erfan “mengambil” pacar seseorang. Nah, seseorang tadi marah kepada Erfan. Kelihatannya Erfan sudah diincar.

“Tengah malam ada “Erfan”, langsung saja ditebas, padahal yang menaiki motor tersebut adik saya,” kata Khairi.
Sudah lapor polisi. “Sudah. Mudah-mudah pak Polisi bisa menuntaskan masalah ini, karena kami sekarang benar-benar bingung. Meski Ferdiansyah sudah berada di rumah, bagaimana dengan masa depan adik saya,” pungkas Khairi. (Erfandi Putra)