Kabar Damai di Terminal Lawang Heritage

Oleh: Imawan Mashuri*

KABAR Damai mengalir seperti air. Berombak, ratusan tangan-tangan –mungkin seribu– dilambaikan, bergerak ke kiri dan kanan. Itu tangan-tangan arek Lawang, di depan panggung, di bawah sorot warna warni lampu, sebagian tangannya merangkul teman di sisinya, terus berombak, mengikuti genjrengan halus gitar Pendik Roll dan Giplo.

Tiwus memimpin dengan vokal khasnya; rock, didampingi vokalis permanen sekaligus biangnya d’Kross Band kebanggaan Aremania; Sam Ade. Sesekali bassis Ari dan drummer Randy meningkahi lembut, jadilah ombak arek-arek Lawang itu diderai air mata, sambil terus melantun, gagah;

..damai..damai.. saudaraku.
jabat erat penuh kasih sayang
untuk apa terus bertengkar
pertemuan ini adalah kabar….

Tembang ciptaan Anto Baret itu keras mengalir. Anto tidak sempat menyaksikan tembangnya yang tersimpan kuat di hati arek-arek Lawang. Dia tertinggal rombongan Sam Ade dan crew d’Kross yang dipatwali polisi sejak dari Kasembon.

Minggu pagi kemarin, mereka memang konser di Kasembon. Dari sana menembus kemacetan rutin weekend Malang Raya, menuju Lawang.

Anto tidak menyaksikan mata-mata sembab, haru, dan nyanyian hati para pecintanya; bait demi bait dikumandangkan;

…sudah lama aku menunggu pertemuan seperti ini
ikatan batin yang telah terpatri
tak bisa aku ingkari…..
Ombak itu terus bergerak

Tembang itu terus mengalir, sampai tuntas. Sempurna.
Itulah sekuel gelar penutupan Pasar Rakyat, yang diselenggarakan Perkumpulan Lawang Heritage (LH) , di Terminal Lawang Heritage (TLH), tadi malam.

Di lokasi yang belum genap empat bulan dimanfaatkan oleh LH itu, untuk panggung ekspresi dan open space masyarakat Lawang itu, –tapi sudah banyak aktifitas itu– dan sudah dikunjungi Medikbud Muhadjir Effendy, Dahlan Iskan, plt Bupati Malang HM Sanusi –sekaligus memberinya nama: Terminal Lawang Heritage– itu, d’Kross menguatkan semangatnya.

Diciprati hujan rintik –sisa derasnya hujan penghujung awal malam– belasan nomor yang dipetik dari enam album d’Kross, dimainkan.

Ayo Arema, Sore Ini Kita Harus Menang –yang dilantunkan d’Kross sejak 2007– meluncur awal, mengaduk emosi, membakar semangat.

Semua lirik d’Kross memang menguatkan semangat, damai, loyal dan persahabatan.

Persahabatan itu tidak hanya pada syair lagu-lagunya. Kedatangannya ke Lawang adalah ujudnya. Komandan d’Kross yang bernama panjang; Ir. H. Ade Herawanto, MT itu, membawa seluruh personil band dan crew-nya, menembus kemacetan jalur yang menggila setiap akhir pekan. Dia minta bantuan patwal yang biasa mengawal Walikota Malang, untuk membelahkan jalan, dalam rangka menemui dan mendukung geliat sahabat-sahabatnya.

“Saya yakin akan ada yang besar nanti di Lawang,” Ade memuji dengan caranya, begitu sampai rumah saya. “itu sebabnya saya harus datang ini. Silaturahim, silaturahim…, wkwkwk…..” Ade, tingkahnya tidak berubah.

“Mas Sugeng (Sugeng Irawan, ketua panitia Pasar Rakyat TLH yang juga sekretaris LH) ngabari,” seloroh Ade, seraya melanjutkan; “minta d’Kross tampil penutupan acara, saya juga dikasi tahu, itu timnya Mas Imawan, tanpa pikir panjang, _oyi thok wis_…” khas dialek Aremania.

Ade, pada awal ’90an, sering diskusi bersama Damarhuda –arek mbeling, kreatif nan jenaka– itu, diskusi di rumah saya, yang kini dijadikan markas perkumpulan LH. Di Lawang. Ade mengasah keterampilannya untuk ilmu kewartawanan kala itu. Sekaligus jadi enterpreneur.

Maka tidak heran kalau d’Kross dilahirkannya bersama sejumlah wartawan. Dan orang-orang Pemkot. Ade berkarier sebagai pegawai Pemkot Malang.

Kini dia jadi kepala pajak kota Malang. Entah apa sebutannya. Mungkin Badan Pelayanan Pajak. Dulu Kadispenda. Saya tidak peduli jabatannya. Pernah diam-diam saya cek, kariernya ternyata cukup meroket. Pernah lama di PU karena basic- nya memang orang teknik; arsitektur dan civil engineering. Ade juga tidak pernah mengandalkan jabatannya. Kecuali terus mengoleksi teman. Itu sebabnya, kalau bersama dia, di restoran misalnya, asyik-asyiknya ngobrol, dipotong orang yang menyapanya, dan berbicara, menunjukkan ada keterkaitan aktifitas. Biasanya untuk Aremania, untuk olah raga tinju yang dibinanya, untuk musik. Tidak jarang dia berani menegur orang yang tidak membayar pajak. Dari situ sebenarnya saya baru tahu bahwa dia sekarang Kepala Badan Pelayanan Pajak di Kota Malang.

Di rumah saya, Ade masih luwes, tidak canggung. Juga seluruh pemain dan crewnya. Dlosoran. Makan nasi bungkus. “Padahal, di panggung, band ini sangat perkasa,” komentar Gunawan Wibisono, Boss SKT Djie Sam Soe, partner Sampoerna, itu. Gunawan memang ikut menemani di rumah. “Mas Ade juga bukan orang sembarangan, bisa jadi pemimpin daerah, karena cukup syarat,” pujinya.

Gunawan, yang juga warga Lawang itu, setelah menyaksikan d’Kross, berniat ingin menggelar konser band legendaris ini. Atau tour. “ini kebanggaan Aremania mas,” katanya. Aremania bukan saja suporter bola, tapi juga siapapun saja, warga Malang Raya.

Tembang Kabar Damai itu terus mengiang;

Pertemuan ini adalah kabar
Damai..damai..saudaraku
Jabat erat penuh kasih sayang. (****)

* Penulis adalah Ketua LH/founder JTV, Malang Post & Arema Media Group.