Peringatan Dwi Windu Masjid Cheng Hoo Meriah, Sumbang Korban Bencana Rp 800 Juta

Jos Soetomo (kanan) menjamu tamu Konjen AS, Konjen RRT, perwakilan PW Muhamnadiyah, dan NU Jatim.

SURABAYA (global-news.co.id) – Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya menggelar HUT ke-16, sekaligus memperingati HUT H.M.Y. Bambang Sujanto ke-72 (penggagas dan pendiri masjid), Sabtu (13/10/2018), di halaman masjid yang beralamat di Jl. Gading No 2, Surabaya. Dalam acara peringatan dwi windu masjid legendaris tersebut setidaknya dihadiri 1.000 undangan dari berbagai kalangan.

Gubernur Jatim Soekarwo yang sebelumnya menyatakan kehadirannya, diwakili oleh Sekdaprov Jatim Heru Tjahyono. Hadir pula wakil dari Polda Jatim, wakil dari Kodam V/Brawijaya, utusan Pemkot Surabaya, Konjen AS di Surabaya Mark McGovern, Konjen RRT di Surabaya Gu Jingqi, sejumlah ulama, anggota DPR-RI Indah Kurnia, Puti Guntur Soekarno, serta undangan lainnya.

“Kami atas nama Gubernur Jatim, mohon maaf, karena sedianya Bapak Gubernur akan hadir, karena ada sesuatu hal yang tak bisa ditinggalkan, maka Pak Gubernur mengutus kami untuk mewakili. Bapak Gubernur menitip salam dan mengucapkan selamat atas HUT Ke-16 Masjid Cheng Hoo Surabaya,” kata Heru Tjahyono, Sekdaprov Jatim ketika memberikan sambutan.

Sementara itu, Gu Jingqi mengatakan, Masjid Cheng Hoo Surabaya, Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI) dan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jatim telah membawa peran positif di tengah-tengah masyarakat. Organisasi (komunitas) ini telah banyak memainkan perannya dalam hal menjalin kerjasama dengan sejumlah organisasi. Termasuk dengan Konjen RRT.

H. Ma’mun Hasan, Ketua DPW PITI Jatim H. Haryanto Satyo, Herman Halim, Puti Guntur Soekarno, Dewi Puspita dari Matahari Sakti, dan undangan lain.

“Peran yang telah diambil oleh ketiganya membawa pengaruh positif keberadaan etnis Tionghoa. Dengan demikian, apa yang dicita-citakan Laksamana Cheng Hoo, yakni dengan misi perdamaiannya dapat diteruskan dari masjid ini,” katanya.

Gu Jingqi mengenang Laksamana Cheng Hoo yang 611 tahun silam berlayar ke arah Barat hingga sampai ke Indonesia membawa misi sebagai duta besar persahabatan. “Laksamana Cheng Hoo ketika itu berlayar tidak membawa tombak maupun meriam. Beliau membawa sutera dan persahabatan melalui pertukaran kebudayaan dan menyebarkan ilmu pengetahuan,” katanya.

Konjen juga mengapresiasi Masjid Cheng Hoo Surabaya yang telah berdiri selama 16 tahun berkembang dengan pesat dan memberi pengaruh yang semakin luas terhadap masyarakat Indonesia, khususnya di Jatim. “YHMCHI sebagai pengelola Masjid Cheng Hoo telah banyak menyumbang hal-hal positif, tidak hanya bagi masyarakat etnis Tionghoa tetapi kepada semua etnis. Keberadaan Masjid Cheng Hoo telah memberi keharmonisan di masyarakat Indonesia,” katanya.

Cikal Bakal

H. Haryanto Satriyo, Ketua PITI Jatim mengatakan, Masjid Cheng Hoo Surabaya yang dibangun di Surabaya pada 2002 merupakan cikal bakal berdirinya Masjid Cheng Hoo di berbagai kota lainnya di Indonesia. “Sampai saat ini di seluruh Indonesia terdapat 18 masjid. Sebanyak 13 sudah selesai dan beroperasi, sedangkan 5 sisanya masih dalam tahap pembangunan,” katanya.

Dia mengatakan, dengan bertambahnya usia Masjid Cheng Hoo Surabaya ini diharapkan perannya di tengah-tengah masyarakat terus mempunyai arti. “PITI bersama YHMCHI terus melebarkan sayapnya, agar keberadaan kami benar- benar bermanfaat bagi umat,” katanya.
“Kami pagi tadi (Sabtu 13 Oktober 2018) telah meresmikan Makam Muslim Tionghoa di Sukorejo Pandaan dengan luas sekitar 3.000 m2. PITI-YHMCHI juga telah melakukan sinergi dengan Pondok Pesantren Al-Amin, Parenduan Sumenep, Madura dalam hal pemberdayaan ekonomi umat. Ternak sapi. Rumah Sehat yang saat ini menerapkan pengobatan akupresure yang cukup diminati masyarakat, dan secara regular setiap Ramadhan bekerjasama dengan sejumlah pengusaha hingga komunitas membantu masyarakat kurang beruntung,” katanya.

Jos Soetomo , Ketua Dewan Pembina YHMCHI mengatakan, Masjid Cheng Hoo yang kini sudah banyak berdiri di berbagai wilayah Indonesia membuktikan bahwa Laksamana Cheng Hoo, yang dikenal sebagai seorang pelaut dan penjelajah asal Tiongkok yang tersohor di abad ke-14 itu, telah melekat di hati masyarakat Indonesia.
“Kita tidak bisa lahir dengan menentukan berasal dari etnis mana. Seperti saya, misalnya, tidak pernah menginginkan terlahir dari etnis Tionghoa. Nyatanya saya adalah Indonesia. Kita bangsa Indonesia, Allahu Akbar,” katanya.

Jos Soetomo menyuapi kue ulang tahun kepada Bambang Sujanto.

Peduli Gempa

Di samping itu, Masjid Cheng Hoo di Surabaya mendonasikan Rp 800 juta untuk membantu korban bencana alam gempa di Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah(Sulteng) serta Pulau Sapudi, Madura Jawa Timur (Jatim).
“Donasi ini kami himpun selama kurang lebih seminggu,” kata Hasan Basri, Ketua Pelaksana Harian YHMCHI .

Menurut dia, hingga petang hari “ba`da maghrib”, atau sesaat menjelang perayaan HUT ke-16 Masjid Cheng Ho Surabaya dimulai, donasi yang terkumpul masih berjumlah sekitar Rp 500 juta.
Di penghujung acara HUT, sekitar pukul 23.00 WIB , Haryanto Satriyo mengumumkan donasi yang terkumpul telah mencapai Rp 800 juta. Dari keseluruhan nilai donasi tersebut pihaknya kemudian memilah senilai Rp 600 juta didonasikan untuk korban gempa dan tsunami di Palu, Sigi dan Donggala.

“Sisanya, senilai Rp 200 juta, kami donasikan untuk korban gempa bumi di Pulau Sapudi, Jatim,” katanya.

Acara ini ditutup olegh Tausyiah oleh KH Zaim Ahmad Ma’shoem, Pengasuh Pondok Pesantren, Kauman Karangturi, Lasem. Dalam tausyiahnya dia mengatakan, pentingnya kita meningkatkan keimanan. “Umur kita ini tak ada yang tahu. Semakin hari, semakin berkurang umur kita, karena itu mari tingkatnya ibadah kita,” katanya.

Sebelumnya, potong kue tart memperingati HUT HMY Bambang Sujanto dilaksanakan di halaman masjid tersebut. Lagu Happy Birthday mengalun menandakan bahwa pendiri dan penggagas Masjid Cheng Hoo Surabaya tersebut kini sudah berusia 72 tahun. HUT Masjid Cheng Hoo Surabaya dan HUT HMY Bambang Sujanto memang bersamaan, yakni setiap 13 Oktober. (Erfandi Putra)