Mat Tadji ‘Kaonjengan’

GN/Istimewa

Minggu (18/3/2018) siang, Mat Tadji menghadiri resepsi pernikahan anaknya temannya SMPP (SMA) Pamekasan di salah satu hotel di Sidoarjo, Jatim. Dia antusias menghadiri acara tersebut. Selain menghormati temannya (Yul Yahya), juga dia ingin bertemu dengan teman seangkatan, yakni SMPP Angkatan 1982.

Soal pakaian dan lainnya, tak menjadi persoalan baginya dalam menghadiri resepsi pernikahan itu. “Samogah pada engak ah kabbi. Polanah poloan taon bedheh se tak taoh atemmoh (Semoga semua pada ingat. Karena puluhan tahun ada yang tak pernah bertemu),” kata Mat Tadji sambil ngelamun di tengah kemacetan parah kota Sidoarjo, karena ada kegiatan karnaval di tengah kota.

Perkiraan Mat Tadji benar juga. Beberapa teman yang dulu dikenalnya, kini Mat Tadji kurang mengenalnya. Pangling, sehingga agak ragu menyapanya. Apalagi, dalam “keramaian” seperti itu.  Rambut tak sedikit yang memutih hingga ukuran pinggang yang melebar berada di kerumunan angkatan tersebut. “Areyah sapah yeh. Sengkok onggu ekaloppaeh (Ini siapa ya. Saya benar lupa, Madura Red),” kata Mat Tadji sambil menyalami wanita berambut pendek.

Aduhhh, Mat Tadji sombong sateya kanak. Areyah Titiek (Aduhhh, Mat Tadji sekarang sombong teman. Ini Titiek),” kata Indra memberi penjelasan.

Mat Tadji bagaimana tidak pangling, sewaktu SMPP Titiek yang cantik dan sexy, kini kelihatan “makmur”. Meski begitu, raut kecantikannya masih memancar. Mat Tadji juga mendapat jabatan tangan dari wanita yang juga ‘makmurr” lainnya. “Areyah Reny  (Ini Reny, Madura Red),” kata Icak memberikan penjelasan.

Dalam resepsi pernikahan tersebut, setidaknya 50-60 orang teman-teman SMPP Angkatan 82 menghadiri acara pernikahan anaknya Yul Yahya. Mareka datang dari Jakarta, Bandung, Banyuwangi, Malang, Sidoarjo, Surabaya hingga Madura. “Ya ini jadi ajang silaturrahim kita. Kapan lagi kita bertemu,” kata si cantik Lely.

Menyambung tali silaturahmi merupakan salah satu bentuk kecintaan dan ketakwaan seorang hamba. Hal tersebut dibuktikan dengan sabda Rasulullah: “Allah ‘azza wa jalla berfirman: Aku adalah Ar-Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga hak-Nya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus darinya.” (Hadis Riwayat Ahmad).

Dari hadis tersebut jelas bahwa Allah Swt. memerintahkan setiap hamba-Nya agar selalu menjaga keutuhan antar sesamanya. Allah juga menjanjikan pahala bagi siapa saja yang mampu menjaganya dan Dia juga tidak segan memberikan peringatan bagi mereka yang memutus keutuhan tali silaturahmi.

Silaturahmi sebagai tanda keimanan juga diungkapkan melalui sabda Rasulullah: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi.” (Hadis Riwayat Abu Hurairah)

Di sudut sana, teman-teman Mat Tadji ternyata lebih banyak bergerombol sambil ngobrol. Mungkin karena, pertemuan seperti itu termasuk langka, sehingga waktu yang terbatas dimanfaatkan betul. Bahasa Ibu (Madura, Red), sudah pasti menjadi bahasa utama, sehingga tak sedikit yang menjadi pusat perhatian mendengar kekhasan bahasa Madura, yang tak jarang bersuara “agak nyaring”.

Seusai malakukan foto per kelas di Photo Booth, kini giliran semua angkatan berfoto dengan mempelai berdua. Semua menuju ke pelaminan. “Jek acakoy kanak, mak padheh so rek kerek pole. Engak omorrah la lebih seket. Laonan ongge tangga. Sengak labu (Jangan umek teman, kok sama dengan anak-anak lagi. Ingat umurnya sudah lebih lima puluh. Pelan-pelan naik tanggah. Awas jatuh,” kata Mat Tadji dari barisan belakang.

Setelah sesi foto bersama, sebagian besar teman-teman SMPP Angkatan 82 berpamitan pada tuan rumah. “Mayuh Mat Tadji, sengkok moleah. Sedheh kancah dari SD, SMP hingga SMPP. Sengak jek bong-sombong (Ayo Mat Tadji, saya mau pulang. Kamu teman dari SD, SMP hingga SMPP. Awas jangan sombong, Madura Red). Dan Mat Tadji bergegas menuju mobilnya.(*)