Hampir Tergoda

GN/Ilustrasi

Mat Tadji bertemu teman lama. Teman sesama jurnalis masa muda. Totok (nama samaran). Teman akrap, khususnya kalau sedang liputan berita. Keduanya saling terbuka. Hampir tak ada yang ditutupinya. “Hey…apa kabar. Lama tak jumpo. Kemana saja kau selama ini,” kata Mat Tadji kepada Totok yang bertemu saat liputan bersama.

“Aku selama ini ditugaskan di daerah. Sekarang kembali lagi ke Surabaya. Namanya pegawai kan sesuai perintah atasan. Aku sih enjoy-enjoy saja dimana pun ditempatkan. Apalagi bila ditempatkan di dekat kali yang malam-malam dulu kita mengadakan ‘ronda’,” kata Totok sambil terbahak-bahak .

Mat Tadji tidak mudeng. “Pinggir kali yang mana,”  desisnya.

Setelah berfikir sejenak, Mat Tadji baru ingat kejadian 16 tahun lalu, saat bersama sejumlah jurnalis Surabaya dan Jakarta meliput di Jember. Waktu itu, sejumlah wartawan meliput perkebunan di salah satu dataran tinggi. Seusai makan malam dengan kambing guling, ada seseorang yang bernama Ali (nama samara) nyeletuk, “Bapak ini masih lapar,” katanya.

“Lo… kan sudah makan,” kata ketua rombongan.

“Mulut di atas sudah bapak. Mulut yang lain belum. Udaranya dingin sekali bapak,” kata Ali menjawan sang ketua rombongan.

“Kalau begitu, ayo mau kemana,” kata ketua rombongan.

Setelah sejumlah jurnalis berembuk, disepakati rombongan jurnalis akan turun ke tempat Hohohhh… hehehhh yang ada di pinggir sungai. Lalu sejumlah mobil melaju meski waktu itu jam sudah menunjukkan kisaran 23.25-an. Ada tiga mobil melaju ke tempat “pinggir sungai”. Setelah mobil meliuk-liuk menuruni bukit terjal, akhirnya rombongan  sampai padab tujuan. Jam menunjukkan sekitar 24.10.

Pelan-pelan rombongan jurnalis tersebut  sampai pada tujuan. Mendekati pintu masuk, mobil melaju pelan-pelan. Seketika, sejumlah  pekerja seks komersial (PSK) mengeluarkan suara ,“Ada pemeriksaan. Ada pemeriksaan,” kata sejumlah PSK, sambil sebagian menutup pintu.

“Eh…. Ini bukan petugas, tapi tamu agung,” celetuk seorang jurnalis sambil ketawa.

Lalu Mat Tadji turun dari mobil, sambil bertanya kepada wanita muda berbokong aduhai itu. “Arapah sedheh mak aorak bedheh petugas. Cakancah gun terro taowah lokasi edinnak (mengapa kamu teriak ada petugas. Teman-teman ini hanya ingin melihat  suasana saja, Madura Red),” kata Mat Tadji.

Takok pak. Edinnak bedeh paratoran, pokol 12 malem koduh totop. Mon malanggar okomannah berrek pak (di sini ada peraturan kalau sudah pukul 24.00 harus tutup. Kalau melanggar hukumannya  berat pak,” kata wanita muda tadi mengerdipkan mata pada Mat Tadji.

Anchor pessenah tellor kanak mondek iyyeh palereggah (hancur uangnya telur kalau begitu lirikannya,” kata guman Mat Tadji

Sementara waktu itu Totok tak mengedipkan matanya melihat wanita-wanita muda penuh kebinalan itu. Karena sudah jam tutup, maka tak banyak wanita-wanita aduhai itu yang siap menyambut para jurnalis yang sedang “panas dingin” itu. “Mat Tadji, piye iki. Panas dingin aku. Itu loh… sebelah kirimu seperti Elvi Sukaesih rupanya. Juga bodinya. Montok polllllll. Itu kesukaanmu,” kata Totok sambil tersenyum kecil.

“Ojok macem-macem koen. Ini daerah panas. Panas semuanya,” kata Mat Tadji kepada Totok

“Yok opo gak panas melihat bodi aduhay hay seperti itu,” Totok menunjuk wanita yang sedang berdiri di muka pintu.

Mat Tadji agak gerah juga melihat pemandangan ini. Seketika dia menuju mobil meninggalkan kerumunan. Tak beberapa lama, mereka pada buyaran. Mengapa? Karena jam sudah menunjukkan pukul 24.25 lebih. Sesuai aturan, di atas pukul 24.00, mereka dilarang menerima tamu. “Ada untungnya kita datang sesudah pukul 24.00. Coba kalau tidak, apa yang terjadi. Hampir tergoda aku,” kata Totok.(*)