Skema Pendanaan Belum Jelas, Trem Surabaya Terancam Tertunda

Gambar maket trem Surabaya.

JAKARTA (global-news.co.id)-Rencana pembangunan proyek trem yang dilakukan Pemkot Surabaya bersama PT KAI dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pada September mendatang, tampaknya bakal tertunda. Buktinya, hingga kini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih mempertimbangkan beberapa skema pembayaran proyek trem.

Padahal sejak awal Kemenhub telah memberikan lampu hijau, jika pembiayaan proyek trem akan ditanggung oleh APBN senilai Rp 2,7 triliun. Bahkan, Menteri Keuangan (Menkeu) juga telah menyetujui akan mencairkan dana untk trem tersebut. “Menteri Keuangan memang sudah setuju untuk memberikan dana,” kata Menhub Budi Karya Sumadi, Senin (31/7/2017).

Namun hingga kini, Kemenhub belum menganggarkan dana karena Direktorat Jenderal Perkeretaapian tengah menanggung beban proyek yang sangat besar. “Takutnya tidak balance,” ujar dia.

Budi mengatakan, pembangunan infrastruktur transportasi juga diwarnai sentimen Jawa dan luar Jawa. Pemerintah harus memastikan sentimen tersebut seimbang sebelum mengalokasikan dana. Menurut dia, skema pendanaan trem Surabaya yang paling memungkinkan adalah dengan menggandeng swasta atau business to business.

“Namun skema itu belum diputuskan. “Butuh waktu tiga hingga empat bulan untuk menentukan,” tuturnya.

Meski sumber dana dari pemerintah pusat belum jelas, proyek trem Surabaya sudah mulai berjalan. Kementerian Perhubungan sudah menganggarkan Rp 100 miliar dalam APBN tahun ini. Tahun depan, pemerintah akan mengucurkan Rp 580 miliar dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Pemerintah Kota Surabaya sudah memulai pembangunan depo hingga membenahi jalanan di jalur trem.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya Irvan Wahyudrajad mengatakan tengah mendata jumlah warga yang akan direlokasi karena terkena dampak pembangunan depo trem di kawasan Bumiharjo. Selain jadi depo trem, kawasan tersebut bakal dijadikan tempat perawatan kereta.

Pemerintah Surabaya juga mulai menyiapkan trunk (angkutan pengumpan berkapasitas besar) dan feeder (angkutan pengumpan berkapasitas kecil) pada akhir 2017 ini. Dua jenis angkutan inilah akan beroperasi di kawasan lingkar timur Surabaya atau Middle East Ring Road (MERR). Rencananya, akan ada total 20 unit trunk dan 16 unit feeder yang diperkirakan bisa mengangkut 3.074 penumpang.

Irvan mengatakan prosesnya sudah memasuki tahap detailed engineering design (DED). “Akhir tahun ada delapan unit trunk dulu. Tapi status pembebasan tanah masih belum clear,” ujarnya. Pemerintah setempat juga membongkar bangunan di Jalan Simpang Dukuh. Pembongkaran ini untuk mengurangi kemacetan dan kepadatan di jalur Jalan Tunjungan akibat pengerjaan trem.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Agus Imam Sonhaji, mengatakan lelang trem Surabaya dimulai akhir bulan ini. “Atau selambat-lambatnya bulan Agustus,” katanya.

Agus mengatakan, proses lelang membutuhkan waktu 1 hingga 1,5 bulan. Pemenang lelang akan melakukan pengecekan lapangan dan memasang sarana pendukung rel trem Surabaya. Rel untuk trem butuh biaya besar karena belum dapat dibuat di dalam negeri. * tmp, pur