Pemkab Pamekasan Bentuk Tim Khusus Atasi Narkoba

GN/ Masdawi Dahlan Bupati Achmad Syafii menerima buku konsep dan pemikiran penanganan narkoba dari para ulama.

GN/ Masdawi Dahlan
Bupati Achmad Syafii menerima buku konsep dan pemikiran penanganan narkoba dari para ulama.

Dialog Rutin Ulama dan Umara

PAMEKASAN (Global News)-Pemkab Pamekasan serius menangani masalah narkoba di daerahnya. Kini pemkab tengah membentuk tim khusus untuk penanganan masalah narkoba di bumi Gerbang Salam tersebut. Keputusan pembentukan tim ini dicetuskan Senin (28/3/2016) malam dalam silaturrahmi ulama umara di Pendopo Ronggosukowati Pamekasan.

Tim ini terdiri dari 10 orang yang dipimpin oleh Wakil Bupati Pamekasan Khalil Asyari. Sekretarisnya Kabag Kemas Setdakab Pamekasan. Anggotanya antara lain dari MUI Pamekasan, Polres, TNI, pimpinan DPRD, Kemenag, Disdik, LP2SI, Lapas dan aktivis perempuan bagian perlindungan anak dan remaja. Tim inilah yang nanti akan merumuskan berbagai langkah penanganan masalah narkoba di Pamekasan.

Silaturrahmi rutin tiga bulanan ulama-umara tesebut dihadiri puluhan ulama dan kiai, Bupati Pamekasan Achmad Syafii dan Ketua DPRD Achmad Halili, Forpimda diantarnya Kapolres, Utusan dari Kodim Pamekasan, Kejaksaan Negeri dan Pengadilan Negeri Pamekasan. Selain itu juga hadir Sekdakab Pamekasan dan pimpinan SKPD di Pemkab Pamekasan, Forpimcam dan lain sebagainya.

Secara spesifik juga diundang hadir Kepala Lapas Pamekasan Kusmanto Eko Putro. Dalam acara ini Kalapas sengaja membawa sejumah napi narkoba untuk memberikan testimoni kepada para undangan tersebut. Isi pokok acara itu adalah dialog atau tanya jawab seputar masalah narkoba dan penanganannya di Pamekasan khususnya dan Madura pada umumnya. \

Dialog yang berlangsung 3 jam mulai pukul 20.00 WIB dipandu oleh Bupati Achmad Syafii. Syafii mengungkapkan masalah narkoba di Madura telah kronis, bahkan sampai pada tingkatan darurat. Kejadian atau fakta terkait jaringan narkoba di Madura sering ditemukan. Karena itu, kata dia, butuh kerjasama semua elemen mengatasinya.

Banyak usulan dari para ulama, di antaranya meminta agar penindakan jangan hanya pada pemakai namun juga pengedarnya. Hukuman diperberat kalau kalau perlu hukuman  mati. Tentang usulan dan pemikiran para ulama seputar penanganan narkoba di Pamekasan itu, telah disusun sebuah buku yang diserahkan kepada Bupati Pamekasan.

Terkait dengan wacana perlunya tes urine di Pondok Pesantren para kiai banyak yang tidak setuju karena itu seakan pesantren jadi tertuduh dan menghilangkan wibawa pondok pesantren. Ulama setuju ada tes urine namun yang melakukan pesantren sendiri dan hasilnya tinggal dilaporkan saja.

Sementara Kalapas Narkotika Pamekasan Kusmanto Eko Putro  menegaskan untuk menangani masalah narkoba selain petugas juga membutuhkan dukungan semua pihak terutama masyarakat secara umum. Dia mengakui masih adanya narkoba yang masuk Lapas Narkoba terkait dengan keluarga yang kurang mendukung rehabilitasi bagi napi narkoba.

“Untuk mengkonsumsi napi itu butuh uang. Dari mana napi itu dapat uang ya dari keluarganya dimasukkan dengan segala macam cara. Karena itu kami mohon dukungan agar kami bisa  melaksanakan tugas dengan baik. Kepada aparat kami tegas jika ada yang terbukti bersalah terlibat penyelundupan narkoba ke Lapas  pasti akan kami pecat, “ tandasnya.

Dia mengungkapkan saat ini lapas narkotika di Pamekasan dihuni 692 orang. 641 orang napi dan 51 tahanan. Dari jumlah itu yang narkoba Madura sebanyak 144 orang. Sumenep 14 orang, Bangkalan 15 orang, Sampang 31 orang dan Pamekasan 84 orang. Dari 84 itu yang asli Pamekasan hanya 3 orang, yang lainnya adalah asal Pamekasan berkasus di daerah lain. (mas)