
MAGELANG (global-news.co.id) – Perekonomian global saat ini diperkirakan masih melemah disertai divergensi pertumbuhan antar negara yang semakin lebar, namun pertumbuhan domestik relatif stabil. Meski demikian, Bank Indonesia (BI) tetap mengimbangi dengan mengeluarkan berbagai kebijakan agar ekonomi domestik tetap terjaga.
Hal ini diungkapkan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur (KPw BI Jatim) Doddy Zulverdi dalam acara Capacity Building dan Bincang Bareng Media yang diadakan di Magelang, Jawa Tengah, Rabu (15/11/2023).
Kegiatan yang diikuti sejumlah wartawan di Jatim ini digelar selama tiga hari, 14-16 November 2023.
Dijelaskan Doddy melambatnya ekonomi global seperti nilai tukar dolar melemah berdampak pada nilai tukar mata uang negara lain. Salah satunya di Indonesia. Sehingga ini berdampak pada kenaikan suku bunga di domestik serta nilai tukar rupiah.
Namun sebenarnya ekonomi domestik ini masih dikatakan baik. “Yang membuat ekonomi kita membaik dibanding negara lain adalah tingginya konsumsi rumah tangga dan investasi,” katanya.
Karena itu melemahnya ekonomi global dampaknya bagi Indonesia relatif terbatas. Tekanan pelemahan rupiah pun masih terbatas. Di Desember 2022 rupiah melemah 1,03 persen. Bandingkan dengan negara lain yang pelemahannya hingga 33 persen.
“Kita tidak bisa menghindari dampak global. Tapi kita masih bisa dan masih dalam kategori lebih baik dari negara lain. Jangan sampai investor terpengaruh pada kondisi global. Kita tunjukkan dampak global di dalam negeri bisa diatasi,” paparnya.
Selanjutnya untuk ekonomi Jawa, Doddy menegaskan jika punya ketahanan tinggi berkontribusi 60 persen dari nasional. Seperti ekspor di Jawa mengalami kenaikan 70 persen pada triwulan III 2023 dibanding triwulan II 2023 yang sedikit melemah.
Jawa Timur lanjut Doddy menjadi salah satu indikator perekonomian nasional. Di triwulan III 2023, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sebesar 4,86 persen. Ekonomi Jawa masih melemah jika dibandingkan tahun lalu triwulan III, yakni 4,83 persen. Tapi ini masih dikatakan baik. Angka tersebut ditopang oleh faktor rumah tangga, lapangan usaha, industri pengolahan dan pertanian yang positif, disertai kualitas kredit yang baik.
“Pertumbuhan perekonomian di Jawa itu jadi indikator nasional. Kalau di Jawa anjlok, jelas berdampak ke nasional. Karena kontribusi Jawa itu 60 persen terhadap perekonomian nasional. Nah, dari seluruh daerah di Jawa, Jawa Timur menjadi satu yang penting,” paparnya.
BI Jatim pun berupaya mengimbangi dengan mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendongkrak ekonomi domestik ke depan semakin baik.
Untuk inflasi, Doddy mengatakan per Oktober 2023 ini berada di angka 3,25 persen. Memang angkanya lebih tinggi dari inflasi nasional namun masih sesuai track yakni 3 persen plus minus 1 persen. “Inflasi itu karena kenaikan harga beras dan beberapa kenaikan komoditas pangan lain.Namun yang membanggakan pertumbuhan kredit korporasi dan rumah tangga masih meningkat,” jelasnya.
Menurut survei konsumen, pertumbuhan kredit di Jatim trennya menguat. Data per Agustus-Oktober terjadi peningkatan, untuk Agustus 131,02 persen, September 131,13 dan Oktober 139,06. (tis)

