
KARANGANYAR (Global-News.co.id) – Jawa Tengah dikenal memiliki beberapa sentra kebuh teh dengan segala keunggulan kualitas dan cita rasa. Memiliki sejumlah wilayah dataran tinggi berhawa sejuk dan beriklim basah, teh tumbuh subur di sejumlah daerah di Jawa Tengah.
Satu diantaranya, di Desa Kemuning Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Kebun Teh Kemuning Karanganyar berada di lereng Gunung Lawu. Berada di ketinggian 800-1.540 mdpl, kebun teh ini menjadi salah satu tempat wisata di Jawa Tengah. Hamparan tanaman teh seolah menjadi karpet yang memenuhi permukaan lantai saat setiap orang pergi ke kawasan ini.
Wisatawan dapat dengan bebas menjelajahi hamparan kebun teh dan berfoto dengan panorama alam yang ciamik. Bahkan melihat para petani pemetik teh menjalankan aktivitasnya. Bahkan, ada beberapa spot foto yang dapat digunakan wisatawan.
Kebun Teh Kemuning ini dikenal sebagai pemasok bahan baku untuk produk Teh Gambyong yang berada tak jauh dari lokasi kebun. Sama-sama berada di Desa Kemuning, Kabupaten Karanganyar.
Keberadaan Teh Gambyong Kemuning ini tidak lepas dari usaha yang dijalankan oleh Eko Wuryanto, Pemilik Teh Gambyong, yang merupakan salah satu UMKM binaan Bank Indonesia (BI).
Usaha yang awalnya bermodalkan Rp 8 juta, kini mampu beromzet Rp 300 juta per bulan.
Pada kegiatan Capacity Building Bank Indonesia (BI) Jawa Timur yang diikuti sejumlah media dari Surabaya, Selasa (6/10/2026), Eko menjelaskan bagaimana perkembangan usaha rintisannya hingga saat ini.
“Awalnya bermodalkan Rp 8 juta, kini sudah mampu mencapai omzet Rp 200 juta hingga Rp 300 juta per bulan,” kata Eko yang sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan teh.
Dalam kegiatan yang digelar 5-8 Oktober 2026 di Solo ini terdapat visit UMKM, panen petik teh, edukasi pembuatan teh, sosialisasi terkait pembayaran digital dan perlindungan konsumen.
Eko bercerita awal merintis usahanya. Dia mengungkapkan, usaha ini mulai dirintis sejak 2014 dengan modal awal Rp 8 juta. Ia menjelaskan, ide awal muncul dari pengalamannya melihat wisatawan yang datang ke Kemuning.
“Awal mula melakukan usaha di tahun 2014, berawal dari keinginan wisatawan yang datang ke Kemuning. Mereka melihat kebun teh banyak, tapi saat ingin membeli teh tidak ada. Dari situ saya berpikir ini peluang untuk membuat usaha,” ujarnya.
Dengan kejeliannya, dia mulai merintis usaha. Seiring waktu, dengan dukungan berbagai pihak kini wisatawan yang datang ke Kemuning tidak hanya ingin menikmati pemandangan kebun the semata, tetapi juga menikmati produk teh lokal dan melihat proses pengolahan teh hingga siap dipasarkan.
“Kami bikin sekalian satu paket wisata bagi wisatawan yang berkunjung ke sini, semacam wisata edukasi,” katanya.
Kini, pengunjung tidak hanya diperkenalkan pada produk jadi, tetapi juga diajak memahami prosesnya mulai dari penanaman, pemetikan, pelayuan, penggulungan, pengeringan hingga pengolahan menjadi berbagai jenis teh.
Nama Gambyong sendiri diambil dari salah satu tarian tradisional Jawa yang kerap menjadi penyambutan sebuah acara.
Dia ingin teh produksinya bisa dinikmati setiap saat, oleh siapa saja. Baik anak-anak hingga kalangan dewasa. Ia menambahkan, filosofi nama tersebut sejalan dengan konsep produknya sebagai teh penyambutan. Bisa dinikmati kapan saja.
Aroma Kopi
Keunikan Teh Gambyong terletak pada cita rasanya yang memiliki aroma kopi, meskipun tidak dicampur kopi dalam prosesnya. Dibandingkan dengan teh dari daerah lain, yang menjadi ciri khas produk Teh Gambyong adalah teh original dengan sebutan Teh Rako (Rasa Kopi) karena dapat menghasilkan teh dengan rasa aroma kopi.
Pada masa kolonial Belanda, cerita Eko, sejumlah area perkebunan teh di Kemuning juga ditanami kopi sehingga karakter lingkungan dan tanahnya turut menjadi bagian dari kekhasan produk yang dihasilkan.
Eko juga melakukan berbagai inovasi produk untuk menghadirkan teh berkualitas menyesuaikan dengan selera masyarakat. Inovasi juga menjadi bagian penting dalam pengembangan produk. Saat ini muncullah teh hijau, teh jahe, teh serai, teh mint, dan teh leci. Selain itu, Eko juga mengembangkan produk matcha dan teh putih.
Produk matcha Teh Gambyong bahkan mulai diminati sejumlah restoran di Jakarta. Namun, kapasitas produksinya masih terbatas, sekitar 15-20 kilogram per bulan. Eko menilai kualitas matcha yang dihasilkan sudah mendekati karakter produk dari Jepang.
Eko juga mengakui dukungan Bank Indonesia dalam rintisan usahanya. Tak hanya di awal merintis usaha, bantuan juga diberikan sampai sekarang dengan menyertakan usahanya mengikuti pameran untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Eko menceritakan usahanya kian dikenal setelah dia ikut pameran Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) di Surabaya yang difasilitasi oleh Bank Indonesia (BI) pada Juli 2026 lalu. Dari pameran itu dia dapat order 3 ribu pieces atau senilai Rp 6 juta per hari dari Boyolali.
“Permintaan masih terus berlanjut hingga sekarang. Berkat aktif ikut pameran, saya merasakan sendiri pemasaran makin naik pesat, produk saya juga makin dikenal di luar Jawa Tengah. Saya berterima kasih kepada Bank Indonesia yang telah membersamai usaha saya, mulai saat merintis hingga sekarang, “ katanya.
Dukungan tersebut ikut memperluas jaringan pemasaran. Jumlah reseller yang pada 2025 tercatat sekitar 235 orang kini telah meningkat menjadi sekitar 620 reseller. Pertumbuhan itu turut mendorong kenaikan omzet, dari sekitar Rp 85 juta per bulan pada 2023 menjadi sekitar Rp 250 juta hingga Rp300 juta per bulan pada 2026.
Seiring naiknya permintaan, pasokan bahan baku pun terus meningkat. Jika pada awalnya hanya bermitra dengan lima hingga enam petani dengan pasokan sekitar 20-30 kilogram teh basah, kini Teh Gambyong telah bekerja sama dengan 26 petani yang mengelola lahan sekitar 50 hektare.
Saat ini pasokan teh basah yang dikelola mencapai sekitar 30-50 ton, dengan melibatkan sekitar 25 pemetik. Dengan rendemen sekitar 22,5 persen, bahan baku tersebut diolah menjadi berbagai produk, mulai dari teh hijau, teh hitam, teh putih, hingga teh rempah seperti jahe, sereh, kumis kucing, teh ripan, dan jati Cina.
Penguatan Ekonomi Masyarakat
Dari berbagai produk tersebut, teh hitam menjadi salah satu yang paling banyak diminati pasar. Bahkan, sejumlah pabrikan telah menyatakan minat untuk mendapatkan pasokan dari Teh Gambyong. Namun, belum dapat memenuhi permintaan tersebut karena produksi masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.
Bahkan juga ada permintaan ekspor, sekali lagi diakui Eko, kapasitas produksi belum mampu dipenuhi. Untuk ekspor, calon pembeli membutuhkan pasokan sekitar satu kontainer atau 35-45 ton per bulan, sementara kapasitas produksi belum bisa memenuhi.
Kesuksesan Eko ikut dirasakan warga di sekitarnya. Keberadaan Teh Gambyong kini menjadi bagian penguatan ekonomi masyarakat sekitar. Terbukti, saat ini ada 26 petani yang sudah menjadi mitra, dan 15 petani lainnya telah menyatakan minat bergabung dengan lahan sekitar 15 hektare.
Eko sengaja memberikan harga pembelian bahan baku yang lebih tinggi untuk menjaga semangat petani. Jika harga pucuk teh di sejumlah daerah lain sekitar Rp 2.300 per kilogram, ia berupaya membeli dari petani mitra dengan harga minimal Rp 5.000 per kilogram. (tis)

