Global-News.co.id
Gresik-Sidoarjo-Mojokerto Utama

Tangis dan Harapan di Tengah Reruntuhan: 102 Korban Tragedi Ponpes Al Khoziny

SIDOARJO (Global-News.co.id) — Mentari pagi belum sepenuhnya menghangatkan langit Buduran, Sidoarjo, ketika suara sirine ambulans dan alat berat masih bergema di kawasan Pondok Pesantren Al Khoziny.

Di balik garis polisi dan tumpukan puing beton, isak tangis dan doa menggantung di udara, mengiringi 102 santri yang menjadi korban ambruknya bangunan mushala pada Senin (29/9/2025) sore.

Tiga nyawa tak terselamatkan. Salah satunya Maulana Affan Ibrahimafic (15 tahun), santri asal Surabaya, dinyatakan meninggal dunia setelah terjebak di bawah reruntuhan.

Sementara 99 santri lainnya, sebagian besar mengalami luka ringan hingga sedang, berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan maupun secara mandiri.

Di tengah kekacauan dan kepedihan, cahaya harapan datang dari gerakan cepat tim BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) yang langsung mendirikan posko darurat di depan area pondok.

Sejak malam kejadian, bantuan mulai mengalir. Makanan, minuman, obat-obatan, hingga tenaga medis dan relawan tak henti-hentinya berdatangan.

“Sejak semalam, kami buka posko di depan pondok. Bantuan datang silih berganti. Hari ini kami juga mendirikan posko kesehatan bersama RSB Sidoarjo,” ujar Ahmad Hamdani, perwakilan BAZNAS Sidoarjo, Selasa (30/9/2025) pagi.

Posko itu tak hanya menjadi pusat koordinasi logistik. Bagi banyak keluarga korban, ia menjadi tempat menggantungkan harapan dan mendapatkan pelukan hangat di tengah ketidakpastian.

Beberapa ibu tampak menggenggam foto anak-anak mereka, sementara ayah-ayah duduk memeluk sajadah, bibir komat-kamit tak henti.

Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit, menjelaskan bahwa medan evakuasi sangat berbahaya. Struktur bangunan yang rapuh dan material beton dalam jumlah besar menyulitkan proses pencarian korban.

“Tim harus ekstra hati-hati. Risiko runtuhan susulan masih ada, jadi alat berat seperti ekskavator hanya digunakan dalam kondisi yang benar-benar aman,” katanya.

Tim SAR berhasil mengevakuasi tujuh korban pada Senin (29/9/2025) malam pertama, dan satu korban tambahan ditemukan dalam operasi lanjutan hingga Selasa (30/9/2025) dini hari pukul 01.58 WIB.

Gerak cepat BAZNAS Tanggap Bencana dari berbagai kota seperti Jombang, Madiun, Trenggalek, hingga Surabaya memperkuat operasi kemanusiaan. Mereka datang bukan sekadar membawa logistik, tapi juga membawa energi solidaritas.

“Dukungan psikososial juga kami siapkan. Keluarga korban sangat membutuhkan pendampingan, tidak hanya secara fisik tapi juga secara mental,” ujar Hamdani.

Kisah runtuhnya mushala ini bukan hanya tentang bangunan yang ambruk. Ia adalah tentang anak-anak yang sedang menuntut ilmu, tentang guru-guru yang kehilangan santrinya, dan tentang keluarga yang menanti kabar di tengah malam dengan dada sesak.

Ia juga adalah kisah tentang gotong royong, tentang masyarakat yang tidak membiarkan satu pun korban merasa sendirian. Karena dalam tragedi sebesar ini, kemanusiaanlah yang menjadi pondasi paling kokoh.

“Kami menyampaikan duka mendalam. BAZNAS akan terus hadir bersama masyarakat hingga proses pemulihan selesai,” tegas Ahmad Hamdani dengan prihatin. (anto)

baca juga :

Jelang Pemilu 2024, DPRD Surabaya Rotasi Pimpinan Komisi

Redaksi Global News

Road Test B40 Direncanakan Februari Tahun 2022 Ini

Redaksi Global News

Separuh Tower di Gresik Ilegal

Redaksi Global News