
SURABAYA| DutaIndonesia.com – Pengadaan pangan oleh Perum Bulog sepanjang musim panen 2025 patut kita apresiasi. Hingga awal Mei, serapan beras nasional telah menembus 2 juta ton, menjadikannya sebagai angka penyerapan tertinggi dalam kurun 57 tahun terakhir.
Sementara produksi beras sepanjang tahun 2025 diprediksi mencapai 34 juta ton. Meski demikian, kita harus mewaspahi jangan sampai penggunaan pestisida yang berlebihan pada tanaman padi, karena akan menyebabkan penurunan produktivitas jangka panjang.
Hal itu dikatakan DR. Ir. Mohammad Hoesain. MS, Dosen Program Studi (Prodi) Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Jember kepada Global News, Rabu (14/5/2025) siang.
“Penggunana pestisida yang berlebihan mengakibatkan sejumlah factor.
Misalnya, resistensi hama. Degradasi tanah, dan pencemaran lingkungan,” kata pri asal Pamekasan, Madura itu.
DR. Hoesain mengatakan, hama yang resisten akan membutuhkan dosis pestisida yang lebih tinggi atau jenis pestisida baru. Bisa menjadi tidak efektif dan merugikan. Degradasi tanah akan mengurangi kesuburan dan kemampuan tanah untuk menyerap nutrisi, sehingga tanaman akan sulit mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan produktivitas.
Dengan penggunaan pestisida yang berlebih, katanya, dimungkinkan serangan hama muncul lebih eksplosif. Mengapa demikiian? Karena predator-predator tumbang, sehingga hama lebih laluasa. Misalnya Wereng Batang Cokelat (Nilaparvata lugens) atau disebut juga Wereng Cokelat merupakan salah satu hama tanaman padi yang paling berbahaya dan sulit dibasmi.
Produktivitas tanaman padi di sawah dapat dipengaruhi oleh serangan hama. Baik secara kualitas maupun kuantitas. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian hama untuk menjaga kesehatan tanaman padi di sawah. Pengendalian hama padi dapat dilakukan dengan memanfaatkan kehadiran musuh alami hama padi, yaitu predator.
Pengendalian hama padi dapat dilakukan dengan memanfaatkan kehadiran musuh alami hama padi, yaitu predator. Ada ribuan spesies predator yang hidup di alam. Namun, hanya ada beberapa jenis predator yang dapat ditemui di Indonesia.
Predator apa saja yang bisa “mengalahkan” hama tersebut? “Paling umum, seperti predator Laba-laba Serigala, Laba-laba Bermata Tajam hingga Kumbang Stacfilinea. Dengan penggunaan pestisida yang berlebih, maka hamanya akan semakin merajalela. Mengapa? Karena dengan pestisida yang berlebih itu, predator akan bertumbangan,” kata DR. Hoesain.
Saat ini, kata DR. Hoesain, penggunaan pestisida yang berlebihan dapat menyebabkan kematian serangga dan hewan lain yang penting dalam rantai makanan alami. Hal ini akan mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengurangi keanekaragaman hayati, yang berdampak negatif pada produktivitas pertanian secara keseluruhan.
Di samping itu, pestisida kimia yang digunakan secara terus menerus dapat merusak struktur tanah, mengurangi kesuburan, dan menghambat aktivitas mikroorganisme yang penting untuk siklus nutrisi. Akibatnya, tanaman akan sulit mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang.
Hoesain berharap agar petani mengikuti Pengelolaan Hama Terpadu (TPH). PHT adalah pendekatan yang memadukan berbagai metode pengendalian hama dengan mempertimbangkan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi. PHT bertujuan untuk mengendalikan hama secara efektif dan berkelanjutan dengan meminimalkan penggunaan pestisida kimia dan menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
Dikatakan, sekarang memang prduktivitas tanaman padi bisa dikejar. Hanya saja, untuk jangka panjangnya sudah selayaknya dipikirkan. Untuk menjaga produktivitas tanaman padi jangka panjang, diperlukan pengelolaan pestisida yang lebih bijaksana, dengan penggunaan yang tepat sasaran, dosis yang sesuai, dan penggunaan alternatif yang lebih ramah lingkungan.
“Kita harus menyadari, penggunaan pestisida berlebihan pada tanaman padi akan menimbulkan dampak negatif jangka panjang pada produktivitas. Baik secara langsung melalui degradasi tanah, resistensi hama, dan pencemaran lingkungan, maupun secara tidak langsung melalui gangguan keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia,” pungkas Hoesain.
Produksi 34 Juta Ton
Sementara itu, dari Jakarta dilaporkan, capaian luar biasa dicatatkan oleh Perum Bulog sepanjang musim panen 2025. Hingga awal Mei 2025, serapan beras nasional telah menembus 2 juta ton, menjadikannya sebagai angka penyerapan tertinggi dalam kurun 57 tahun terakhir. Jawa Barat menjadi kontributor terbesar dalam pencapaian tersebut, dengan total penyerapan mencapai 352.680 ton, tertinggi sepanjang sejarah wilayah Bulog Jabar.
Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian menyebut capaian ini sebagai bukti lompatan besar dari hasil kebijakan percepatan produksi yang didorong sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo.
“Serapan beras Bulog yang sudah mencapai 2 juta ton adalah lompatan eksponensial yang belum pernah terjadi. Ini tidak hanya soal angka, tapi tentang keberhasilan kita melindungi petani saat panen raya. Apalagi dengan rekor serapan tertinggi dari Jawa Barat, saya ucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Bulog di lapangan,” ujar Amran di Jakarta, akhir pecan lalu.
Kementerian Pertanian, lanjut Amran, sejak akhir 2023 telah mendorong langkah-langkah konkret untuk meningkatkan produktivitas petani. Hal ini meliputi peningkatan pupuk subsidi, penguatan alsintan dan mekanisasi, serta dukungan teknologi di sentra-sentra produksi.
“Jika kita bisa terus jaga irama ini, Indonesia tidak hanya akan swasembada beras, tapi akan menjadi eksportir baru di kawasan. Produksi meningkat, petani untung, cadangan nasional kuat,” tambahnya.
Sementara itu, capaian Bulog Jawa Barat mendapat sorotan tersendiri karena menjadi wilayah dengan penyerapan tertinggi dibandingkan seluruh daerah lainnya di Indonesia. Berdasarkan data resmi, serapan Bulog Jabar telah mencapai 352.680 ton, melampaui semua rekor sebelumnya dan menunjukkan peran sentral wilayah ini dalam memperkuat cadangan pangan nasional.
Kementan meyakini produksi beras tahun ini akan mencapai lebih dari 34 juta ton. Sementara ini, berdasarkan ramalan dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (United States Department of Agriculture—USDA), produksi beras Indonesia tahun ini akan mencapai 34,6 juta ton.
“Kalau kita lihat ramalan atau perhitungan dari teman-teman dari USDA itu bahwa Indonesia tahun 2025 ini akan memproduksi sekitar 34,6 juta ton beras. Artinya sudah lebih dari kebutuhan nasional kita yang hanya 31 juta ton. Nah kemarin (tahun lalu) pas-pasan, enggak ada untuk stok. Tapi kami berkeyakinan ini lebih dari yang ini (jumlah produksi beras),” kata Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian Sam Herodian dalam Cutting Edge For Local Sustainability, di Hotel Shangri La, Jakarta, Kamis (8/5/2025).
“Sekarang kita sudah ada irigasi yang bersatu dengan PU dan seterusnya, meningkatkan kompanisasi. Jadi harusnya bisa lebih dari ini. Kami optimis ya. Gudang bulog pun cukup penuh,” lanjutnya.
Ia menyebut, saat ini stok cadangan beras Indonesia telah mencapai 3,5 juta ton. Seiring dengan kenaikan produksi, stok cadangan beras dalam dua minggu ke depan akan mencapai 4 juta ton. (fan, bbs)

