
SAMPANG, (Global-News.co.id) – Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi pelayanan pasar Kabupaten Sampang sampai dengan Agustus 2026 mencapai Rp 2.433.509.500.
Capaian tersebut setara 54,89% dari potensi riil yang aktif sebesar Rp 4.433.544.000. Namun jika dihitung dari target APBD Bidang Pasar sebesar Rp 5.950.000.000, realisasinya baru 40,90%.
Dari target Rp 5,95 miliar tersebut, potensi riil yang aktif hanya Rp 4,43 miliar yang tersebar di 28 pasar. Selisih Rp 1.516.456.000 merupakan pelataran, kios dan los yang mangkrak/tidak aktif.
Potensi aktif Rp 4,43 miliar itu tersebar di 28 pasar dengan rincian potensi terbesar hingga terkecil sesuai data Diskopindag Sampang.
Plt Kepala Diskopindag Sampang, Syamsul Bahri, S.Si., M.M., melalui Kabid Pengelolaan Pasar, Ach. Subaeri, membenarkan data tersebut.
“Target di APBD memang Rp 5,95 miliar. Tapi potensi riil berdasarkan data aktif di lapangan hanya Rp 4,43 miliar. Data ini sudah kami petakan, mana yang aktif dan mana yang tidak aktif. Banyak kios dan los yang mangkrak. Jadi biar tidak ketahuan Rp 5,95 miliar-nya saja, tapi ketahuan bahwa yang aktif hanya Rp 4,43 miliar,” ujar Subaeri kepada Global-News.co.id Selasa (29/9/2026).
Realisasi s/d Agustus Baru Rp 2,43 Miliar
Berdasarkan dokumen Rekap PAD Per Pasar s/d Agustus 2026, pada bulan Agustus saja penerimaan sebesar Rp 313.128.000 yang terdiri dari Pelataran Rp 102.165.000, Los Rp 97.366.000, dan Kios Rp 113.597.000.
Dengan sisa waktu 4 bulan (September-Desember), Diskopindag harus mengejar kekurangan sekitar Rp 3,51 miliar dari target APBD, atau sekitar Rp 2 miliar lagi untuk mencapai 100% target potensi riil Rp 4,43 miliar.
Adapun kinerja per pasar s/d Agustus, tertinggi secara persentase:
1. Pasar Tanjung: 62,38% (Rp 10.226.000)
2. Pasar Rongtengah: 62,33% (Rp 66.648.000)
3. Pasar Camplong: 60,19% (Rp 70.110.000)
Sedangkan terendah:
1. Pasar Margalelah: 17,23% (Rp 9.288.000)
2. Pasar Hewan Omben: 31,44% (Rp 10.627.000)
3. Pasar Srimangunan Kota: 35,33% (Rp 628.466.000 dari target Rp 1,77 Miliar)
Pasar Srimangunan yang menjadi penyumbang terbesar justru menjadi sorotan karena masih rendahnya capaian, padahal potensi aktifnya sendiri mencapai Rp 1,26 miliar.
Rincian Potensi Aktif 28 Pasar Tahun 2026 (Total Rp 4.433.544.000):
1. Srimangunan: Rp 1.260.624.000
2. Omben: Rp 352.152.000
3. Hewan Aengsareh: Rp 307.800.000
4. Lebak: Rp 285.432.000
5. Banyuates: Rp 212.880.000
6. Hewan Ketapang: Rp 187.776.000
7. Kedungdung: Rp 182.424.000
8. Tamberu: Rp 176.736.000
9. Karang Penang: Rp 151.728.000
10. Pangarengan: Rp 149.400.000
11. Sore Baru: Rp 144.360.000
12. Torjun: Rp 134.256.000
13. Tambelangan: Rp 114.096.000
14. Camplong: Rp 110.592.000
15. Batu Rasang: Rp 104.256.000
16. Lempong: Rp 98.088.000
17. Rongtengah: Rp 87.312.000
18. Batu Lenger: Rp 76.416.000
19. Sreseh: Rp 74.808.000
20. Jelgung: Rp 61.200.000
21. Juklanteng: Rp 57.288.000
22. Hewan Omben: Rp 29.592.000
23. Bringkonging: Rp 24.768.000
24. Krampon: Rp 21.024.000
25. Pangelen: Rp 14.784.000
26. Tanjung: Rp 11.832.000
27. Tana Pote: Rp 1.920.000
28. Anyar Margalela: Rp 0 (tidak aktif/mangkrak total)
Faktor COD dan 4 Langkah Kabid Pasar
Subaeri mengakui sepinya pasar tradisional juga dipengaruhi maraknya transaksi Cash On Delivery (COD) dan belanja online.
Untuk menggenjot sisa target, ia menyiapkan 4 langkah:
1. Mendata ulang pelataran, los dan kios pasar yang mangkrak.
2. Pendampingan dari kantor untuk penarikan retribusi langsung di lapangan.
3. Memantau kepala pasar terkait setorannya setiap hari dan setiap minggu.
4. Setiap bulan rekonsiliasi mengenai setoran dan dorong pembayaran QRIS.
“Kami optimistis potensi riil Rp 4,43 miliar itu bisa tercapai 100 persen hingga akhir tahun dengan monitoring harian dan rekonsiliasi bulanan. Soal target APBD Rp 5,95 miliar akan jadi bahan evaluasi agar tahun depan lebih realistis,” pungkasnya. (Sof)
Penulis: Moh. Sofyan Hadi
Editor: Gas

