
SURABAYA (Global-News.co.id) –
Mulai 2026 seluruh tim pendamping keluarga akan dilibatkan dalam pendistribusian/mendeliveri makanan bergizi gratis (MBG). Pelibatan itu dalam konteks penanganan stunting dengan sasaran B3 (Bumil/ibu hamil, Busui/ibu menyusui, dan Balita Non PAUD).
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Provinsi Jawa TimurJatim, Sukamto, mengatakan, program tersebut sebetulnya sudah diluncurkan pada 2025, tapi belum maksimal.
“Tim kader pendamping keluarga dan para penyuluh KB adalah garda terdepan dalam upaya mewujudkan visi pemerintah yaitu mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujarnya dalam Media Gathering Stronger Together bertema “Bangun Sinergi Tumbuhkan Energi bersama Insan Media Keluarga Berencana di Mojokerto, Kamis (27/11/2025).
Lebih lanjut Sukamto mengatakan, seiring adanya perubahan struktur kelembagaan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, membuat cakupan kerja lebih luas, tidak hanya sebatas kependudukan dan KB, tetapi juga peningkatan kualitas keluarga secara menyeluruh. “Dan sesuai misi yang diemban, BKKBN ini membangun dari desa,” ujarnya.
Perubahan status tersebut membawa berbagai penyesuaian kebijakan. Salah satunya, hadirnya program Quick Win yang menjadi prioritas nasional dan wajib didukung seluruh perwakilan daerah termasuk Jawa Timur.
Program Quick Win untuk percepatan penanganan stunting yang mencakup berbagai kegiatan yaitu GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia), GENTING (Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting, TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak), SIDAYA (lansia berdaya), hingga aplikasi Super Apps untuk akses informasi dan konsultasi keluarga.
Media gathering yang berlangsung Kamis-Jumat dimaksudkan untuk
memperkuat sinergi antara Kemendukbangga/BKKBN Jatim dengan insan pers dalam mendukung publikasi program-program strategis pemerintah, khususnya terkait percepatan penurunan stunting dan penguatan keluarga.
Sukamto menyampaikan kolaborasi tidak hanya berhenti pada kegiatan gathering, tetapi akan terus dikembangkan melalui beragam program ke depan.
“Ke depan akan ada banyak program yang membutuhkan dukungan media untuk publikasinya, sehingga masyarakat dapat memahami pentingnya mencegah stunting sejak dini,” ujarnya. (ret)

